Merbabu Part IV [Senandung yang Tembus Hingga langit ke Tujuh]


OTW Puncak

OTW Puncak

Puncak Trianggulasi

Puncak Trianggulasi.

Jimmy Puncak

Ficko Puncak

Puncak Bersama

Senandung yang Tembus Hingga Langit ke Tujuh

Semilir angin di puncak Keteng Songo membawa sayup sayup bebauan harum dupa yang dibakar disana. Entah apa tujuan, maksud dan siapa yang menaruhnya disana, Jimi dan Ficko tak tahu pasti. Yang mereka tahu hal itu sudah biasa disana. Mereka hanya duduk dan melihat sekeliling tempat dimana mereka berpijak sekarang, di salah satu puncak gunung Merbabu.

 

Penglihatan mereka penuh akan hal yang tidak bisa di gambarkan hanya dengan kata “indah” saja. Butuh kosakata lebih dari itu, untuk memberikan pujian akan indahnya alam merbabu yang mereka lihat di ketinggian ini.

 

Keindahan tak berhenti sampai disana, karena tak begitu suka bau dupa, jimi mengajak Fiko untuk segera beralih menuju ke puncak tertinggi di gunung Merbabu, puncak Triangulasi. Berjalan dengan cepat, mereka sampai di puncak yang jika dilihat dari Keteng Songo berada di sebelah kanan. Tak jauh dan seperti bisa di gapai hanya dengan melompat. Siluet pegunungan di sekitar Merbabu memenuhi penglihatan mereka. Sindoro, Sumbing, dan awan –awan disekitarnya menggugah pikiran mereka untuk sekedar mencoba petualang lain yang tersembunyi di hutan –hutannya yang juga sunyi. Merapi di kejauhan mengepulkan asapnya, seolah mengukuhkan bahwa dirinyalah gunung api paling aktif di dunia. Dan tak pernah terbayang oleh Jimi dan Fiko bahwa beberapa bulan setelah mereka melihat Merapi dari kejauhan itu, gunung yang terlihat jelas dari puncak Merbabu itu meletus dan mengamuk. Meluluh lantahkan Jogjakarta dan sekitarnya. Dan tak pernah terbayang juga bahwa salah satu mimpi telah menghampiri mereka. Untuk sekedar menoleh ke atas dan terus berjalan, untuk tetap melangkahkan kaki di tengah dingin dan lelah. Untuk tetap semangat di atas pikiran –pikiran putus asa yang menggoda mereka untuk menyerah, untuk tetap berdoa agar alam memberikan kemurahan hatinya disini, dan disinilah mereka, dia atas salah satu puncak Merbabu, di selapak tanah tinggi bernama Puncak Triangulasi.

 

Senyum khas Indonesia : Senyum Tiga jari

Angin semilir di puncak Triangulasi juga menelusupkan lagu –lagu bernada riang ke telinga Fiko dan Jimi. Lagu –lagu itu berasal dari pendaki lain yang sedang bernyanyi disana. Sekedar melepaskan kebahagiaan hati mereka di sana. Di ketinggian itu. Berharap langit mendengarkan senandung hati mereka. Jimi dan Fiko ikut bersenandung seolah –olah mengabarkan ke langit tentang keriangan mereka, dan senandung itu seakan –akan dapat tembus ke langit ke tujuh sekalipun.

 

Kegiatan selanjutnya? Makan cemilan, minum, makan cemilan, minum, bengong, dan diam. Begitulah, alam merbabu seolah menyihir Jimi dan Fiko untuk diam dan hanya melihat, mengagumi tiap jengkal tanah yang mereka injak.

 

Teringat perjuangan dari pos III untuk sampai disini. Mulai dari perjalanan dari pos III sampai puncak menara, kawah, jembatan setan, pertigaan puncak, kekurangan oksigen sampai kepala berdenyut seperti mau pecah, tanjakan curam, dan yang paling susah untuk dilupakan adalah saat mereka memilih jalur yang salah sebelum puncak Keteng songo.

 

Berawal dari pertigaan puncak. Mereka beristirahat sejenak karena kekurangan oksigen di ketinggian menyebabkan kepala mereka berdenyut seperti mau pecah. Saat akan melanjutkan perjalanan, terlihat seorang pendaki yang sepertinya baru turun dari puncak. Perawakannya memastikan bahwa ia bukanlah orang pribumi. Kaum kaukasia dengan kulit pucat khas orang eropa itu tak sendiri. Sepertinya ia membawa serta anaknya. Jimi dan fiko teringat akan pernyataan lama yang menyebutkan bahwa “Indonesia adalah negara yang ramah”. Berbekal keinginan untuk melestarikan perumpamaan tadi, mereka menyapa turis asing itu dan tersenyum ramah khas orang Indonesia, senyum tiga jari. Setelah berbasa –basi mereka akhirnya tahu bahwa teman asing mereka itu akan turun melalui Kopeng. Mereka lalu menunjuk ke arah jalur yang tadi mereka lewati. Setelah basa –basi selesai, mereka lalu mengucapkan selamat tinggal pada teman baru mereka yang berbeda Negara itu, karena puncak telah menunggu. Teman asing mereka tersenyum ramah, entah karena merasa orang Indonesia [ dalam kasus ini Jimi dan Fiko] sangat ramah, atau karena geli melihat senyum khas orang Indonesia yang Jimi dan Fiko tampilkan tadi, tentu saja senyum tiga jari.

 

Jalur “Madu dan Racun”

 

Oke! Kita tinggalkan turis asing dan segala hal tentang senyum tiga jari. Kembali ke 2 pemuda yang masih berjuang di jalur menuju puncak. Setelah pertigaan puncak jimi dan Fiko menemui jalur yang bercabang. Kiri atau kanan. Mereka harus memilih. Tiba –tiba teringat tentang lagu zaman dahulu yang liriknya kurang lebih seperti ini :

 

Madu di tangan kananku..

Racun ditangan kiriku..

Entah terpengaruh dengan lagu itu atau hal lain, jimi memilih jalur kanan, berharap mendapat madu. Tetapi ternyata tak selalu yang kanan –kanan itu manis, Kawan. Jalur yang dipilihnya itu merupakan jalur lama yang berupa jalur setapak yang tak lebih lebar dari 2 kaki, dengan jurang menganga di kanan kirinya. Jimi dapat merasakan hembusan angin yang menerpa membuat tubuhnya sedikit limbung. Ia sadar lengah sedikit ia pasti bisa menangkap awan tapi tak bisa ia bawa pulang a.k.a terjung bebas di jurang yang ada di sampingnya. Kabut yang turun dan menghalangi penglihatan juga membuatnya sedikit berfikir untuk melangkahkan kakinya. Akhirnya ia dan fiko menunggu kabut menyingkir sambil berjalan jongkok layaknya TNI yang sedang latihan militer. Setelah cukup lama, akhirnya mereka sampai juga di ujung jalur, kemudian menuruni bukit yang juga terjal. Setelah mengucap syukur sampai dibawah bukit, mereka menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ada dua pendaki lain yang mengikuti arah jalur “madu racun” mereka tadi. Sungguh malang 2 pendaki itu, harus merasakan apa yang jimi dan fiko rasakan, yaitu di bohongi lagu zaman dahulu.

 

kembali lagi ke fiko dan jimi. Usut punya usut, jalur yang merka pilih ternyata jalur lama yang sudah jarang di lewati. Jalur sebelah kiri ternyata jalur baru yang ujung jalurnya bertemu dengan jalur “madu racun” yang tadi mereka lewati. Setelah istirahat dan meregangkan otot –otot kaki yang sedikit tegang dan gemetaran karena jalur ekstrim tadi, jimi dan fiko melanjutkan perjalanannya. Melewati bukit –bukit, tanjakan curam, tertipu landai yang dikira mereka puncak, hingga akhirnya benar –benar sampai di puncak Keteng Songo dan Triangulasi. Dan seperti yang diceritakan awal tadi, kini mereka menikmati tiap langkah perjuangan mereka disini. Di puncak –puncak indah di Merbabu.

 

Penulis : Sinta Muliyasari

6 thoughts on “Merbabu Part IV [Senandung yang Tembus Hingga langit ke Tujuh]

    1. wokeh…asal waktu nya pas nanti di ajak kok…hehhee kita lihat betapa luasnya dunia ini..dan masih banyak pesona alam yang lebih indah lagi…

  1. To Shinta : Well Done !!! You will became A great writter some day I believe that.
    Saran gw: perbanyak lagi foto karena foto lebih banyak berbicara dibandingkan tulisan….
    Tuliskan juga istilah kata kata dari ilmu mountaineering dan paparkan point dasar dari
    istilah tersebut agar lebih menarik bagi pembacanya,gw ingin pembaca jg melihat sisi
    science/ilmu pengetahuannya dari setiap pendakian yg kalian tapaki.
    Ada ide 7 summits of indonesia,,gw berharap kalian jadi tim inti dan shinta bisa
    menuliskannya………
    Pertahankan gaya penulisannya ya ta,dan perbanyak kosakata jg istilah kata dari
    ilmu Mountaineering yg gw ajarkan pada kalian semuanya
    Bangga rasanya bhw gw pernah jadi pelatih kalian semua..AMAZING GUYS !!!

    1. saya mewakili teman – teman juga berterima kasih untuk nga – nga.. karena berkat jasa nga-nga juga kami bisa mengenal dunia ini..

      anda juga menjadi salah satu guru yang membuat kami seperti ini..jadi saatnya kami tuk membanggakan sang guru..^_^

      Salam Rimba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s