JATIM ADVENTURE PART III [In The Heaven Island : Sempu]


:p 

At Segara Anakan : Sempu

Boat at Teluk Semut 


:))

Anak – anak Alam

Nah, kawan seperti yang telah kujelaskan sebelumnya bahwa waktu perpisahan dengan jeep putih kesayangan kami akan segera tiba. Dan waktu itu adalah siang ini. Setelah pagi tadi, sekembali dari Pananjakan, rombongan segera berkemas-kemas. Dan kawan, percaya atau tidak akhirnya aku bersedia mandi setelah semalam menolak mentah-mentah tawaran untuk mandi. Aku berasumsi bahwa mandi di pagi hari, tidak akan sedingin yang dikatakan oleh Dini, karena ia mandi di malam hari dan pagi ini juga mandi lagi. Tapi aku harus menelan pahit-pahit pil kekecewaan. Mandi pagi di Bromo, ternyata mampu membuat kulit bibirku biru dan pecah-pecah. Dingin bukan main, Kawan.

Setelah berkemas selesai. Perjalanan kami lanjutkan menuju ke titik awal kami bertemu dengan jeep putih kami, Tumpang. Perjalanan kembali ke Tumpang, kami digoda oleh sebuah pemandangan yang saat tiba 2 hari lalu tak kami lihat karena cuaca sedikit mendung. Tapi tidak pagi ini, Puncak Mahameru yang beberapa hari kemarin bersembunyi sekarang terlihat bersih dan jelas. Dia seperti menggoda kami, kurang ajar! Setelah tak diizinkan menapaki jalurnya sekarang ia seperti tersenyum mengejek kami. Aku perhatikan ia dari kejauhan. Dan perasaan itu berubah. Bukan! Mahameru bukan tersenyum mengejek, ia seperti mengucapkan selamat tinggal pada kami. Ia seperti membisikkan sesuatu padaku. Dan kata-kata itu terngiang jelas di telingaku

“Kutunggu kau untuk kembali kesini…” katanya.

***

Perjalanan kembali menuju Tumpang seperti sebuah kegiatan pengamatan. Kami banyak sekali melewati desa-desa dan rumah-rumah penduduk. Dan disana, masih kujumpai wajah-wajah penuh heran dan ingin tahu saat jeep kami melintas di depan pelataran rumah, atau di depan orang- orang tersebut. Dan satu hal lagi yang kutemui di siratan wajah-wajah lugu nan sederhana itu, sebuah ketulusan yang jarang dapat kutemukan diwajah-wajah yang biasa kuamati di kotaku, Jakarta.

Siang menjelang saat kami benar – benar meninggalkan bukit-bukit yang ada di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Rombongan memasuki Desa Tumpang. Langit cerah dan matahari bersinar terik, tetapi sebuah pemandangan menyejukkan hatiku. Pertama-tama kulihat sebuah titik-titik kecil bertebaran di depan jalan yang akan dilalui jeep putihku nan gagah. Titik itu berwarna cerah, secerah hatiku kala itu. semakin jeep putihku melaju, belakangan kutahu titik-titik itu adalah segerombolan anak-anak kecil yang berjalan pulang usai jam sekolah. Mereka tertawa. Riang dan tanpa beban. Bergerak dan berjingkrat-jingkrat, sepertinya bahagia tiada tara. Dan kebahagiaan itu mereka tularkan pada rombonganku yang kala itu melintas di samping mereka. Mereka berteriak, melambai-lambaikan tangan kecil mereka kearah kami, berlari-lari mengejar jeep yang tak bisa mereka kejar. Mereka symbol ketulusan dan kepolosan bangsa ini. Mereka adalah anak-anak pertiwi, mereka adalah anak-anak alam. Aku tersenyum dalam diam. Kubalas lambaian tangan mereka seperti yang juga dilakukan oleh para sahabat di rombonganku. Makin lama lambaian itu makin jauh dan menghilang, namun senyum tulus mereka tetap ikut bersama kami sampai kapanpun.

In The Heaven Island: Sempu

Dengan berat hati, kuumumkan perpisahan kami dengan jeep putih kesayangan telah berlangsung. Setelah berkemas, untuk keperluan kami menuju Pulau Sempu. Kami bergegas menaiki kendaraan baru yang akan mengantar kami untuk beberapa hari kedepan. Ah! apa ya, sebutan yang tepat untuk kendaraan baru kami? Dia tinggi besar, kuduga ia berwarna kuning, tetapi usia memaksa cat-cat berwarna mentereng di sekujur tubuhnya terkelupas di beberapa bagian. Sehingga ia seperti orang tua yang kena panu. cat-cat yang terkelupas itu menunjukkan bahwa ia adalah kendaraan yang pekerja keras, kuduga sebagai pengangkut pasir atau ternak sapi. Jadi kuputuskan untuk memanggilnya sebagai ‘Si truk pasir tua yang pekerja keras’. Apa? Apakah panggilan itu terlalu panjang, Kawan? baiklah kalau begitu aku akan memanggilnya dengan sebutan ‘Si truk dengan cat kuning terkelupas’. Hah? Masihkah itu terlalu panjang? Oke aku hanya akan menyebutnya dengan ‘Si Truk tua’, elok bukan panggilan itu?!

***

Si Truk tua siang itu mengantarkan kami menuju ke sebuah pesisir yang dikenal dengan sebutan, Sendang Biru. Sendang dalam bahasa jawa berarti laut. Jadi dapat kusimpulkan bahwa Sendang Biru berarti sebuah pesisir yang memiliki laut yang airnya biru. Dan memang benar, Kawan. biru bukan buatan. Indah tak terkatakan. Namun ternyata keindahan Sendang biru tak mampu menandingi primadona pesisir di selatan Jawa Timur: Sempu.

Sempu adalah sebuah gugusan pulau yang ada di sekitar Sendang Biru. Untuk mencapainya, pertama-tama kita harus menaiki perahu nelayan untuk menyeberang ke Teluk Semut. Sesampainya di Teluk Semut, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih 3 jam menuju ke sebuah pantai berpasir putih nan indah, eksotis, surga bagi para orang-orang yang mengaku traveler sejati, tempat itu bernama Segara Anak.

Kami tiba di Teluk Semut saat matahari tinggal sepenggalah dan menuju keperaduaannya. Setelah berdoa perjalanan menuju segara anak, dimulai. Dengan penerangan senter seadanya, aku dan rombongan menerabas hutan hujan Cagar Alam Pulau Sempu malam itu. Saat istirahat beberapa menit setelah 1 jam berjalan, baru kutahu bahwa tumbuhan yang tumbuh di hutan yang ada disini, akar-akarnya bukan tertancap di tanah, melainkan di karang-karang. Unik. Setelah kurang lebih beberapa jam berjalan. Sayup-sayup kudengar suara ombak memecah pantai. Kulayangkan pandangku. Kerlap-kerlip cahaya samar di bawah tebing disamping membuatku penasaran. Kubungkukkan badan, berusaha menangkap pemandangan yang terhampar dibawahku. Lama kuamati, hatiku terlonjak gembira saat kutahu itu adalah bias laut. Ya,laut Kawan. Rembulan separuh kala itu. Dan cahayanya terpantul berkilat-kilat di permukaan air Segara Anak. Aku percepat langkahku, kuturuni tebing yang tidak terlalu curam untuk menuju ke tepi pantainya, Lani didepanku sudah terlebih dulu berada di bawah. Dan Hup! Sampailah aku di Segara anak. Kulayangkan pandangku. Akhirnya impianku dan para sahabat menginjakkan kaki di Pulau Sempu terwujud malam itu. kulayangkan pandangku berkeliling, kudengar ombak menderu-deru di kejauhan, terpecah oleh karang-karang yang kokoh, seperti mengucapkan selamat datang pada kami.

***

Pantai di segara anak bukanlah sembarang pantai wahai Kawanku. Apakah kalian pernah menonton film Beach yang dibintangi Leonardo dicaprio? Seperti itulah Segara Anak, bahkan aku berani jamin dia lebih indah dari Pantai Phuket di Thailand yang menjadi latarbelakang film tersebut. Tak jauh dari garis pantai, karang-karang besar sambung menyambung mengelilinginya. Karang –karang itu seperti sengaja mengisolir Segara Anak dari deras dan ganasnya Samudra Hindia. Ya kawan, Samudra Hindia. Saat pagi tiba, cobalah untuk sedikit mendaki bukit- bukit karang yang ada disana, maka terhamparlah samudra biru itu sampai ke kaki langit. Ombaknya menderu-deru ganas tak kenal ampun, airnya sedingin salju bulan Desember di Eropa. Percayalah, hanya satu kata yang mampu melukiskan semua hal yang terjadi dan berada di Segara Anak, Subhanallah.

Namun, berbeda dengan ganas dan dinginnya Samudra Hindia, pantai Segara Anak begitu tenang dan bersahabat. Deru ombak samudra Hindia terbendung dengan adanya karang-karang di sekeliling pantai yang mengisolir pantai berpasir putih itu. Satu hal lagi yang menjadi daya tarik tiada duanya di segara anak, di ujung karang sebelah kiri, kalian akan melihat lekukan seperti gua, tetapi jangan salah! itu bukanlah sebuah gua, melainkan celah karang sempit yang terhubung langsung dengan samudra hindia yang tadi kuceritakan, Kawan. dari celah itulah ombak samudra hindia menelusup, mengendap-endap, mencoba mencuri-curi kesempatan menjadi penghuni segara anak yang cantik. Indah bukan buatan.

***

Rombongan kami tiba di tepi segara anak saat matahari benar-benar tenggelam dan malam telah benar-benar menunjukan dirinya. Segeralah raga kami bergerak cepat membangun tenda-tenda, tempat peraduan kami untuk malam ini. Tenda telah berdiri dan makan malam telah siap. Ombak dan bulan yang tinggal setengah masih juga tak mau beranjak dari sisi langit segara anak. Apa? kau ingin tahu menu makan malam kami, Kawan? Coba tebak? Yup! Tak lain tak bukan, mie rebus.

Aku sempat khawatir kalau-kalau usus kami semua jadi keriting karena kebanyakan makan mie rebus. tapi apa mau dikata. Kami bukan backpacker ulung dalam soal menyiapkan bahan untuk masak-memasak. Tak seperti senior-senior kami yang telah mahir soal memanjakan diri dengan makanan, kami adalah generasi serba sederhana, serba praktis, tak mau repot, dan satu lagi, Ehem! Serba kurang. Mulai dari kurang uang dan kurang gizi, hehe. Tapi biarlah, biar seperti itu. Biar serba kurang, ada satu hal yang mungkin tidak disadari oleh sebagian orang, dan itu sangat kubanggakan. Aku berani bertaruh bahwa kami adalah generasi serba seeeeeetia……Kawan.

Perubahan Rencana

Kalau ada malam paling membuat gundah sepanjang perjalanan, malam inilah jawabannya. Tak berlebihan kalau pada malam ini, entah kenapa, raga jiwa kami seperti terserang suatu penyakit bernama “Pesimistis”. Kesepakatan yang telah kami rencanakan pra keberangkatan mengenai jalur pendakian Arjuna-Welirang, seperti mengganggu pikiran beberapa dari kami. Termasuk aku.

Mari kuceritakan sedikit, kawan. Arjuna-Welirang memiliki beberapa jalur pendakian. Beberapa yang sering digunakan oleh para pendaki adalah jalur Tretes dan Kaliandra. Pra-perjalanan, rombongan kami sepakat untuk menyetujui penggunaan jalur yang tidak banyak digunakan oleh pendaki kebanyakan. Maaf ya, aku lupa nama jalurnya. Yang jelas, jalur itu dapat langsung menuju puncak Arjuna dengan sekali jalan tanpa harus bermalam terlebih dahulu.

Yang menjadi masalah adalah, rombongan kami mulai merasakan dampak dan efek diterpa cuaca berbeda dalam waktu yang singkat. Kurang dari setengah hari yang lalu, kami berada di lembah-lembah tengger dengan suhu drop hingga minus, dan sekarang kami berada di pinggir pantai dengan suhu terik disiang harinya. Pendek kata, kami sudah cukup letih dengan perjalanan sebelumnya. Dan masalah yang lain datang dari waktu pendakian. Jalur yang telah sepakat kami gunakan, menuntut kami untuk lebih siap fisik dan mental karena kemungkinan besar untuk melakukan perjalanan pada malam hari adalah mutlak.

Bagiku, berjalan dimalam hari bukanlah perkara. Aku masih bisa bertaruh secara mental aku bisa menghadapi situasi seperti itu, mengingat dibeberapa pendakian sebelumnya, aku pernah mengalami berjalan dimalam hari. Namun, untuk sebagian sahabatku, khususnya perempuan dan baru pertama kalli melakukan pendakian mungkin sedikit banyak merisaukan. Itupun aku alami saat aku melakukan pendakian pertamaku.

Hal inilah yang menimbulkan perdebatan panjang malam itu. beberapa dari kami tetap pada keputusan awal, namun beberapa dari kami ingin pendakian ini dialihkan menggunakan jalur yang biasa digunakan oleh pendaki lain, Tretes.

Bagiku pribadi, lebih baik aku dianggap tidak konsisten atas apa yang sudah kuputuskan, daripada aku mengorbankan teman seperjalananku. Pepatah lama mengatakan “Terserah apa kata orang”. Aku melakukan perjalanan ini dengan espektasi bahwa kami semua (Kecuali senior-senior) harus sampai pada semua tujuan perjalanan. Mulai dari Ranu Regulo, Bromo, Pananjakan, Sempu, sampai Arjuna- Welirang. Dan kemungkinan beberapa dari kami tidak akan ikut serta jika kami tetap ngotot mendaki dari jalur awal sangat besar. Atas pertimbangan itu, aku berpendapat jalur pendakian kami kali ini harus dirubah. Dan dengan sedikit konflik, tujuan kami tercapai.

“Padahal anjingnya lucu, loh Din!”

Malam yang menegangkan itu ditutup dengan sebuah keputusan. Kami akan melanjutkan pendakian melalui jalur Tretes. Aku bernafas lega. Sebelum keputusan itu di buat Jafar dan Karin sempat berkata akan tinggal saja di Malang, dan tidak ikut mendaki Arjuna-Welirang. Tapi demi Tuhan, aku dan para sahabat akhirnya mampu membujuk dan berjanji akan membantunya dalam kesulitan apapun. Walaupun akan ada hal yang tidak terduga nantinya tentang Karin dan Jafar.

***

Malam hilang, pagi menjelang. Bulan tenggelam saat sinar surya menggeliat di timur segara anak. Aku keluar tenda saat matahari belum sepenuhnya muncul. Tidak gelap tapi belum juga terang. Kulihat peralatan masak yang kotor bekas semalam. Karin menggeliat bangun dan aku keluar. Menghirup udara pagi dengan hamparan birunya laut segara anakan. Aku berjingkat-jingkat girang ditepi pantainya. Kubiarkan ombak-ombak kecil menyentuh kaki-kakiku manja.Kulihat lelaki yang kuduga bagian dari rombongan yang juga bermalam di tepi segara anak. Hanya ada 3 rombongan kala itu termasuk rombonganku. Dan salah satu rombongan itu membawa orang asing. Yah, lagi-lagi ketemu bule. Kuperhatikan lelaki itu dari kejauhan. Ah, ternyata dia sedang mencuci peralatan makan yang kotor di tepi segara anak. Aku langsung teringat peralatan masak kotor yang tadi kulihat. Dengan kaki penuh dengan pasir, aku kembali menuju ke tenda, Karin telah terjaga saat aku menelusup ke depan tenda. Mencari-cari peralatan kotor yang juga akan kucuci disegara anak. Tepat saat itu, Karin ikut serta bersamaku keluar tenda juga dengan Mba Tri. Di tepian pantai, aku bermain kecipak air Segara anak sambil mencuci peralatan masak rombongan kami, tanpa sabun tentunya, karena itu di larang. Ombak samudera hindia memaksa masuk segara anak lewat celah sempit yang ada tak jauh dari bibir pantai. Deru ombaknya keras. Menimbulkan bunyi riuh yang tak terperi. Dan kuakui deru itu membuat pagi di Segara anak semakin menakjubkan.

***

Aku saat ini sedang terguncang-guncang di dalam sebuah kendaraan yang kusebut sebagai “Si Truk Tua”. Ingat kan? Ya kawan, truk yang mengantarkanku dan rombongan menuju ke Sendang Biru. Aku baru saja keluar dari areal hutan hujan pulau Sempu, dan dalam perjalanan menuju ke titik awal pendakian Arjuna Welirang. Menuju Tretes. Aku melamun, memikirkan kejadian demi kejadian yang mengantarkanku sampai pada siang ini. di atas truk yang berjalan ini.

Setelah selesai melakukan operasi semut di sekitar pulau Sempu, aku dan rombonganku dihadapkan pada dua pilihan yang mudah sekali untuk memilihnya. Mencoba berenang, atau tidak berenang sama sekali. dan aku memilih untuk berenang. Sebuah keputusan yang tidak kusesali. Kapan lagi berenang di pantai berpasir putih dengan pemandangan layaknya di surga. Aku berenang, merasakan air laut sempu yang sebenarnya ombak-ombak Samudra Hindia. aku tak peduli badan nanti jadi gatal-gatal, karena tak ada air tawar untuk membilas tubuh sehabis berenang. Biarlah! Biarkan aku merasakan matahari membakar kulitku, biarkan aku merasakan asinnya ombak samudra hindia. disini! Ya hanya di Sempu aku bisa mendapatkan itu.

Setelah sesi berenang selesai. Tiba-tiba semua orang berubah bak model professional dengan Mas Ago sebagai pengarah gayanya. Walhasil jepretan senior kami ini memang tiada bandingnya. Foto kami yang sedang berloncatan seperti anak kecil, sampai sekarang masih menjadi salah satu foto favoritku.

Selesai berkemas, kami (dengan sangat terpaksa) harus meninggalkan pulau kecil yang indah ini. lalu kembali menyeberang menggunakan kapal nelayan untuk tiba di Sendang Biru agar dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Tretes. Setelah berleha-leha sejenak di Sendang Biru, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Tretes dengan “Si Truk Tua”. Dan disinilah aku sekarang terguncang-guncang di atas truk yang sekarang dihuni rombongan baru dan di tinggalkan beberapa rombongan lama. Ya, kawan, disini kami harus berpisah dengan beberapa teman seperjalanan kami. Mas Ago, Mas Rahman, Mba Tri, dan Mas Yudhas. Tapi kami mendapat teman seperjalanan baru bernama Mas Erik. Untuk Mba Tri dan Mas Yudhas, maaf ya kami cuma bisa ngasih mie rebus terus buat makan, hehehe lain kali kita akan masak enak!!

Ada sebuah kejadian yang tak terduga dalam perjalanan menuju Tretes ini. Alkisah, siang itu rombongan sepakat untuk mencari warung makan buat isi perut yang memang sudah bukan keroncongan lagi tapi dangdutan. Setelah ketemu warung makan sederhana, dan setelah selesai makan, tiba-tiba rombongan dikejutkan oleh suara teriakan perempuan dari arah luar warung makan. Penasaran, aku tengok keluar warung makan. Disana tak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Dini lari pontang-panting. Dibelakangnya setia mengekor anak-anak anjing yang jumlahnya aku lupa,mengejar-ngejar dini yang lari tanpa alas kaki.

Gilang mulai bersuara,

“Eh..Eh..”

Yang lain mulai panik,

“Dini kenapa?”

Dini sudah teriak-teriak histeris diikutin anak anjing yang sebenarnya kalau ditilik lebih jauh lucu loh!

“AAAAAA”

Masih teriak! Sekarang bawa-bawa nama Agung.

“AGUNG, AGUNG, AGUNG!”

Makin histeris

“AGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNG!”

Dan akhirnya..GUSRAK!

“Apaan tuh?”

“Dini dikejar anjing, Dini di kejar anjing!”

Lalu yang kuingat, Gilang memapahnya masuk warung makan sambil menahan tawa. Disebelahnya Dini gemetaran. Sepertinya shock berat. Saat kulihat, kulit di bagian ibu jari kakinya terkelupas. Pasti perih bukan main. Agung dengan sigap mengobati luka terbuka itu. tetap dengan shocknya, dini pasrah lukanya diobati. Lalu yang kudengar setelah itu adalah Braska tiba-tiba datang, dan bicara dengan ekspresi datar tak berdosa

“Padahal anjingnya lucu loh, Din!”

Dini sesenggukan….

NEXT JATIM ADVENTURE PART IV [Malam Pertama di Lereng Arjuno -Welirang]

Penulis : Sinta Muliyasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s