JATIM ADVENTURE PART II [Hujan Bintang di Pananjakan]


Here’s some memory in Jatim Adventure part II
in Pananjakan, brrrrrrrrrrrr so cold

Fredom to be free, Wanda in Bromo Valley

Speed Racer

Tengger Caldera in the Morning

Bwaahahaha [ two thumbs up for Mas Ago]

 

Hujan Bintang di Pananjakan

Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Terlalu pagi untuk bangun dan bersiap-siap, tapi tidak bagi rombogan kami. Semakin pagi justru akan semakin baik dan memudahkan perjalanan kami menuju Pananjakan. Pananjakan adalah point of view yang paling indah dan digemari para turis yang mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, karena dari sana kita bisa melihat matahari terbit dan setelah matahari terbit kita akan dengan jelas melihat hamparan rangkaian pegunungan tengger. Mulai dari Gunung Batok, Bromo yang berada di sebelahnya, hingga si pencakar langit Pulau Jawa, Semeru.

Dan tak salah jika dikatakan bahwa Pananjakan adalah tempat yang digemari turis –turis asing yang berkunjung ke TNBTS ( Taman Nasional Bromo – Tengger – Semeru ), ini terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang hendak mengunjungi tempat ini, melebihi wisatawan domestic. Pananjakan dan segala keindahan yang sepertinya tak pernah disadari orang-orang pribumi, justru menjadi sebuah ikon wisata di tempat ini.

Perjalanan menuju tempat ini dimulai pukkul 03.00 dini hari. Tetap menggunakan jeep putih yang tidak pernah terlihat lelah, kami kembali mengarungi hamparan pasir Bromo. Padangnya hitam berkilat-kilat. Ada perasaan berbeda saat melaluinya dibandingkan kemarin saat kami baru tiba disini. Kawahnya tetap mengepulkan asap putih yang tetap terlihat walaupun matahari belum muncul hari itu. setelah melewati hamparan pasir Bromo. Jeep menanjak menuju kesebuah lembah. Berkelok-kelok. Di belakangnya bayangan Bromo dan Gn.Batok tetap setia mengikuti. Disana di atas lembah aku melihat banyak sekali titik-titik terang berjalan saling susul menyusul, yang kuketahui setelahnya bahwa itu adalah jeep-jeep yang juga akan menuju Pananjakan. Aku tercenung heran, seindah apakah tempat yang kutuju sekarang? Sehingga membuat orang-orang itu rela bangun dan melakukan perjalanan dini hari dengan udara dingin yang menusuk seperti ini. Perjalanan yang dilakukan dini hari itu, juga bukan tanpa sebab. Para pengendara jeep sengaja melakukan perjalanan sedini mungkin agar bisa dapat lahan parkir yang sesuai. Karena ternyata banyak juga yang harus memarkir jeep-jeep besar mereka berkilo-kilo meter sebelum lokasi, di sepanjang jalan menuju Pananjakan hanya karena berangkat terlalu siang dan tidak kebagian parkir. Sungguh tempat yang luar biasa bukan!

Perjalanan yang sebenarnya jauh itu, terasa begitu cepat. Aku dan rombongan turun dari jeep dan berjalan menuju poin of view. Sepanjang jalan yang lebarnya tidak sampai 10 meter itu, banyak sekali kios-kios kecil yang menjajakan cinderamata khas Bromo dan Pananjakan. Banyak pula orang-orang yang menawarkan jasa sewa jacket. Kulihat mereka mengacungkan jacket-jacket super tebal yang kuyakin akan terasa hangat, karena udara di sini memang brrrhhhhhhhhh, bikin tulang-tulangku ngilu. Mengingat kami sudah terbiasa dengan suhu Jakarta yang memang panas, diserang suhu se-ekstrem ini, aku dan banyak sahabatku dari rombongan kami mengerut kedinginan.

Di titik view terdapat bangku-bangku panjang yang menjulur, membentuk balcon besar ke lembah yang berada di depannya. Disana kami berebut tempat duduk dan hal yang dilakukan selanjutnya adalah menunggu matahari keluar dari peraduannya. Sebuah kegiatan yang sangat menyiksa, karena menunggu adalah kegiatan yang tidak banyak menggunakan anggota tubuh, dan di dalam suhu se-dingin ini, diam adalah pilihan yang kurang menguntungkan dan menghangatkan tentunya, kawan. Beruntung Indra, salah satu senior kami memasak air panas, menyeduh kopi dan teh untuk mengurangi hawa dingin yang menyergap. Ia juga memberi kami biscuit yang langsung kulahap begitu sahabat disebelahku menyodorkannya. Kuoper biscuit dan teh seduhan Indra itu pada sahabat di sebelahku, ia mengoper pada orang disebelahnya, lalu disebelahnya, disebelahnya, yak pindah ke bagian belakang, terus, terus sebelahnya,ah kawan, biscuit itu kembali padaku. Manis. Tapi mana teh-nya? Akh, itu dia! air didalamnya membiaskan isinya tinggal sepertiga, dan teh hangat itu masih berada di tangan seorang yang menjelma menjadi musafir yang tidak minum 3 hari. Dia menegak tandas teh panas yang kudambakan itu. Dan tanpa bersalah pada semua sahabatnya, masih dapat kudengar ia mengeluarkan suara

“Ahhhhh…Angettttttnyaaaaaaaaaa”

Coba tebak siapa itu kawan? Yah biarlah jadi rahasia…

Masih dengan biscuit yang tak habis-habis karena ukurannya memang besar, ritual oper-mengoper biscuit masih berjalan. Terus seperti itu sampai biscuit itu habis dan yang kami lakukan adalah menatap langit yang penuh dengan bintang. Dari timur ke barat bintang, dari utara ke selatan bintang. Bintang, bintang, ah bintang. Hanya ada bintang di langit Pananjakan.

Aku diam. Mencoba iseng menghitung bintang-bintang yang seakan berjejalan, berebut ingin menunjukkan dirinya padaku pagi buta itu. satu, dua, tiga, lima, sepuluh, lima belas, sepuluh, eh berapa tadi ya? Yah biarlah, biar begitu. Terus kuhitung, sampai sebuah suara membuyarkan kalkulasi bintang gemintangku. Bintang-bintangku terpental-pental tak karuan, gugusannya terputus oleh teriakan sebuah suara yang cenderung cempreng dan tak bersoneta sama sekali.

“EH!!!EH!! BINTANG JATUH!!” Lani berteriak.

“LIAT GA?LIAT GA?” kawan,sekarang kalian tahu kan, betapa norak dan udiknya orang-orang itu termasuk aku tentunya.

“SINTA LIAT GA? LIAT GA? TADI DISANA! GW JUGA GA SENGAJA LIATNYA” lani bersemangat. Aku berasumsi suaranya pasti mampu membuat bule-bule disana menengok dan mengucapkan sebuah kata.

“Crazy.”

Namun kawan, ternyata aku tak lebih norak dan udik ketimbang Lani, suaraku melengking putus asa, dan iri karena tak melihat kejadian yang dilihat oleh sahabatku itu.

“MANA?MANA? KOK LU GA BILANG-BILANG GW SIH! GW KAN JUGA PENGEN LIAT..”

“TADI DISITU COBA-COBA KITA LIATIN AJA SIAPA TAU ADA LAGI” ucap Lani, dan para wanita dirombonganku tiba-tiba histeris saat menengadahkan wajahnya.

“EH ITU TUH…ADA LAGI! YES GW LIAT” Karin berteriak disusul anggukan dari Dini.

“ITU ADA LAGI SIN! KARIN LIAT GA?” Lani berujar disusul anggukan dari Dini dan Karin.

Aku menengadah. Bola mataku berputar-putar menatap langit. Berusaha menangkap setiap gerakan sekecil apapun.Karin dan dini sudah lihat, Lani dua kali malah. Atas dasar gengsi dan ga mau kalah, aku bertekad akan mencari bintang jatuhku. Dan keinginanku terkabul. Tepat diatas kepalaku sebuah bintang bergerak ke arah timur, ekornya putih terulur panjang, dan bintang itu lenyap dibatas horizon. Aku dan beberapa orang dari rombongan berteriak kegirangan.

“ITU DIA BINTANG JATUH!!!!” ada pula yang berteriak.

“WOW!!!!” sebagian berujar,

“DASHYAT!!!!” yang lain berkata,

“SUBHANALLAH!!!!”

Dan bule disekeliling kami bergumam

“Freak.”

Bule Perancis..cantik!!

Perang bintang usai. Bukan, bukan! Bukan karena kami capek atau lelah berteriak-teriak. Tapi langit mulai cerah. Bintang-bintang itu lalu mengucapkan perpisahan pada kami dan tersapu matahari yang mulai muncul di ufuk timur. Sang Matahari yang baik hati dan pemurah. Ia sepertinya tahu betul bahwa kami semua kedinginan dari pukul 03.00 dini hari tadi, maka dikirimlah kehangatannya pada kami. Aku dan rombongan berdiri di atas kursi panjang yang sedari tadi kami duduki. Saat aku menoleh kebelakang, aku tercengang melihat begitu banyak anak manusia yang berada disana. Semua sibuk. Ada yang membawa kamera, kamera video, atau hanya sekedar melihat-lihat pemandangan langka ini. dan yang lebih membuatku tercengang adalah bahwa sebagian dari mereka adalah wisatawan asing. Memang ada juga beberapa wisatawan domestic, tapi dapat kupastikan jumlah mereka tak lebih dari setengahnya. Disini, di Pananjakan. Aku merasa menjadi si minoritas di negeri tempatku dilahirkan.

***

Aku dan beberapa sahabatku memisahkan diri dari rombongan. Kami sudah puas melihat matahari terbit. Dan yang sedang kami incar adalah pemandangan menakjubkan yang hanya bisa didapatkan disini. Aku berjalan ke arah kanan balcon. Menelusup kesela-sela manusia-manusia kaukasia yang tingginya jauh melebihi orang-orang pribumiku.

“Mau kemana sih, Jim?” tanyaku bingung pada Jimmy

“Udah ikutin aja” jawabnya cuek

Dan sampailah aku di sebuah tempat yang tidak terlalu penuh dengan wisatawan-wisatawan yang berlalu-lalang. Diujung balcon yang menjorong ke lembah itu, aku dan sahabat-sahabatku menuruni selapak tanah. Tak ada penghalang dipinggiran tebingnya. Tidak seperti balcon tempat kami duduk-duduk tadi yang memang dirancang sedemikian rupa. Namun disini, aku menemukan pemandangan yang……….Emhh, aduh bagaimana ya caranya aku menjelaskan padamu? kawan. Yang jelas pemandangan seperti itu adalah pemandangan yang takkan pernah bisa aku lupakan. Mungkin itu cukup menggambarkan betapa indahnya sesuatu yang kulihat.

Di tepi tebing itu, rangkaian pegunungan tengger menjelma layaknya manusia yang menggeliat bangun dipagi hari. Bromo menguapkan asap putihnya. Dibiarkan asapnya mengepul-ngepul meninggalkan bercak-bercak putih dilangit yang pagi itu cerah. Biru, kawan. Disampingnya Gn.Batok memamerkan lengan-lengannya yang hijau seumpama zamrud. Kokoh, seperti tak tersentuh. Dan disana! Ah, berdebar-debar aku menatapnya. Mahameru berdiri dengan angkuhnya. Sinar matahari mengelus sebagian tubuhnya, dan Ia seperti anak kecil yang menggeliat-liat tak ikhlas dibangunkan. Bulir-bulir pasirnya masih dapat kulihat walaupun ia sangat jauh. Ia acuh, dan sepertinya sengaja mengacuhkan semua anak manusia yang kini hanya bisa menatapnya dengan penuh kekaguman. Puncaknya adalah sebuah misteri yang selalu mengundang semua orang bermimpi menginjakkan kakinya disana. Aku terkesima melihatnya. Aku memandanginya lama sebelum berfoto bersama sahabat-sahabatku. Kutatap puncaknya. Tiba-tiba aku teringat Andika.

Mahameru masih diam. Masih angkuh dan acuh tak acuh, walaupun kabut putih nan pekat menyentuh lengan-lengan perkasanya, mencumbu hutan pinusnya, memprovokasinya di pagi yang cerah itu, ia tetap bungkam. Ia berbeda. Ya, kawan. Aku dan beberapa sahabatku dalam rombongan kami pernah sekali menginjakkan kakinya disana. Pernah juga melihatnya dari kejauhan seperti ini. Dan kami merasakan hal yang sama. Ia berbeda. Ia lebih bungkam dari sebelumnya. Kawah jonggring salokanya sama sekali tak mengepulkan asap dari beberapa bulan yang lalu. Kami mengetahui informasi itu dari salah seorang senior dalam rombongan kami. Dan atas dasar kejadian itu pula, kami terpaksa harus membatalkan pendakian kami kesana, karena pihak taman nasional tidak ingin mengambil resiko. Ia terlalu sepi, semeru seperti sedang tertidur tak peduli. Dan aku mendengar Jimmy berkata lirih dengan nada yang sedikit kesal kepada Mahameru di kejauhan,

“Kenapa sih lu?!!” ucapnya seperti menyapa teman yang sudah lama tak ditemuinya.

Setelah puas berfoto-foto aku dan kawan-kawan yang lain kembali ke balcon. Kami berkumpul bersama. Berfoto dan bercanda. Tak jua kulihat berkurang manusia-manusia disana. Aku menyapu pandangan sekeliling mencoba menebak-nebak dari mana asal bule-bule yang datang berjejalan itu.

Matanya sipit, kulitnya langsat, rambutnya hitam, pasti mereka manusia-manusia asia timur yang sering berceletuk “Arigato Gozaimasu!”. Ah, rambutnya pirang, tinggi besar dengan kulit kepucat-pucatan, meraka terlihat sangat efisien, gerakannya cepat, pakaiannya sederhana tak terlihat berlebihan, jelaslah mereka manusia-manusia dari belahan bumi eropa. Mereka punya beragam cara dan bahasa yang berbeda,

Oik..oik..” itulah cara turis belanda menyapa orang-orang di sekitarnya. Tak jarang kudengar sapaan yang berbahasa halus, dan empuk terdengar di telingaku,

Allright, lof” atau “Dear..” adalah suku kata yang biasa digunakan oleh orang-orang britania raya. Ada juga turis asing yang sering bergumam dengan suku kata yang banyak sekali menggunakan huruf s dan k sehingga asing di telingaku, kuduga mereka berasal dari negeri beruang merah yang daratannya hampir separuh dunia, Rusia. Dan disana, aku juga melihat beberapa manusia yang sama sekali tak asing di mataku. Mereka berpencaran, terdesak-desak oleh para raksasa kaukasia yang jauh lebih tinggi ketimbang tubuh mereka. mereka sama sekali tidak efisien, dan sama sepertiku, terlihat sangat kedinginan. Yah, itulah orang-orang pribumi, kawan. Mereka mungkin tidak efisien dan kurang dalam segala hal, tapi satu yang membanggakan, mereka satu-satunya makhluk teramah di Pananjakan ini. Dan keramahan mereka seperti menular pada semua manusia-manusia yang ada disini termasuk pada turis-turis asing itu.

Aku sedang asik mengamati sekeliling. Kulihat 2 orang turis asing wanita tak jauh dari tempat rombonganku berada. Mereka asik mengobrol. Salah satu dari mereka yang berambut gelap berkata dengan kalimat-kalimat yang kutahu adalah bahasa perancis. Aku mengamati mereka. dan sepertinya mereka juga tak luput dari pengamatan salah seorang sahabatku bernama…………………. Braska.

Braska sepertinya benar-benar kepincut salah satu bule perancis itu. Kuamati wajah bule itu dari kejauhan. Memang cantik sih, dan seperti tak bosan melihatnya. Pantas saja para laki-laki dikelompokku seperti kelojotan kena auranya. Cantik. dan tahukah kawan? Apa yang dikatakan Braska pada kami saat kami akhirnya berjalan kembali menuju jeep untuk kembali ke penginapan?

“Anjrittt, cantik banget!!” dikuti sebuah tawa terkekeh. Belum selesai sampai disitu. Ditunggunya bule perancis itu turun. Dan yup itu dia. Berjalan santai dengan temannya. Ya, hanya mereka berdua.

“Samperin yuk..berani ga lu, Bras!??” sebuah tantangan keluar.

“Berani!!” Braska membusungkan dada. Dan apa yang terjadi? Ah, lupakan. Lupakan saja kawan. Tak pernah hal itu terjadi. Braska hanya mampu mendekat tapi tak pernah ditegurnya bule perancis nan semlohai itu. Tapi seolah tak mau menanggung malu, ia mengakui sebuah hal yang muskil.

“Tadi dia senyum ke gue loh!!!!” para sahabatku mengerutkan kening. Berusaha percaya tapi takut berdosa. Braska melihat keragu-raguan di wajah kami, dan ia tak menyerah.

“ Beneran!!! Dia tadi senyum ke gue…bener deh..” Dilematis.

“ BENERAN..!!” kami tersenyum kecut

“ SUMPAH!!! DIA SENYUM KEGUE” dia tetap berusaha

“SUMPAH!!!!!!!!!!!!!”

Pendar Kabut dan Kuda-Kuda Bromo

Kurang lebih pukul 08.00 pagi, kami bertolak kembali menuju penginapan. Lagi-lagi dengan menggunakan jeep yang telah kami ikrarkan sebagai kendaraan tersayang kami selama perjalanan ini. Tapi ternyata jeep putih nan kokoh dan gagah itu harus segera meninggalkan kami. Namun tidak sekarang, nanti kawan, saat kami menuju ke sebuah pulau surga bernama Sempu.

Jeep putih kami kembali melewati lembah-lembah sempit, yang di apit jurang dan tebing. Sepanjang jalan banyak sekali terdapat peringatan bahaya longsor. Aku mengamati tebing-tebing yang tinggi menjulang di samping kiri dan kananku, sesekali terdapat tumbuhan dengan batang-batang yang penuh dengan ranting yang bercabang-cabang. Cabang-cabangnya ditumbuhi daun-daun seperti jarum yang bergerombol membentuk lingkaran di sekelilingnya. Di ujung cabang teratas akan kita jumpai bunga-bunga putih yang berdesak-desakan, berjelajalan ramai, bunga itu bulat-bulat dengan ujung yang berwarna sedikit kuning. Kawan, taukah kau? Itulah Edelweis Anaphalis Javanica. Tumbuhan yang sering dilambangkan sebagai bunga abadi.

Setelah melewati sebuah pertigaan, kami kembali menuruni jalanan berpasir, tanda bahwa kami akan kembali mengarungi padang pasir hitam Bromo. Pendar kabut putih pekat yang tadi kami lihat di ketinggian pananjakan mulai menyergap. Matahari dan kehangatannya tiba-tiba menghilang. Kabut Bromo tak membiarkan kehangatan itu bertahan lama. Tak berlebihan jika kukatakan bahwa dinginnya melebihi Pananjakan. Karena kami sekarang berada di atas jeep yang sedang ngebut, angin lembah Bromo yang menerpa tubuh kami menambah dingin menjadi semakin dingin. Aku mengerut, kedinginan membuat hidungku tak berhenti mengeluarkan cairan. Di sana, di padang pasir Bromo, jeep putih kami tak sendiri. Banyak sekali jeep-jeep lain saling berkejaran. Berkelok-kelok seolah ingin mendahului jeep-jeep lain. Tiba-tiba aku teringat film kartun Speed Racer. Jeep-jeep mendekati Bromo. Dan pemandangan tak biasa kembali menghampiri penglihatan kami. Banyak sekali penunggang kuda yang memacu kuda-kudanya dengan kecepatan luar biasa di samping badan jeep yang masih terus melaju. Penunggang-penunggang itu berebut pengunjung yang mungkin menyewa kuda mereka menuju ke tepi anak tangga Bromo. Ingat kan tentang ceritaku sebelumnya, kawan? bahwa jarak dari tempat parkir jeep menuju ke tepi anak tangga Bromo tidaklah dekat, maka kebanyakan pengunjung akan menyewa kuda-kuda penunggang di Bromo untuk menuju kesana. Namun tidak untuk kami. Jeep kami tidak berhenti di Bromo, melainkan terus melaju karena kami telah mengunjungi Bromo sebelumnya. Aku menoleh kebelakang. Pemandangan Bromo dan kuda-kuda penunggangnya ditambah pendar kabut mengingatkanku pada film kolosal Lord Of The Ring. Mistis…

Next : JATIM ADVENTURE PART III [In The Heaven Island : Sempu]

Penulis : Sinta Muliyasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s