Merbabu Last Part [ Matahari Terakhir di Kaki Merbabu ]


Puncak

Basecamp Cuntel

Basecamp Cuntel

Basecamp Cuntel

Turun Bersama Teman Baru

Bayu

Orang –orang yang Tidur di atas Atap yang Sama

Turun merupakan sebuah hal yang ironis. Jempol kaki pasti akan protes kalo dia bisa bicara karena bergesekan dan tertekan ujung sepatu, di tambah lutut yang ga mau kompromi. Maka, jangan pernah heran para pendaki kebanyakan akan terjatuh saat turun ketimbang naik.

Tapi mungkin hal itu tidak dialami oleh kedua tokoh kita kali ini. Perjalanan turun mereka mulai dari puncak menuju ke campsite mereka di pos III berjalan lancar. Sesampainya di pos III mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan turun menuju ke base camp cunthel. Walaupun ditengah perjalanan hujan deras mengguyur.

Dan perjalanan menuju basecamp seperti kebanyakan perjalanan pendaki lain yang turun. Jempol nyut –nyutan, dengkul ngilu, dan banyak hal lain. Seperti 2 tokoh kita yang tiba di Basecamp Cunthel tepat saat matahari tak lagi terlihat sinarnya. Jimi dan fiko langsung melepas berat beban di pundaknya yang beberapa hari ini mereka bawa dan akrab di punggung mereka. Kelelahan yang terpendam di hari –hari sebelumnya menyeruak keluar malam itu. Namun tak juga menyurutkan antusias mereka untuk mengetahui siapa –siapa saja yang berada di base camp malam itu. Beberapa pendaki yang heboh bercengkrama dengan rombongan pramuka yang juga baru turun dari Merbabu, sedikit menarik perhatian mereka.

Setelah memasak makan malam di luar basecamp, mereka beranjak masuk ke dalam. Melebur menjadi satu bersama para pendaki yang malam itu didaulat menjadi sahabat dan saudara mendadak.

Ramai sekali di basecamp malam itu. Banyak pendaki yang masih ngobrol dengan pendaki lain, sekedar berbagi pengalaman atau bertukar pikiran. Namun jimi dan fiko yang juga ingin membagi cerita tak mampu lagi menahan kantuk yang mendera. Satu persatu para pendaki yang ada di sana tumbang, mengalah pada bujukan raga yang minta diistirahatkan sejenak karena telah lelah. Dan disana, dikaki gunung Merbabu, manusia –manusia yang sebelumnya tak pernah saling mengenal itu, bersatu atas nama impian yang sama, puncak yang sama, dan perjuangan yang sama. Disana segala perbedaan hilang, dan orang –orang itu tidur di atas atap yang sama. Bermimpi tentang perjalanan yang telah mereka lalui.

 

Matahari Terakhir di Kaki Merbabu

Pagi itu desa Thekelan bersinar cerah. Matahari berbaik hati mengirimkan anak –anak sinarnya menembus tiap –tiap unsur kehidupan pagi itu. Ladang –ladang sayur, anak –anak sungai, rumah –rumah penduduk, dan juga tentu saja basecamp pendaki Cunthel. Walaupun orang –orang didalamnya tak peduli dan acuh pada sang Matahari. Mereka lebih tunduk  dan takluk pada otot yang kejang dan kaku disekujur tubuh, buah dari rangkaian pendakian mereka menuju puncak merbabu sebelumnya.

Jimi terbangun saat Fiko masih terlelap. Ia mencoba membangunkan sahabat gempalnya itu. Tak membuahkan hasil, jimi malah tertidur lagi hingga pukul 08.00 pagi. Mereka lalu berbenah. Mandi, packing ulang, dan mempersiapkan egala keperluan untuk perjalanan pulang mereka pagi itu. Mereka bersiap menyambut matahari terakhir mereka di kaki Merbabu.

 

Manusia Ekspresi dan Penyair Alam

“HAHAHAHAHA”

Jimi dan Fiko tertawa lepas didalam gerbong kereta saat mendengar gurauan kawan seperjalanan yang baru mereka temui sesaat sebelum meninggalkan Basecamp Cunthel pagi tadi.

Kawan itu bernama Bayu dan Fajri. 2 orang yang juga Mahasiswa Universitas di Jakarta itu, juga baru saja turun dari Merbabu dan berniat kembali ke Jakarta dihari yang sama. Dan takdir mempertemukan mereka tadi pagi.

“Fajri”

lelaki itu menggenggam erat telapak tangan yang diulurkan padanya. Kawan seperjalanannya bernama Bayu juga melakukan hal yang sama saat memperkenalkan diri pada Jimi dan Fiko. Mereka memperkenalkan diri sebagai Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Jakarta. Bayu dan Fajri sekejap menjadi teman yang akrab. Mereka tak segan –segan mengajak Jimi dan Fiko beristirahat di rumah orang tua Fajri di Semarang, sambil menunggu kereta yang akan datang dan membawa mereka kembali ke Jakarta pada malam harinya.

Bayu dan Fajri adalah perpaduan unik dua sahabat. Mereka punya kelebihan masing –masing. Dan juga keunikan tersendiri yang membuat Jimi dan Fiko terus tertawa saat perjalanan pulang bersama mereka.

Bayu adalah lelaki yang eksperif. Hidupnya seperti untuk sebuah ekspresi. Tangan, kaki, wajah, suara, ia dedikasikan untuk sebuah kata, “ekspresi”. Jika ia bicara soal presiden, ekspresinya akan seperti presiden, jika ia cerita tentang laut maka seluruh indera-nya akan berusaha menggambarkan bagaimana itu laut. Jika ia bercerita saat pertama kali ia pergi ke laut lalu melihat lumba –lumba, percaya Kawan! ia akan menggambarkan dengan jelas tidak hanya wajahnya saat pertama kali melihat lumba –lumba, tapi juga wajah lumba –lumbanya saat bertemu dengannya, bahkan keadaan ombaknya, bagaimana bentuk awannya, darimana angin berhembus, warna kapal yang ia naiki, dan sebagainya. Dia adalah manusia dengan sejuta lecutan ekspresi.

 

Sedangkan Fajri, adalah penyair alam. Syairnya ia dedikasikan untuk alam. Puisinya lambang cinta tentang alam. Dimana –mana ia penulis dam membaca puisi. Di hutan, di kereta, di segala tempat. Baginya tiap segi kehidupan adalah rima dan bait.

Melihat Bayu dan Fajri bagi Jimi dan Fiko seperti menengok ke dalam diri sendiri. Mereka juga membangun hal serupa seperti yang Fajri dan Bayu lakukan, mereka membangun persahabatan. Walaupun mereka merasa tak seunik dua kawan barunya itu, tapi persahabatan mereka dilandasi hal yang sama. Sebuah ketulusan mungkin…

Perjalanan itupun seperti perjalanan lainnya, harus berakhir. Saat matahari terbit. Mereka kembali harus mengarungi realita di Jakarta. Jimi, Fiko, Fajri, dan Bayu tiba di stasiun Manggarai pukul 06.30 pagi. Mereka berpisah arah, tapi berjanji akan terus menjalin komunikasi. Fajri dan Bayu sedangkan Jimi dan Fiko. Sesaat setelah keluar stasiun mereka beranjak mencari angkutan umum yang menuju ke tempat tujuan mereka.

Di dalam angkutan itu, mereka menatap matahari, matahari yang sama yang menyinari mereka di kaki dan lereng –lereng Merbabu beberapa waktu lalu.

Mereka menyipitkan mata, silau terkena cahayanya…

Matahari yang sama,

Sinar yang sama..

Tetapi kenapa rasanya berbeda??

 

-Selesai 1 perjalanan, perjalanan lain menanti…-


PS : Tulisan ini untukmu, Kawan.. untuk orang -orang yang percaya bahwa gunung –gunung dan puncak -puncak itu ada disana agar kita belajar untuk kehidupan bukan untuk sebuah penaklukan.

 

Penulis : Sinta Muliyasari

2 thoughts on “Merbabu Last Part [ Matahari Terakhir di Kaki Merbabu ]

  1. sudah betul itu ta….
    tapi sebaiknya jangan pakai kata ganti “tokoh kita, mereka.” untuk tuisan pendek, pake aja info tentang orang tersebut. semisal untuk mengganti kata, “tokoh kita” bisa pake dua orang bromocorah dari cilandak, atau dua orang yang doyan ngegame…
    heheheh
    thx…

  2. woughhhhhhhhhh….
    sesepuhnya komen…
    wokeh..terima kasih usulannya.. dan mohon bimbingannya lagi lain kali.. ^,^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s