Merbabu Part II [ Negara di Timur : Indonesia yang Ramah]


 

Kaki Gn. Merbabu

Jalur Pendakian 1

Negara di Timur : Indonesia yang Ramah

Terdengar suara sayup – sayup keributan di dekat mereka. Jimmy dan Ficko pun terbangun. Ternyata orang – orang sedang mengantri membeli tiket terpat di sebelahnya. Merekapun bergegas merapihkan perlengkapan dan beranjak dari loket.

Didepan stasiun Semarang bus menuju salatiga yang semula mereka kira baru ada sekitar pukul 07.00 ternyata sudah lalu lalang ramai di depan stasiun. Keriuhannya menimbulkan kesan tersendiri. Kondektur bus teriak – teriak ramai

“Salatiga ..! Salatiga..!”

Teriaknya membahana sahut  menyahut. Jimmy dan ficko tak piker lama, mereka langsung menaiki kendaraan umum itu. Dengan Rp. 7000 mereka bergerak menuju Salatiga. Bus melewati tempat – tempat yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Bergerak melewati keriuhan pasar, turun bukit, belok ke kiri dan ke kanan. Membuat perasaan mereka dipenuhi suasana baru. Keriuhan di Semarang membawa warna tersendiri di hati mereka masing – masing. Membuat mereka memiliki alasan lain untuk lebih mencintai Indonesia.

Sekitar 60 menit kami menaiki angkutan umum menuju Salatiga. Sepanjang perjalanan menuju Salatiga, pemandangan indah tak henti –hentinya menghujani konjungtiva Jimi dan Ficko. Mereka seperti berebut ingin memperlihatkan kecantikan bumi Jawa Tengah pada dua orang pemuda yang sekarang terkatung –katung dalam angkutan umum menuju ke titik awal pendakian jalur kopeng, Gunung Merbabu.

Angkutan umum yang dinaiki Jimi dan Ficko tak serta merta membawa mereka menuju ke tepi jalur pendakian Gunung Merbabu yang berada di Kopeng. Dua pemuda itu harus turun dan kembali melanjutkan perjalanan dengan angkutan rakyat itu dengan berganti jurusan. Namun sebelum menuju Kopeng mereka melengkapi berbagai macam urusan birokrasi pendakian Merbabu mulai dari fotocopy Kartu Tanda penduduk hingga logistic.

Dalam perjalanan menuju Kopeng, satu hal unik kembali di suguhkan Indonesia sebagai Negara yang berbudaya dengan kultur tradisionalnya yang kental. Kebudayaan animisme dan kepercayaan lama yang masih terjaga membuat 2 pemuda itu merasa takjub akan cerita seorang pribumi yang ditemui mereka di dalam angkutan menuju Kopeng.

Agus, begitu ia memperkenalkan diri. Ia mengaku berumur 50 tahunan, tetapi gurat –gurat dan tulang –tulang yang menyusun rangka wajahnya memberikan kesan bahwa ia masih berumur sekitar 30 tahunan. Ia mengaku orang “berilmu” dan dapat menyembuhkan orang dari jauh. Ilmunya dapat ia turunkan jika orang lain melepas agama yang dianutnya. Yah, jimi dan ficko berpendapat bahwa mereka bukanlah orang Islam yang beribadah secara radikal, tetapi penjelasan Agus mampu membuat mereka merasa tak percaya dan sedikit ngeri. Alhasil baik Ficko ataupun Jimi hanya manggut –manggut berlagak mengerti saja. Bukan masalah percaya atau tidak, tapi mereka merasa perlu memberikan apresiasi terhadap Agus sebagai sesama pribumi yang tak segan –segan beramah tamah pada dua orang pemuda tak di kenal di dalam bus angkutan umum menuju Kopeng. Agus hanyalah segelintir orang pribumi yang akan menjadi saksi bahwa Indonesia adalah Negara yang ramah.

Keramahan yang di tawarkan Indonesia tak hanya berakhir di Agus saja, kondektur angkutan umum pun menunjukkan keramahannya dan kebaikannya pada Jimi dan Ficko.

“Mas mau naik Merbabu? Kalau begitu, turun disini, Mas. Nanti jalan aja terus ke atas sampai pos” ucap kondektur angkutan umum itu

Dua pemuda itu bergegas turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada kondektur angkutan umum itu.

Salah satu dari mereka tiba –tiba teringat tentang kota tempat mereka datang. Tanpa bermaksud menyudutkan Jakarta dan warga yang ada di dalamnya. Entah kenapa indah sekali mengetahui kalau ada tempat –tempat di Indonesia yang tidak tersentuh modernisasi secara menyeluruh. Semarang, Salatiga, ataupun Kopeng merupakan gambaran jelas tentang adat dan budaya ketimuran Indonesia yang masih terjaga. Saling tolong –menolong dan tenggang rasa dalam kesederhanaan, itulah Indonesia.

Kalau saja Indonesia bukan Negara dengan penduduknya yang ramah, kalau saja Indonesia bukan Negara yang berbudaya, mungkin 2 pemuda yang bernama Jimi dan Ficko itu masih terlunta –lunta di dalam bus angkutan umum dengan supir ugal –ugalan dan kondektur yang masa bodoh pada penumpang, tanpa pernah sampai di puncak Merbabu.

Langkah Pertama

2,5 kilometer. Ya, 2,5 kilometer yang harus dilalui Jimi juga Ficko untuk sampai di Pos pendakian pertama jalur kopeng, Merbabu. Sepanjang jalan mereka menikmati asrinya udara gunung dan hutan damar di kanan kiri. Banyak terlihat rumah –rumah penduduk yang disulap menjadi penginapan.

Kalau dahi orang –orang Jakarta dibuat berkerut karena mendengar harga kebutuhan pokok naik, disini dahi 2 pemuda itu berkerut karena melihat plang harga penginapan sepanjang jalan menuju pos awal pendakian. Harga penginapan di daerah itu sekitar 25.000 hingga 50.000, sebuah harga yang membuat Jimi dan ficko keheranan. Semurah itu?!!

Memasuki kebun penduduk dan hutan damar, perumahan itu mulai berkurang. Pemandangan yang disajikanpun lebih “ndeso”, lebih menakjubkan tentunya. Hingga akhirnya Jimi dan Ficko tiba di daeerah desa Cuntel, saat penduduk disana sedang melakukan kerja bakti. Satu lagi budaya Indonesia yang masih terjaga dan akan terjaga sampai kapanpun “gotong royong”. Dari atas hingga ke bawah, semua sedang dibersihkan oleh para penduduk. Tak ada yang tak bekerja. Dan satu dari banyaknya orang yang bekerja itu lalu menghampiri jimi dan Ficko.

Pak Tono, begitu dia biasa disapa. Penjaga pos pendaftaran pendakian gunung Merbabu itu lalu menemani Jimi dan Ficko berjalan menuju ke pos yang sudah tidak jauh lagi. 45 menit yang dibutuhkan pemuda –pemuda jakrta itu mulai dari turun dari angkutan, berjalan melewati hutan damar, hingga sampai di pos pendaftaran.

Di pos pendaftaran mereka melihat rombongan dari Universitas Gajah Mada Jogjakarta yang katanya akan melakukan survey untuk pengadaan Diklat –SAR organisasi Pecinta Alam mereka. Setelah mendaftar dan menyerahkan uang uang pendaftaran sebesar Rp 3500/ orang juga melampirkan fotocopy KTP, tak lupa mereka juga mengisi buku tamu dan menetapkan jalur pendakian.

Jimi dan Ficko beristirahat sambil mencari informasi tentang jalur pendakian yang akan dilewati oleh mereka. Sedangkan Pak Tono pamit untuk melanjutkan kembali kerja bakti di desa Cuntel.

2 pemuda asal Jakarta itu memutuskan untuk mulai menapaki jalur pendakian Merbabu pada pukul 11.00. Sambil menunggu waktu, mereka bergegas makan, packing ulang barang bawaan, dan pemanasan.

Dimulai dengan berdoa, saat jam tangan menunjukkan pukul 11.00 tepat, mereka akhirnya melakukan langkah pertama dalam pendakian untuk mencapai puncak Gunung Merbabu.

Penulis : Sinta Muliyasari

2 thoughts on “Merbabu Part II [ Negara di Timur : Indonesia yang Ramah]

  1. uda baca semua… keren mas… aku juga suka nulis blog.. tapi belepotan kata2nya… dr sini bisa belajar… hehehe oiya.. tu bukan tekelan, tapi cuntel nama desanya… kapan ke salatiga (lagi)..?🙂

    1. ooo..makasih dah di ingetin…nanti saya edit tuk di benerin…heheh..kmarin bis ke sala tiga lagi…naik merbabu lagi ma kawan2..nanti di buat ceritanya lagi kok…tunggu aja updatenya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s