Merbabu Part III [Mengenal Batas Horizon]


Pos II Bayangan [ Air ]

Pemandangan 1

OTW ke Pos IV

Otw Pos IV

Jimmy

Ficko

Mengenal Batas Horizon

Jalur pendakian merbabu dikopeng dapat dengan jelas terlihat di peta yang diberikan pihak base camp kepada setiap pendaki yang ingin naik ke puncak Merbabu. Fiko dan Jimi, 2 tokoh pemuda kita saat ini sedang berjuang menapaki jalur pendakian merbabu yang didominasi oleh tanjakan dengan kemiringan sekitar 40 hingga 60 derajat. Terus begitu, melewati pos –pos pendakian. Mulai dari pos bayangan I, pos bayangan II, pos I, pos II, hingga pos III, tempat mereka mendirikan tenda untuk camp craft.

Perjalanan menuju ke pos III membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Lebih cepat dari target awal. Perjalanan menuju ke pos III juga diwarnai dengan cerita –cerita pertemuan dengan pendaki –pendaki lain yang baru turun dari puncak. Bercerita tentang pengalaman mendaki mereka, bertegur sapa, bahkan tak segan untuk sekedar bersenda gurau walaupun baru pertama kali bertemu dan bertatap muka. Hal seperti itu seperti sebuah peraturan tak tertulis. Pendaki dididik untuk peka terhadap segala hal apalagi terhadap sesama. Mereka terikat oleh sebuah ikatan persaudaraan tak terlihat yang mengatas namakan “satu perjuangan” dan “satu cita –cita”.

Fiko dan jimi tiba di pos III pukul 15.00. masih terang benderang. Pos III berada di atas sebuah bukit dengan ketinggian 2458 Mdpl. Dengan landai yang luas dan pemandangan indah, menjadikan tempat ini selalu digemari para pendaki untuk beristirahat atau mendirikan tenda.
Jika cuaca cerah, dan memang bisa dibilang selalu cerah, pendaki bisa melihat pemandangan kota di bawah yang sangat indah. Dari pos III pendaki biasanya juga melihat sunset atau matahari tenggelam, karena dari sana tidak ada halang rintang apapun bagi para pendaki untuk langsung melihat ke langit. Bahkan langit seperti sejajar dan dapat dipeluk. Indah bukan buatan. Disana mereka mengenal batas horizon antara langit dan bumi, alam dan manusia, juga manusia dan Tuhan.

Di pos III mereka beristirahat di dalam tenda yang harusnya bisa ditempati hingga 5 orang itu. Fiko sudah terlebih dulu tidur karena memang kelelahan. Tak lama rekan seperjalanannya, jimi, menyusulnya ke alam bawah sadar, tempat mereka bisa bermimpi untuk memeluk puncak puncak indah dalam perjalanannya di Merbabu.

Pukul 21.30 atau tepat jam setengah sepuluh malam fiko dan Jimi terbangun dari tidurnya. Memasak adalah hal pertama yang terbersit di pikiran mereka. Menu gala dinner pertama mereka di lereng hutan gunung Merbabu adalaaaah [genderang..] nasi, daging gulung, serta telur asin. Cukup mewah untuk pendaki pailit seperti mereka [hehehe].

Mereka terbangun dari tidur sebenarnya karena mendengar suara kerumunan pendaki lain yang ternyata, dari obrolan yang mereka dengar baru saja sampai di pos III. Rombongan pendatang baru itu, mulai bimbang untuk melanjutkan perjalanan ke pos IV atau beristirahat dan mendirikan tenda di pos III, dan akhirnya opsi ke dua terpilih.

Jimi dan fiko, seperti kebanyakan pendaki lain, menawarka makanan yang baru saja mereka masak pada rombongan pendatang baru itu. Makanan yang mereka tawarkan ludes habis disantap. Menjadi sebuah kesenangan tersendiri untuk jimi dan fiko, karena berarti ikut meringankan dan membantu kawan seperjalanan yang baru tiba.


[Kemana Kaki Menapak Terlebih Dulu]

Banyak orang menyukai matahari terbit. Mereka berbondong –bondong bangun pagi buta sebelum benda bulat berwarna oranye itu muncul dilangit. Berlomba –lomba untuk sombong pada matahari karena bisa bangun lebih dulu sebelum ia muncul.

Namun kebanyakan orang menyukai matahari terbit karena perlambang sesuatu yang baru dan cerah yang bersinar setelah gelap dan malam yang panjang. Matahari terbit memberikan kekuatan untuk orang –orang yang melihatnya. Tapi tidak untuk Fiko, ia lebih memillih tidur dan lanjut bermimpi daripada berdingin –dingin di luar tenda untuk tracking sambil liat matahari terbit. Walaupun rekan seperjalanannya, jimi sudah susah payah mengguncang –guncang tubuh tambunnya, Fiko tetap pada pendiriannya untuk tidur subuh itu.

Dan perjalanan untuk melihat matahari terbitnya pun gagal. Namun tidak untuk perjalanan menuju ke puncak Merbabu. Setelah puas tidur, Fiko dan Jimi melanjutkan perjalanan menuju ke puncak merbabu saat matahari sudah gagah bersinar. Sinarnya seolah –olah mencibir -cibir fiko dan jimi karena tidak bisa bangun sebelum ia terbit. Tapi mereka berdua acuh tak acuh terhadap “si Mentari” itu. Yang ada di pikiran mereka sekarang adalah menuju ke puncak gunung Merbabu yang pastinya akan menguras energy dan tenaga mereka hari itu. Dan perjalanan menuju puncak dimulai pukul 06.10.

Melewati bukit –bukit menanjak dan sedikit sekali landai atau jalur menurun, mereka harus melalui beberapa tempat lagi sebelum tiba di puncak. Yang pertama adalah pos IV atau yang lebih dikenal dengan nama Pemancar, karena ada seonggok pemancar tua yang tak terpakai menjulang tinggi diatas bukit yang bisa dilihat dari pos III itu. Perjalanan menuju ke pemancar membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam berjalan, dan saat berada dan menginjakkan kakimu disana, yakinlah pada keindahan yang kalian lihat bukanlah bayangan semu atau fata morgana semata. Pemandangan indah itu nyata, hamparan awan itu nyata, dan pemancar tuanya juga nyata. Tak berhenti sampai situ, jimi dan Fiko melanjutkan perjalanan menuju ke arah kawah gunung Kukusan. Jalan setapak yang mereka lewati hanya memilliki lebar sekitar 1 -2 meter saja. Dengan jurang dan lembah –lembah hijau yang megah di kanan kirinya. Di sebelah kanan ada landai yang besar di dasar sebuah lembah. Disana tersusun batu –batuan putih yang membentuk pola –pola tulisan. Batu –batu itu disusun oleh tangan –tangan pendaki yang membentuk kata –kata atau kalimat –kalimat. Pemandangan yang langka tapi menawan.

Melewati kawah, track yang dilalui Jimi dan Ficko mulai terjal. Dan ada bagian punggungan bukit yang harus mereka lewati dengan kemiringan sekitar 60 -70 derajat. Setelah melewati punggungan terjal itu mereka akan kembali melewati jalur landai sebelum akhirnya sampai di tepi jalur terjal lainnya. Fiko dan jimi terus menanjak menaiki bukit, setelah berhasil menaiki bukit yang lumayan panjang itu, mereka tiba di atas bukit dan dapat melihat pemandangan yang indah. Mulai dari puncak –puncak gunung Merbabu dan lembah –lembah yang hijau.

Setelah melewati puncak bukit, jimi dan ficko melanjutkan perjalanan menuju ke pertigaan puncak. Dari sana, mereka akan membuat keputusan akan kemana kaki mereka menapak terlebih dahulu, puncak Syarif, puncak Keteng Songo, atau puncak Triangulasi.

Penulis : Sinta Muliyasari

2 thoughts on “Merbabu Part III [Mengenal Batas Horizon]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s