MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]

BUKAN PROLOG

Teringat dengan salah satu kalimat seorang kawan baik, di akhir sebuah perjalanan :

Pernah ga, lu berhenti berjalan sejenak? Bukan karena capek, tapi karena saking terpesonanya sama pemandangan yang ada di depan mata..

…Gua pernah..

Ficko Figama Irwan

 

Kalimat itu diambil dari salah seorang sahabat seperjuangan. Kalimat itu seperti berusaha menandakan dan memperlihatkan kemegahan yang Tuhan berikan di tiap sisi hutan –hutan pegunungan Merbabu. Salah satu tempat yang kembali membuat kami berani bermimpi untuk satu tujuan.

Dan mimpi itu kembali tertuang dalam catatan perjalanan ini,

Kami namakan ini “Merbabu dan Kisah 2 Saudara

Dan catatan ini untukmu, Kawan..

***

Di langit ada awan tenang yang tak bisa dipisahkan dari birunya horizon. Mereka indah berarak –arak riang. Bergerombol. Kadang saat mereka sedang gembira, mereka tak segan –segan memamerkan sekujur tubuhnya yang teramat putih, halus, dan tak tersentuh. Menaungi teduh, apapun yang ada di bawahnya.

Namun saat mereka marah dan tak enak hati, awan –awan yang semula cantik berseri –seri tadi tak lagi bersih. Mereka dengan bersama –sama serentak membuat langit menjadi hitam, kemarahannya tak sampai disitu, kadang mereka lontarkan kilat –kilat cahaya yang disusul auman petir yang menggelegar.

Lain halnya jika mereka sedih. Segenap alam semesta akan dibuatnya menangis. Hingga titik –titik air membanjiri mayapada. Air mata bidadari langit itu akan turun ke bumi menjadi hujan. Pasrah terhempas ke apapun yang ada di bawah sana. Jika beruntung titik –titik air itu meluncur menuju rerimbunan hutan, meresap ke dalam tanah, mengendap dan terdiam, menunggu untuk akar –akar tumbuhan menemukannya dan meresaplah ia kesana, si tumbuhan tau –tau akan jadi hijau segar dengan ranting yang kokoh.

Titik –titik air yang menjadi hujan lainnya jatuh di tempat yang berbeda. Yang malang akan langsung jatuh di saluran –saluran ibukota. Kotor, sampah berserakan, mampet dan bau. Yang lain bisa jatuh di banyak tempat, kali Ciliwung, atap mobil yang kemudian di gilas wiper yang kerjanya seumur hidup hanya bergerak ke kiri dan kanan, atau bisa juga jatuh di atap rumah, merembes ke langit –langit rumah karena bocor dan berakhir di ember atau panci yang dijadikan tatakan.

Bicara tentang titik –titik hujan. Di langit ada sebuah kisah tentang dua saudara. Mereka adalah titik –titik air bersaudara. Yang satu bernama Aero yang lain bernama Aera. Mereka naik kelangit bersama –sama karena sang matahari menyinari sebuah kubangan air bekas hujan yang menggenang di depan pos ronda di sebuah desa. Mereka menguap terkena cahaya sang matahari pagi itu. Setelah terbang ke langit dan mengendap menjadi awan. Angin kini menentukan nasib mereka. Angin yang berhembus melayang –layang itu memisahkan Aero dan Aera.

Tak tau ampun, Aero yang kini mengendap di awan terarak –arak menuju ke sebuah tempat bernama ibukota. Beruntung iya tak berakhir di kali ciliwung yang kotor atau selokan mampet. Hujan menghempaskannya ke pelataran rumput, rumah sebuah keluarga. Ia merembes menjadi air tanah, tersaring mesin pompa rumahan, direbus didandang, dan masuk ke botol minuman seorang perempuan muda, bersama titik air lainnya.

Lain hal dengan Aera, ia melayang terarak mengikuti arah angin membawanya pergi. Jauh meninggalkan tempat dimana ia bersama –sama Aero menguap. Ia terombang –ambing di langit. Melewati kota –kota dan desa –desa, hingga sampai di sebuah hutan hujan yang hijau. Lembah –lembahnya mempesona, langitnya biru lazuardi. Lalu diguyurlah hujan hujan itu dengan air yang tumpah dari langit. Turunlah Aera berserta ribuan titik –titik air lainnya ke muka bumi. Menyentuh tanah ibu pertiwi yang masih subur. Mengalir ke dalam tanah, berkumpul, beriak –riak menjadi sungai. Indah bukan buatan.

Lalu apa hubungannya cerita 2 saudara tadi dengan kisah yang akan dituturkan nanti? Berhubungan sekali, Kawan. Kisah Aero dan Aera tak lepas hubungannya dari Kisah 9 orang anak manusia yang lagi –lagi tergerak dari sebuah mimpi. Walaupun mereka tak menyadari, perjalanan mereka sedikit demi sedikit menentukan nasib 2 saudara tadi.

Stasiun Senen

Zhafar

Bus

Tidur

Smile, Sleep, and Happy

Continue reading “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]”

Advertisements