JATIM ADVENTURE PART I [Kepergian Sahabat Baru]


before we start our journey, here’s some picture in JATIM ADVENTURE PART I

Before we go to trainstation
our jeep

Jafar and Fiko in Ranu Regulo
narcism

in bromo valley

Prolog


“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”

“Hehehehehe, lagi lagi….lebih keras! Biar orang-orang yang dibawah sana denger” Aku berkata pada sosok lelaki yang berada di sampingku.

Lelaki itu menghela nafas. Berusaha mengumpulkan setiap bulir-bulir Oksigen yang ada di udara ke dalam paru-parunya, dan kemudian berteriak lebih keras dari sebelumnya

“OAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Suaranya melengking berat di lereng Gunung Arjuna. Menggema berulang-ulang di udara yang menyengat siang itu. Tak lama gemanya hilang, tertelan gumpalan awan yang membentuk lautan tak bertepi. Aku terkekeh melihat tingkah sahabat-sahabatku ini. beberapa dari kami hanya diam tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum dan tak henti-hentinya mengagumi segala hal yang kami lihat disini. Mencoba mencerna bagaimana caranya Tuhan Yang Maha Esa, menciptakan pemandangan alam yang tiada kunjung jua kami ketahui jawabannya.

Aku bersama beberapa sahabatku yang berada di rombongan akhir pendakian Gunung Arjuna-Welirang sedang menikmati pemandangan yang membius kami untuk berhenti sejenak.Tak terasa kaki kecilku sudah berjalan kurang lebih 4 jam lamanya. Jauh dibawah sana kota-kota kecil terlihat begitu damai, lautan awan membentuk kanopi-kanopi yang dengan baik hatinya memayungi hutan pinus yang berada di bawahnya. Di tebingnya, bunga-bunga abadi Edelweis merekah indah bak taman yang dirawat bidadari-bidadari yang dikirim Tuhan. Jalan setapak yang kami telusuri menjadi semakin memperjelas arah yang kami tuju. Beberapa teman yang lebih dahulu berjalan mungkin sudah menyentuh puncaknya. Tempat yang juga menjadi mimpi kami. Ya, sedikit lagi!

“Dikit lagi puncak nih, jalan lagi yuk!”

Kami bangkit. Kembali melangkah menusuri jalan setapak yang kian meninggi. Tak tahu ada keajaiban apa lagi yang akan kami temui di balik tebing yang curam disana. Aku menoleh ke belakang, masih terlihat pemandangan indah itu, seolah menegaskan padaku bahwa aku tidak bermimpi. Kupandangi jalan setapak dibelakang yang telah kulewati. Perlahan ingatanku ikut terhempas ke hari-hari lalu yang kujalani, yang telah membawaku ke tempat-tempat indah ini….


Sekilas Jatim Adventure

Berawal dari sebuah mimpi dan keinginan mengadakan perjalanan bersama sahabat-sahabat terbaik. 13 anak manusia nekad pergi menaiki kereta ekonomi menuju kota Malang, pada 1 Agustus 2009. Perjalanan yang akan memakan waktu 10 hari itu dinamakan Jatim Adventure. Atas kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak professional, kami, 13 peserta akhirnya dapat meraba mimpi-mimpi itu. Didampingi beberapa pendamping yang telah berbaik hati mewujudkan mimpi ini.Terimakasih Mas Ago, Mas Rahman, Mas Febri, Indra, dan Ahmad, atas semua kemudahan yang diberikan selama perjalanan. Juga untuk Gilang dan Hanandi atas foto-fotonya yang lebih dari indah. Terima kasih pula untuk kawan seperjalanan yang dengan sabar mengikuti dan memaklumi kami yang rata-rata norak dan sama sekali ga punya urat malu. Mba Tri, kapan-kapan kita jalan bareng lagi, ya! Mas Yudas, terimakasih buat fotonya, dan Mas Eric yang ikut serta dalam pendakian Arjuna-Welirang.

The Actor

Perjalanan ini diikuti oleh 13 orang yang semuanya berasal dari suatu komunitas yang sama semasa SMA, Sanditala. 9 orang laki-laki, dan 4 orang kaum hawa. Kesembilan laki-laki itu adalah Rendy, Jimmy, Wanda, Helryan (yang lebih dikenal dengan panggilan Gembel), Ficko, Jafar, Oki, Braska, dan Agung. Sedangkan anak hawa yaitu aku (Sinta), Dini, Karina, dan Lani. Ada banyak sekali sahabat yang kita harapkan dapat ikut serta, namun keterbatasan biaya, waktu, dan faktor-faktor lain, mengakibatkan kami harus merelakan ketidakikut sertaan mereka dalam perjalanan ini. But show must go on. Sabtu, 1 Agustus 2009, kami bertolak meninggalkan Jakarta.

The Destination

Dalam perencanaan perjalanan ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi. Salah satu diantaranya adalah tempat yang pastinya dimimpikan oleh semua pendaki untuk dapat menyentuh puncaknya, Mahameru. Sebuah tempat yang sayangnya tak dapat kami gapai dikarenakan banyak hal. Namun perjalanan tak terhenti disana. Haluan dirubah menuju sebuah tempat yang tak kalah indah, yang nantinya akan mengisahkan banyak cerita tentang suka dan airmata di akhir perjalanan ini, Arjuna-Welirang. Selain itu kami juga akan mengunjungi Ranu Regulo, Bromo, Pananjakan, dan Pulau Sempu.

And Journey will begin…

Stasiun Malang, 2 Agustus 2009

Aku tersenyum melihat beberapa sosok yang seminggu ini menghilang dari peradaban keseharianku. 3 orang sahabat yang telah lebih dulu melakukan pendakian di Gunung Argopuro ada di hadapanku, mereka terlihat sehat dan tak kurang satu apapun. Gembel, Jimmy, dan Gilang harus melanjutkan kembali perjalanan panjang mereka, setelah beberapa hari lalu berhasil menyentuh puncak Rengganis yang ada di Gunung Argopuro.

“Gimana Argopuro?” beberapa sahabat yang baru tiba di kota Malang mulai bertanya tentang pendakian yang mereka lakukan

Namun bukan itu fokus kita. Rombongan kami menunggu kedatangan kendaraan umum yang akan membawa kami ke sebuah desa kecil bernama Tumpang. Dari sana kami akan melanjutkan perjalanan menggunakan jeep. Menjelang siang kami tiba di rumah salah seorang yang menyediakan jasa tersebut. Jeep yang kami tumpangi mulai dipenuhi ransel-ransel besar yang diikat tali-tali tambang. Jelas sudah tujuannya agar ransel-ransel yang berisi keperluan kami selama 10 hari tidak berjatuhan.

Aku melihat salah seorang sahabatku mengelus-elus badan jeep dengan atap terbuka itu. Kasihan mungkin memikirkan nasib jeep yang akan di naiki sekitar 20 orang lebih, ditambah 18 carrier atau ransel besar, dan 1 buah sepeda gunung. Namun kenyataannya jeep berwarna putih itu, akan menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan.

Antara Ranu Pane dan Ranu Regulo

Siang hari aku beserta rombongan tiba di sebuah kawasan wisata air terjun bernama Coban Pelangi. Berkubik-kubik air berjatuhan dari tebing curam yang tingginya lebih dari 10 meter. Indah, awal yang bagus untuk perjalanan kami ini. Tak lama kami berada di tempat ini. Karena hari semakin sore, kami segera beranjak menuju tempat bernama Ranu Regulo.

Ranu dalam bahasa jawa timuran berarti danau. Ranu Regulo, adalah salah satu dari 3 danau yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. 2 yang lainnya adalah Ranu Kumbolo, yang berada pada ketinggian 2400mdpl di jalur pendakian Semeru. Dan yang terakhir adalah Ranu Pane, yang menjadi base camp pertama untuk para pendaki yang akan memulai pendakian menuju Mahameru. Untuk mencapai Ranu Regulo, kita harus melewati Ranu Pane terlebih dahulu, jadi bisa dibilang Ranu Pane dan Ranu Regulo ‘teman dekat’, karena jarak mereka memang tidak berjauhan.

Sore menjelang malam di Ranu Pane tampak sepi. Tak terlihat tenda-tenda pendaki yang biasanya berdiri. Yang ada hanyalah petugas ranger TNBTS, dan mobil-mobil merah dengan tulisan ‘Rescue’ besar di kaca mobil bagian depan. Aku tertegun melihat pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengganjal saat melihat mobil berwarna merah itu datang berjejalan. Namun tak sempat aku mencari tahu yang terjadi, rombonganku sudah harus menuju Ranu Regulo.

Hari itu kami bermalam di tepi Ranu Regulo. Dingin seketika menyergap kami. Aku dan para anggota rombongan perempuan yang lain bertugas memasak makan malam. Menu malam itu?? Ehm, menu pendaki pailit..Mie rebus plus nasi. Tapi demi Tuhan, makanan yang ala kadarnya itu sangatlah lezat, entah kenapa.

Setelah selesai makan dan membereskan tenda, satu persatu rombongan kami masuk kedalam tenda. Mengobrolkan hal-hal yang tidak penting, atau hanya sekedar meledek satu sama lain. Bosan, aku berinisiatif mengajak para wanita untuk bermain sebuah permainan bernama HOSPITAL. Aku dan orang-orang yang ikut bermain dituntut untuk merangkai kata-kata dalam bahasa inggris dari huruf-huruf yang berada di kata HOSPITAL. Akhirnya karena lelah dan kehabisan perbendaharaan kata (karena rata-rata nilai bahasa inggrisnya jelek he, kecuali Mba Tri) kami pergi tidur. Berusaha menyimpan semua hal baru yang terjadi hari ini dan berusaha agar tak terlupakan hingga kapanpun.

Kepergian Sahabat Baru

Pagi itu, aku dan beberapa dari rombongan menyantap sarapan pagi di sebuah warung kecil di tepi Ranu Pane. Menunya ehm, lagi-lagi Mie rebus. setelah menyantap sarapan, beberapa dari kami berjalan- jalan menelusuri jalan aspal yang berujung di sebuah setapak yang menandakan awal jalur pendakian Semeru. Sebuah plang besar yang isinya memperingatkan para pendaki yang akan melakukan pendakian terpampang di tepi jalur. Aku beserta beberapa orang dari rombongan menikmati nostalgia masa lalu saat bersama-sama melewati jalan setapak ini untuk menuju ke Mahameru. Terbersit keinginan nakal untuk sekedar melaluinya lagi beberapa ratus meter, namun buru-buru kutepis pikiran itu. Jadi, kegiatan selanjutnya adalah bernarsis ria. Terlebih disitu ada Gilang (Juru foto handal kami), yang siap dengan kamera SLRnya.

Setelah puas berfoto-foto ditepi jalur, aku beserta rombongan kembali menuju Ranu Pane. Saat ingin kembali menuju camp Ranu Regulo, salah satu sahabatku berkata,

“Sinta udah liat fotonya belum?”

“Foto apa?” aku bertanya heran, tak mengerti tentang apa yang ia maksud

“Foto korban yang hilang di Semeru beberapa hari lalu, yang disiarin juga di TV, namanya Andika, sekarang udah ketemu, tapi udah meninggal. Jenazahnya lagi diperjalanan dari Kalimati menuju ke sini. Mau liat fotonya ga? gw juga belum liat”

Aku mengangguk. Jelas sudah kenapa para pendaki untuk sementara tidak diizinkan mendaki Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Dan jelas juga mengapa terlihat begitu banyak mobil-mobil rescue yang berdatangan ke Ranu Pane pagi ini. Aku dan sahabatku itu, berjalan menuju pos pendakian, yang serupa dengan bangunan rumah tinggal sederhana itu. Di berandanya, berkumpul orang-orang yang mengenakan jaket-jaket tebal bertuliskan ‘Ranger’ di punggungnya. Aku tersenyum kearah mereka yang juga tersenyum padaku. Salah satu dari mereka berjalan ke arah kami berdua kemudian bertanya,

“Temannya Andika ya?”

Aku dan Lani tertegun saling tatap,

“Maksudnya, Pak?” aku bertanya

“Oh, bukan temannya korban ya?” tanyanya lagi, yang disusul gelengan kepala dari kami berdua.

“Mau liat informasinya, Pak. Boleh ga?” tanyaku dan Bapak itu mengangguk mempersilahkan.

Aku dan Lani berjalan menuju papan pengumuman yang lumayan besar yang ditempel di kaca jendelanya. Dari situ terlihat jelas informasi mengenai Andika, yang hilang saat berusaha menuruni puncak Mahameru. Informasi dasar seperti nama, tempat tinggal dll, dugaan kronologi kejadian, area SAR, sampai lokasi dimana ditemukan jasadnya.

Hatiku seperti teriris saat melihat foto Andika terpampang. Kulihat sosok difoto itu yang tersenyum sambil merangkul temannya, mengenakan kaus berwarna kuning bertuliskan DIKLAT SAR. Andika, umurnya tak berbeda jauh denganku, hanya terpaut satu tahun diatasku. Tak dapat kubayangkan bagaimana perasaan orang tua dan para sahabatnya.

“Kok gw jadi…” kalimatku menggantung, tenggorokanku rasanya tercekat. Lani menatapku lama

“Sedih…” lanjutku akhirnya.

“Gw juga…” jawab Lani sambil tersenyum getir.

Cukup lama kami berdua terdiam di depan papan informasi itu. Membaca apapun yang berhubungan dengan kejadian itu. tiba-tiba Lani berkata,

“Tapi pasti dia nyaman deh, disana. Dia kan suka ada di alam, perginya juga ditempat yang dia suka..di alam. Mahameru lagi kan..” ucapnya berusaha menghibur, entah kepada siapa.

“Amin..mudah-mudahan ya,Lan” aku mengamini perkataan sahabatku ini.

Aku menatapi sekali lagi foto yang sedang tersenyum itu. seperti tak ada beban di wajahnya. Andika, dan kuputuskan saat itu juga, ia telah menjadi sahabat baru kami.

Saat Pasir Berbisik di Bromo

Setelah makan siang, rombongan bertolak menuju ke salah satu tempat terindah yang ada dimuka bumi ini, Bromo. Kami kembali menaiki jeep. Kembali berjejalan dan berdesakan di dalamnya. Setelah beberapa lama berlalu, jeep menukik turun menuju lembah Bromo. Di tengah perjalanan Gembel berkata,

“Eh, tadi pada liat fotonya Andika ga? Yang ilang di Semeru?” tanyanya dan kebanyakan dari kami mengangguk termasuk aku. Kemudian Gembel kembali bertanya,

“Coba tebak mirip siapa?” dan kami semua berfikir, sampai sebuah suara menjawabnya.

“Japar!!” jawab Agung setengah berteriak sambil menunjuk ke arah orang yang dimaksud. Semua orang yang berada di atas jeep terkikik.

“Hehehe pinter lo, Gung. Sama-sama pake baju warna kuning lagi..” Puji Gembel. Japar hanya tersenyum diledek seperti itu.

“Jangan pada ngomong aja lo..Liat tuh mantabbbh” Sebuah suara mengalihkan perhatian kami, kami semua menoleh kearah yang dimaksudnya. Dan disana, lembah Bromo menyapa dengan savannanya yang luas, dan bukit-bukitnya seperti sengaja dijatuhkan oleh Yang Maha Kuasa di tempat itu. tersebar di berbagai arah. Dan kami sekarang berada di lembahnya. Seperti berada didasar mangkok hijau raksasa. Jeep meliuk-liuk mengikuti lajur yang ditinggalkan jeep yang terlebih dahulu lewat. Aku ternganga menyaksikan pemandangan yang terhampar di depanku. Setelah meliuk-liuk cepat seperti tak terhalang apapun, jeep putih itu terhenti di tengah savanna. Ternyata sang supir jeep memberi kami kesempatan untuk berfoto-foto di sini. Mendengar pernyataan tersebut, serentak kami berhamburan turun dari atas jeep. Mencoba merasakan rasanya menginjakkan kaki di antara 2 waktu, mengapa demikian? Karena di barat matahari masih terlihat walaupun sinarnya telah redup, dan di arah timur rembulan tegap berdiri menantang matahari. Tak bisa terlukiskan dengan kalimat apapun juga. Ada sesuatu yang menyentil sanubariku, kesadaranku yang tertidur seperti dibangunkan, bahwa Tuhan dapat menciptakan hal sedemikian indah dibumi ini, dan tahukah kau kawan? ini baru sebagian kecil dari keseluruhan keindahan yang ditawarkan Tuhan di alam Bromo.

Walaupun belum puas berada di padang savanna Bromo, kami harus segera bertolak menuju kawah Bromo. Saat itu hampir gelap, namun tak sedikitpun menggentarkan hati kami untuk mencoba meniti satu-satu anak tangga menuju kawah Bromo. Jeep melaju dalam kecepatan penuh, lalu berbelok perlahan ke arah kiri. Dan disanalah, dibalik bukit terakhir, Bromo dan kawahnya menyapa rombongan kami dalam angkuhnya. Dari kawahnya mengepul asap putih pekat yang membumbung tinggi seakan ingin menggapai langit. Hamparan savanna berganti rupa menjadi lautan pasir yang hitam pekat. Jeep terus melaju hingga tiba di tepi pancang-pancang putih yang kokoh tertancap ke dalam pasir-pasir Bromo. Dari sana perjalanan menuju kawahnya dimulai dengan berjalan.

Aku beserta rombongan akhirnya menjejakkan kaki di pasir Bromo. Kuletakkan telapak tanganku di pekat pasirnya. Kubiarkan dinginnya menjalar melalui kulitku. Pasirnya hitam, sepekat malam yang tidak berbintang, kubawa segenggam pasir itu keharibaan telapak tanganku, kubiarkan ia terombang- ambing didalamnya, dan kubiarkan ia terjatuh pasrah menghadap kembali ke bumi. Ia berbisik, berbisik padaku tentang kisah-kisah dari dunia yang hilang.

Aku beserta rombongan, mulai berjalan menelusuri padang pasir Bromo, hanya rombongan kami satu-satunya pengunjung saat itu. Biasanya akan banyak sekali turis asing yang berkunjung ke Bromo pada siang hari, dan banyak pula orang-orang suku asli tengger yang menawarkan jasa berkuda untuk melalui padang pasirnya, yang memang jarak untuk menuju anak tangga pertama tidak bisa dibilang dekat. Namun tidak untuk sore itu.

Menoleh kearah kiri, terlihat sebuah bangunan yang menambah keeksotisan Bromo. Sebuah pura yang lumayan besar berdiri tegak dan kokoh, sekokoh gunung yang ada dibelakangnya. Menjelang magrib, rombongan kami berhasil menjejakkan kakinya di tepi kawah Bromo. Di sebelahnya terdapat Gunung Batok. Berdiri di atas Bromo membuat puncak dari Gunung itu terlihat begitu dekat.

Hari telah malam saat kami akhirnya turun, dan tiba di penginapan. Udara saat itu dingin sekali, baju tebal yang sedari tadi kupakai, seperti tak bisa menahan hantaman udara Bromo. Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama di sebuah rumah makan sederhana. Entah kenapa sesampainya di kota Malang hingga saat ini, Nasi Rawon tiba-tiba menjadi menu favorit kebanyakan orang-orang yang berada dalam rombongan kami.

Setelah makan malam, aktivitas selanjutnya adalah istirahat. Karena dini hari nanti, kami masih akan mencari keajaiban yang tersembunyi di sebuah tempat bernama Pananjakan.

to be continue….

next JATIM ADVENTURE PART II [Hujan Bintang di Pananjakan]

Penulis : Sinta Muliyasari

6 thoughts on “JATIM ADVENTURE PART I [Kepergian Sahabat Baru]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s