JATIM ADVENTURE PART IV [Malam Pertama di Lereng Arjuna Welirang]


JATIM ADVENTURE PART IV [ Malam Pertama di Lereng Arjuna Welirang]

picture…picture…

higest

at pet bocor

tracking

back to summit

summit

oki and edellweis

down

Malam Pertama di Lereng Arjuna – Welirang

Sebelum sampai di pos pendaftaran untuk pendaki, kami mampir sebentar di sebuah pasar tradisional untuk membeli beberapa logistik tambahan. Kami sampai saat hari sudah hampir gelap, lalu yang kuingat adalah Dini dan Lani yang tiba-tiba menghilang saat kami sedang packing ulang. Selidik punya selidik, mereka berdua naik ojek ke tukang urut. Karena Dini memutuskan untuk tetap melakukan pendakian walaupun sempat terjatuh, kakinya minimal harus diurut, untuk meminimalisir kemungkinan buruk.

Waktu menunggu itu, kami gunakan untuk kembali packing, kembali memeriksa barang bawaan. Karena perjalanan terakhir inilah, yang kami sadari akan banyak menguras energy fisik dan juga mental, jadi semua harus dipersiapkan baik-baik. Setengah jam, yang ditunggu akhirnya tiba. Lani dan Dini bergabung dengan rombongan. Setelah berdoa dan mengubah rencana perjalanan, kami berangkat menuju pos pertama bernama Pet Bocor.

Tak lama setelah beranjak dari pos pendaftaran,sekitar setengah jam, kami tiba di Pet Bocor. Rencana awal sebenarnya adalah mendaki hingga Pok-Pokan, tetapi karena waktu awal pendakian yang menjelang malam, penjaga di pos pendaftaran menyarankan kami untuk bermalam di Pet Bocor saja, lalu keesokannya langsung menuju ke Pondok Welirang. Untuk lebih amannya, tak ada salahnya kami mengikuti saran penjaga pos tersebut.

Masih sangat jelas diingatanku saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di tempat itu. ada sedikit perdebatan saat itu. Ahmad, senior yang menemani kami untuk pendakian ini, menginginkan untuk kami terus melanjutkan perjalanan hingga pok-pokan, yang berjarak 3 -4 jam perjalanan lagi. Tapi karena saat itu kondisi Karin yang tidak memungkinkan, akhirnya perjalanan malam itu berhenti di Pet Bocor.

Kami mulai camp craft hinggga pukul 9 malam. Sehabis makan dan beres –beres, rombongan yang kelelahan itu pergi tidur. Masih segar dalam ingatanku Karin yang tiba –tiba menangis saat tiba pertama kali di Pet Bocor, aku ga tahu persis ia melihat apa, yang kutahu ada sesuatu yang ganjil disini. Aku sempat dengar kabar burung mengenai Gunung Arjuna –Welirang ini, yang memang banyak hal aneh yang terjadi saat orang hendak mendaki puncak –puncaknya. Tapi aku sama sekali tak menyangka hal aneh itu juga terjadi pada rombongan kami.

Sepanjang malam aku dihantui perasaan takut. Tidurku gelisah dan tak nyenyak, sampai sayup –sayup kudengar suara orang diluar tenda yang sedang membaca ayat –ayat Al-Quran. Aku tertegun. Hantukah? Tapi mana mungkin hanntu bisa baca Al-Quran sefasih itu. kutajamkan pendengaranku. Dan menghela nafas saat menyadari suara itu kukenal. Ya, itu adalah suara sahabat seperjalananku, Oki. Dan tunggu! Suara siapa itu satu lagi? Ah Ahmad, Kawan. itu suara Oki dan Ahmad yang sedang membaca surat Yaasin. Aku baru menyadari bahwa malam itu adalah malam nisfu saban, dan teringat perkataan Oki sebelum tiba di Pet Bocor, bahwa ia ingin mengaji malam ini. Lamat –lamat suara itu menghantarkanku kekedalaman mimpi di tidurku.

Bintang Jatuh di Lembah Bromo

Pagi di Pet Bocor, adalah pagi tersibuk. Semua orang mempersiapkan baik –baik dirinya untuk perjalanan yang memakan waktu sekitar setengah hari, menuju camp ke-2. Camp kedua berada di persimpangan jalur menuju puncak Arjuna dan puncak Welirang. Apa ya, hal unik yang bisa kuceritakan dari tempat itu? oh ya! tempat itu juga dipakai untuk tempat tinggal sementara para penambang belerang yang mengais sedikit rejeki di puncak Welirang. Maka dari itu banyak sekali rumah –rumah sementara para penambang. Rumah –rumah sederhana itu hanya berbentuk segitiga seperti tenda pramuka, hanya terdapat satu ruangan di dalamnya yang digunakan sebagai kamar tidur juga dapur sederhana, tanah menjadi satu –satunya alas di dalam rumah, atap –atapnya terbuat dari rumbia. Pondok –pondok penambang ini berjejalan sepanjang persimpangan jalur Arjuna –Welirang, makanya para pendaki setempat lebih mengenal camp ke -2 ini sebagai Pondok Welirang.

Setelah selesai packing di pagi yang cerah itu, kami semua berkumpul dan berdoa untuk mengawali perjalanan yang tak mudah itu. Aku sungguh –sungguh berdoa dalam hati. Semoga semua orang yang berada dalam rombongan ini dikuatkan jasmaninya, dibajakan mentalnya, direndahkan hatinya, diberi kekuatan untuk menuju semua tujuan bersama –sama.

Aku teringat di awal perjalanan. tepatnya saat melewatkan malam di lembah Bromo. Sebelum heboh melihat bintang jatuh di Pananjakan, sebenarnya aku dan Lani sudah terlebih dulu melihat bintang jatuh itu saat kami sedang berjalan mencari makan malam di warung sekitar penginapan. Aku juga ingat sekali saat Gembel, salah satu kawan seperjalanan bertanya,

“Lu minta permohonan apa?”

Dan dengan penuh harapan Lani berkata

“Semoga kita semua bisa sampai Puncak Arjuna –Welirang, dan pulang kembali dengan selamat”

Aku termasuk orang yang kurang percaya akan adanya permohonan –permohonan lewat bintang jatuh seperti itu, dan lebih sering menggunakan nalar. Kalau mau sukses ya, usaha, seperti itulah aku. Namun, aku orang yang percaya akan adanya keajaiban, dan sekali ini, sekali saja, Tuhan! Aku mohon kabulkan permohonan yang kami dapat dari bintang jatuh di lembah Bromo itu.

Menempuh Separuh Jalan, Bukan Berarti Salah Jalan

Namun, sepertinya Tuhan berkata lain pagi menjelang siang itu. aku dan beberapa sahabat harus menelan lagi pil kekecewaan, saat akhirnya Karina menyerah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju pondok Welirang. Dan jika kami harus kehilangan Karin, maka kami juga bersiap hati untuk merelakan Jafar ikut pergi.

Mungkin sebagian orang beranggapan mereka, atau orang –orang di dalam rombongan yang tidak pernah mendaki sebelumnya, sebagai kargo tambahan yang bikin susah pendakian ini, dan pasti ada, aku haqqul yakin, pasti ada orang –orang dalam perjalanan ini, baik itu yang ikut dalam rombongan atau hanya orang dibalik layar yang menganggap orang –orang yang belum pernah mendaki sebagai weak point, dan juga penghambat pendakian.

Tapi opiniku berkata lain. Maaf jika ada orang –orang tertentu yang kusinggung, tapi benarkah mereka hanya orang –orang yang menambah beban perjalanan? aku rasa tidak, Kawan. aku sangat yakin jika saja saat itu orang –orang disekitar Karin bisa mengangkat mental dan keyakinannya, bukannya menyuruh mereka langsung menyerah dengan asumsi bisa mempercepat perjalanan teman –temannya, atau menyuruh mereka berhenti dengan alasan rela berkorban agar teman –teman sependakian tidak repot di jalan, sekali lagi kukatakan aku haqqul yakin, Karin dan Jafar saat ini, mungkin juga bisa bercerita tentang indahnya awan –awan di puncak Welirang.

Tapi semua tinggallah cerita, tak lagi dapat kuubah kodratnya. Mungkin memang Tuhan, menginginkan itu untuk bahan pelajaran kami. Aku sering mendengar kawan seperjalanan, atau senior –seniorku mengatakan untuk menyiapkan mental, dan jangan gampang menyerah. Lalu apakah kejadian Karina dan Jafar itu tidak bisa dianggap kalau kita gampang menyerah?

Orang kebanyakan beranggapan bahwa kata “jangan menyerah” diidentikan dengan diri sendiri. Jika aku bisa sampai puncak Arjuna, maka aku bukanlah orang yang gampang menyerah!, atau jika kawanku tidak kuat untuk mendaki sampai puncak dan memutuskan untuk turun, maka ia adalah orang yang gampang menyerah! Seperti itulah mungkin sebagian besar orang berfikir. Tetapi coba pikirkan lagi, Kawan. Aku berfikir dan memutuskan seharusnya bukan seperti itu. insiden Karin dan Jafar bukanlah karena mereka yang menyerah, tetapi karena kita yang terlalu cepat menyerah untuk merangkul dan meninggikan hati mereka, juga meyakinkan bahwa mereka bisa. Jadi menurut kalian siapa yang gampang menyerah? Karina dan Jafar? Atau kami, yang mengaku kawan seperjalanan tetapi tak bisa meyakinkan mereka?

Yang jelas walaupun mereka hanya menempuh separuh jalan, bukan berarti mereka salah.

Pondok Welirang, dan Atap –Atap Rumbia

Setelah kepulangan Karina dan Jafar, rombongan tetap meneruskan perjalanan menuju pondok Welirang. 2 orang berkurang dalam rombongan kami. Kami tetap melangkah menapaki jalanan berbatu yang tinggi. Sesekali aku menerobos masuk jalur tanah yang berada di pinggir jalur batu. Setengah hari kurang kami berjalan, aku merasakan tumit kakiku panas seperti terbakar. Sepatu track pinjaman yang ukurannya sedikit lebih besar sepertinya mulai protes karena dipakai berjalan tak henti –henti.

Untungnya cuaca hari itu mendukung. Walaupun terkadang tiba -tiba kabut berpendar turun, sehingga suhu mendadak drop, tapi selebihnya cuaca cerah. Dan satu hal dari gunung ini yang tak aku suka. Jalanan menuju ke Pondok Welirang dulunya adalah jalan tanah setapak yang hanya bisa dilalui manusia, tetapi sekarang hutan itu terbuka dan menjadi jalan berbatu yang panas jika matahari tengah terik bersinar disiang hari.

Tengah hari lewat, kami beristirahat untuk makan siang. Setelah itu kembai melanjutkan perjalanan. menjelang sore, rombongan yang jaraknya terpisah –pisah lumayan jauh, entah mengapa berkumpul dan bertemu di suatu titik, beberapa menit sebelum jalan batu berakhir yang menendakan pondok Welirang tak jauh dari sana. Dan akhirnya dengan rasa syukur yang tak terhingga rombongan tiba di pondok Welirang menjelang sore.

Seperti sebuah perkampungan sederhana. Tak banyak memang pondokan yang berdiri disana, dan aku lebih suka seperti itu. Sejuk, karena pohon –pohon tinggi menjulang. Jalur setapaknya berdebu, khas jalur gunung di daerah Jawa Timuran. Aku pernah mendengar dari salah seorang senior yang pernah lebih dulu mendaki, bahwa pondok –pondok penambang itu biasa disewakan oleh para penambang kepada pendaki yang hendak bermalam disana. Sempat ada pikiran iseng untuk masuk kedalamnya, karena ternyata para penambang sedang sepi dan pondok mereka di tinggal begitu saja. Tapi kuusir pikiran iseng itu, takut terjadi hal yang tak diinginkan. Bagaimanapun, hati –hati dalam bersikap adalah hal mutlak jika berada di gunung.

Setelah camp craft dan memasak, tak ada hal menarik yang bisa aku ceritakan, hal selanjutnya adalah bahwa kami pergi istirahat di hangatnya tenda. Mempersiapkan diri untuk pendakian yang sebenarnya besok. Puncak Arjuna.

Menuju Puncak Arjuna

Dan seperti di awal sekali cerita ini dimulai, aku dan beberapa sahabat telah berjalan kurang lebih 3 jam, dan disinilah kami sekarang, di tepi jalur menuju puncak –puncak impian Arjuna. Perjalanan yang panjang ini begitu melelahkan, bahkan awal perjalanan dari camp Pondok Welirang, aku sudah akan menyerah dengan alasan memalukan. Alasan perempuan lebih tepatnya, karena aku datang bulan, sakitnya bukan kepalang perutku itu. Tapi dengan mental dan tekad baja, akhirnya aku masih berada di tepi jalur menuju puncak Arjuna dengan disertai dukungan moril dari sahabat –sahabat terbaikku.

Yang tak disangka –sangka adalah Dini dan Agung yang menyerah saat telah masuk wilayah puncak pertama. Mereka akhirnya turun kembali menuju camp. Tak jelas sebabnya apa karena aku tak bersama mereka saat mereka memutuskan untuk turun, dari informasi yang kudapat Dini muntah –muntah. Entah kenapa bisa begitu.

Ada kejadian yang sampai sekarang aku masih tak bisa lupa. Di jalur menuju puncak, sedikit lagi. Tapi panas dan haus menghambat perjalananku dan Ficko. 2 orang terakhir yang ada di rombongan kami. mungkin beberapa kawan telah menyentuh puncak tertinggi Arjuna, tapi kehausan yang kami alami benar –benar masalah serius. Kami dehidrasi, dan tak sebotolpun air kami pegang. Air minum telah berada di tangan orang –orang rombongan depan, dan itu berarti kami harus menuju puncak dulu untuk dapat air. Sementara aku dan Ficko benar –benar dehidrasi tingkat akut. Akupun rasanya baru kali itu mengalami dehidrasi yang sebegitu parahnya. Kepalaku pening, tenggorokanku kemarau rasanya, dan Kawan, rasanya seperti tak punya lidah. Bicarapun malas.

Disaat kritis seperti orang tak punya lidah itulah, bantuan kecil datang. 2 orang pendaki asing, kuduga dari Malaysia karena logatnya melayu –melayu, cengkok bicaranya seperti penyanyi pop Indonesia zaman sekarang jika sedang bernyanyi. Terbersit beberapa pikiran untuk meminta air pada mereka dengan beberapa opsi,

Opsi 1

Aku : Maaf, boleh saya minta air, saya haus sekali..

Turis : Ha? cakap ape orang ni?

Ficko : Hah? Saya minta air madam, bukan ikan kakap ( Budi alias budek dikit, pengaruh dehidrasi)

Turis : Ha? Tak paham awak ma orang ni

Duh sepertinya opsi 1 ga akan berhasil.

Opsi 2

Aku : Permisi saya haus, boleh minta airnya?

Turis 1 : (sumringah, lalu bicara dengan teman senegaranya) pak cik, orang Indonesia ni, sepertinya hendak cakap pada awak

Turis 2 : Betul,,Betul,,Betul

Turis 1 : Tengok cara dia cakap pada awak ni, lucu sekali orang ni punya bahase

Turis 2 : Tengok,,tengok..tengok

Jadi berasa nonton film kartun Upin Ipin, opsi 2, gagal.

Opsi 3

Aku rampas botol airnya secara mendadak. Turis menjerit kaget.

Turis : apa –apaan orang ni.. pencuri kalian ni..

Aku : masih mending gue Cuma nyuri botol air. Negara lu nyuri reog ponorogo, batik, tari pendet, lagu rasa sayange, angklung dll. Banyakan kalian nyurinya ketimbang gue… merdeka!!! ( lalu minum air sepuasnya..)

Eng, sedikit beresiko sepertinya,

Sedang berkhayal gila –gilaan, dibelakang turis Malaysia itu, muncul orang yang dari perawakannya segera kutahu ia saudara pribumi. Ia adalah guide turis –turis tersebut. Ia heran melihat kami diam di tempat tak bergerak –gerak.

“ Ayo, dikit lagi puncak” ia memberi kami semangat

“Duluan aja mas, kami dehidrasi..” aku memancing, tak lupa dengan walah meringis-ringis seperti orang kesakitan.

Saudara se-pribumiku itu tersenyum mengerti. Dengan tenang ia mengambil botol air yang tergantung di belakang daypacknya. Lalu mengulurkannya padaku. Aku sumringah. Misiku ternyata berhasil. Aku meneguk air didalamnya. Kunikmati tiap aliran air yang melewati kerongkonganku. Ahhhh, indahnya kerjasama, dan persaudaraan. Lalu ku ulurkan botol itu pada Ficko. Ia juga meneguk airnya. Setelah itu kukembalikan pada saudara se-pribumiku yang belum kutahu dan tak pernah kutahu namanya hingga sekarang. Ia tersenyum kembali lalu pamit melanjutkan perjalanan terlebih dahulu, bersama orang –orang Malaysia tadi.

Tak lama setelah kejadian botol minum itu, akhirnya berkat doa dan keinginan kuat, aku bisa menginjakkan kakiku di puncak impian, puncak Arjuna.

Wonder Women Itu Jatuh Air Matanya

Teman –teman yang lebih dulu mencapai puncak juga mengalami beberapa hal seru. Terutama….Lani..

Alkisahnya sebagai berikut, hehehe. Saat aku dan Ficko yang berada di rombongan akhir puncak Arjuno kehausan, Lani dengan baik hati menawarkan diri untuk mengambil botol air yang berada di rombongan depan. Yang kuingat adalah dia mengatakan sesuatu yang kurang lebih seperti ini,

“Gue jalan duluan ya, ntar gua ambilin air trus gue balik lagi”

Yah, seperti itulah. Sesaat kemudian wonder women yang saat itu mengenakan jaket parka warna kuning yang kebesaran di badannya dan kaus kaki bola merah itu melesat ke depan. Berjalan sendirian membelah savanna –savanna Arjuna demi satu misi mulia. Mengambil air untukku dan Ficko.

Yang tidak disangka –sangka adalah kejadian saat dia merasa sendirian. Dia mengaku berteriak memanggil orang –orang di depannya

“EOOO” tak ada jawaban,

Lani berteriak lagi memanggil aku dan Ficko yang berada di belakangnya,

“EOO” tak ada jawaban lagi. Bahkan aku dan Fickopun tak mendengar.

Lani terus berjalan. Tak peduli. Sampai saat ia menyibak sebuah semak tinggi dan menemukan 4 makam di daerah terbuka sebelum puncak. Wonder women dalam rombongan kami itu mengaku ciut nyalinya. Pikirannya tak karuan, menangislah si wonder women itu. lunturlah air matanya. Basahlah pipinya, hehehehe.

Kejadian itu untungnya di lihat oleh Rendy yang berada di puncak Arjuna. Cepat –cepat dipanggilnya Lani dari kejauhan. Lani yang melihat dan mendengar Rendy dari kejauhan itu langsung berjalan menuju puncak, masih dengan air matanya. Sampai dipuncak berceritalah dia pada orang –orang di rombongan kenapa ia bisa menangis. Sayangnya, aku tak lihat Lani menangis. Saat dia bercerita tentang kejadian itu aku hanya berfikir, ternyata Wonder Women yang punya betis kawat tulang besi juga bisa menangis.. Tuhan Yang Maha Adil..😛

Penulis : Sinta Muliyasari

2 thoughts on “JATIM ADVENTURE PART IV [Malam Pertama di Lereng Arjuna Welirang]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s