MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 2 [ ORANG –ORANG DIBALIK MIMPINYA]


 

Gapura Cunthel

Rombongan

AGN

Berjalan

Orang – orang – rasio

Hutan Damar

 

ZFR

          Aero terguncang –guncang didalam botol minum yang ada di sebuah tas. Didalam gelap. Yang ia tahu, orang yang sedang membawa tas itu sedang berjalan. Tak henti berjalan. Sesekali guncangannya keras. Dan Aero hanya berusaha pasrah. Karena begitulah ia harus memenuhi takdirnya sendiri.

ORANG –ORANG DIBALIK MIMPINYA

         Tidak lengkap rasanya kalau kita bicara soal catatan perjalanan tetapi tidak tahu siapa saja orang –orang yang ada dibalik perjalanan itu. Maka, kalau buku ‘5 cm’ punya voltus gank, di perjalanan Merbabu ini kita punya 9 manusia,  yang membuat perjalanan ini tidak pernah sepi dari hingar bingar, celaan, dan aib masing –masing.

And here we go, I proudy present

The people’s who make this jouney soooooo colourfull,

AZM      : Yang pertama ini tipe pemimpin walaupun ga punya bawahan  [hehehehe] tebak siapa orangnya? Dia orang paling krusial di rombongan ini. Setiap kali kita dihadapkan kepada satu masalah atau persimpangan jalan, orang pertama yang kita tengok pastinya dia.  Dia selalu jadi tumbal untuk melakukan hal –hal berat sepanjang perjalanan [kasian]

AGN      : tipe humoris walaupun sendirian [ bukan gila yak!!]. lebih enak lihat mukanya kalau dia lagi diem, pasti bisa bikin perempuan langsung mengelus dada. Tapi kalau sudah buka suara, jangan harap dipuja, ditengok pun tidak.

KRN       : Wanita dengan sejuta ekspresi dan emosi, termasuk emosi jiwa -_-“

HLR        : orang aneh!! Seaneh –anehnya deh pokonya!! Tapi dengan berat hati harus diakui proporsi badannya memang bisa buat wanita –wanita berharap menyandarkan kepala mereka di bahunya. Ibarat pantun orang betawi : ada geledek di lumbung padi, pohon manggis bercabang –cabang, jikalau adek lagi bersedih, silahkan nangis di pundak abang [aihhhh! Matcan!]

FTR         : Perempuan ini sangat perkasa, tapi rendah hati, jadi pura –pura lemah saja. Walhasil, jangan heran kalau di jalur track yang landai lurus dia bisa jatuh juga [ kan pura –pura..hohoho], hayo siapa yang merasa??

DNI        : Buat wanita satu ini, hidup itu simple sekaligus rumit [haalahh..]. Apalagi saat jatuh tersungkur di jalur track antara pos 2 dan pos 3. Ibarat lagu, jatuhnya itu seperti lagu peterpan, sing : kaki di kepala kepala dikaki, mau bangun sendiri kok ya sakit, mau minta tolong kok ya maluu… jadi ya nyanyi aja lagi : kau hancurkan hatiku hancurkan lagi..

ZFR         : “gua adalah gua” dunia runtuh sekalipun dia ga peduli [ kecuali dia ketiban runtuhannya] hihihi. Makanya jangan heran di tiap persimpangan jalur sepanjang jalan, orang ini tidak bisa bertemu rumput empuk atau pohon rindang, pembawaannya tidur terus, ga peduli sekeliling.

JGB        : Seniman yang belum dilirik, dan inisiator yang imajinatif tapi kadang kurang kreatif hehehe [ piss,,,] . Kadang bisa jadi pujangga juga.

SNT        : yang ini serius banget, padahal lagi bercanda. Tipe pemikir tapi suka pusing dan kepikiran sendiri. Kalau ada masalah suka ga mau bagi –bagi  [ nyela diri sendiri]

         Kesembilan orang tadi dipersatukan oleh nasib dan campur tangan Tuhan untuk ikut dalam perjalanan ini. Tidak tahu apa rencana Tuhan hingga orang –orang yang tidak hanya punya latar belakang berbeda saja tapi juga sifat dan karakteristik yang sangat jauh dari sama ini di persatukan.

          Yang jelas kami memang berbeda. Berbeda seutuhnya. Dan kami bangga akan itu.

PROTES!!

          Ada yang protes, Kawan! Protes kenapa nama –nama orang yang mengikuti perjalanan ini hanya inisialnya saja. Protes! Mau tahu nama asli mereka itu siapa saja. Untuk itu aku akan sedikit beri bocoran ya, sebenarnya mereka – mereka itu siapa? Sttt jangan bilang siapa –siapa ya, Cuma kamu yang tahu!

 Iya, kamu!

***

          Yang wanita ada yang bernama Dini, ada lagi Karina, belum lagi Sinta [ menunjuk diri sendiri], yang satu bernama Fitri, wanita yang baru memulai perjalanan berharga ini seumur hidupnya. Sepanjang sejarah hidupnya ini adalah bagian terbaik yang katanya jika sudah punya anak, akan ia ceritakan sampai cucu keturunan yang ke tujuh.

        Nama –nama selanjutnya yang akan kutulis adalah rombongan ramboo. Makhluk –makhluk rasio ini kadang juga bisa berfikir lewat perasaan. Itu mungkin yang membuat sebagian dari kami [wanita], jatuh hati pada beberapa diantara mereka. Mereka melindungi, menjaga, menyemangati, memberikan peluang, mengatakan yang sebenarnya walaupun kadang itu menyakitkan, dan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain adalah memberikan kepercayaan saat kami sendiri sudah tidak percaya pada kemampuan kami sebagai wanita.

        Dan rombongan pemikir dengan logika ini adalah Azimy, kami beranggapan nama itu kurang cocok dengan perawakannya yang sipit dan putih untuk ukuran laki –laki maka dari dulu kami memanggilnya Jimi. Selanjutnya Helryan, panggilan kesayangan untuk laki –laki ini dari kami semua adalah Gembel. Ada Zhafar yang melihat mukanya saja bisa bikin kita ketawa, Dimas atau biasa dipanggil Jhebag, terakhir ada Agung.

WARTEG DENDANG GEMBIRA

          Terdengar bunyi piring beradu dengan sendok dan garpu. Rombongan kala itu makan seperti kesetanan. Lapar yang mendera sedari tadi mungkin menyebabkan kami makan tidak tengok kanan kiri. Setelah sebelumnya berada di dalam angkutan menuju ke Salatiga dan sempat ganti angkutan karena angkutan pertama yang mengantar kami dari stasiun Semarang Poncol mengalami masalah mesin, akhirnya kami sampai di kota Salatiga, tepatnya di Pasar Sapi.

          Tak sesuai dengan namanya, Pasar Sapi, kami tak melihat satu sapipun saat itu. Yang kami lihat adalah jejeran rumah makan, dan warteg –warteg pinggir jalan yang langsung membuat perut kami keroncongan. Maka, Jimi berinisiatif untuk mengajak rombongan makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Kopeng tepatnya ke desa Cunthel. Dan disinilah kami, di warung tegal yang sudah di temukan oleh Zhafar. Sedang asik memakan makanan yang menunya macam –macam sambil minum es teh. Tehnya rasa vanilla, ahhh sedapnya hidup kalau sedang begini.

          Makanan sudah habis. Dan saat bertanya harga dan membayar, semua orang dalam rombongan sangat setuju untuk kembali lagi kesana saat kami turun nanti dari mendaki Merbabu. Makan enak harga murah, ya disini. Aku menyebutnya “WARTEG DENDANG GEMBIRA”, karena setelah makan disana, perut, hati dan pastinya dompet jadi berdendang gembira suka suka. Ibarat alas kaki, makan di “WARTEG DENDANG GEMBIRA”, kualitas = sepatu higheels, harga = sendal jepit swallow.

 

SESUATU YANG BERKUALITAS TINGGI

          Bicara tentang sandal jepit swallow, kala itu rombongan sudah menaiki angkutan umum yang menuju Kopeng dan akan turun di gerbang masuk, desa Cunthel. Beberapa telah mengenakan sepatu track, sebagian masih memakai sandal gunung, dan satu diantara kami masih mengenakan sandal jepit swallow.

       Dini masih bersikeras untuk mengenakan sandal jepit kesayangannya itu, setelah sehabis makan sebagian besar dari rombongan bertukar alas kaki dari sandal ke sepatu tracking. Setelah bersiap –siap di “WARTEG DENDANG GEMBIRA”, kami langsung menaiki angkutan umum yang mengarah ke Kopeng. Perjalanan menuju Kopeng, seperti perjalanan di tempat –tempat asing lainnya pastinya seru dan tentunya indah. Hamparan pegunungan itu, hamparan rumput hijau itu, binatang –binatang ternaknya, penduduk –penduduknya, semua berkelebat di kedalaman penglihatanku. Jalan aspalnya berliku –liku, mengingatkan rombongan kami bahwa hidup pasti seperti itu. Indah Kawan, suatu hari Kalian harus kesana ya!

***

          Ternyata keindahan yang kami lihat dalam perjalanan menuju ke Cunthel merupakan sebagian kecil yang ditawarkan Merbabu pada kami. Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan yang sepertinya hanya 10 menit bagi kami karena pemandangan yang terhampar, kami sampai di gapura besar Cunthel. Di kaki gagahnya Gunung Merbabu. Di tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya kecuali Jimi. Aku bernafas dalam, mencoba membawa bias –bias udara ke rongga paru –paruku. Sejuk rasanya.

          Setelah turun dari angkutan umum dan tiba di gapura, hal berikutnya adalah berjalan menuju pos utama pendakian Merbabu. Rombongan berjalan santai melewati jalan yang masih berupa aspal. Melewati rumah –rumah penduduk yang disulap sebagai tempat penginapan murah. Di kanan kiri banyak papan –papan promosi tempat penginapan, karaoke, rumah makan sederhana, dan berbagai akomodasi sederhana, karena tempat itu juga adalah lokasi wisata air terjun “Umbul Songo” yang terkenal.

        Beberapa papan promosi sedikit menggelitik perutku, dan mengundang komentar –komentar jahil sahabat –sahabat perjalananku. Bunyinya ada yang seperti ini :

PENGINAPAN MURAH

Rp 25.000 ISTIRAHAT

Rp 45.000 MENGINAP AC, AIR PANAS

Rp 35.000 MENGINAP NON AC

       Ada juga papan bertulisan aneh yang ditemukan oleh beberapa orang dalam rombongan kami yang kebetulan kapasitas otaknya memang tak jauh dari hal –hal yang tak lulus sensor. Bunyi papannya kurang lebih :

JUAL KONDOM BERKUALITAS TINGGI

??????!! WTHF&KGTYSPEJGFJGAZZZZZ!!! [ penulis ga tau mau komen apa!! -_-“ ]

TITIK  – TITIK AIR DI CUNTHEL

          Hutan damar adalah pemandangan yang menyapa kami setelah kami melalui rumah –rumah penduduk sepanjang kurang lebih 1 km. setelah itu hutan damar dan kebun penduduk desa Cunthel menyapa penglihatan kami yang tak henti –henti mengagumi indahnya alam pedesaan di gagahnya kaki pegunungan Merbabu.

        Salah satu diantara rombongan yang memang bernaluri “ibu rumah tangga” langsung heboh waktu melihat kebun sayur yang subur – subur itu.

Tengok kekiri dia teriak,

“IHH IHHH ITU BROKOLI YA? IYA ITU BROKOLI!!!!”

Tengok ke kanan makin heboh,

“IHH ITU KAN DAUN BAWANG!! DAUN BAWANG!!!”

          Masih heboh dengan kebun sayur dan heboh juga dengan jalanan aspal yang kian lama dirasa kian tinggi tanjakannya, kami merasa ada sesuatu yang dingin menghantam kulit kami. Sesuatu yang basah. Dan kemudian, alam Cunthel menyapa kami dengan hujannya yang cukup deras. Cukup untuk membuat tubuh dan ransel kami lumayan basah. Tapi walaupun hujan mendera perjalanan menuju pos pendaftaran, kami terus melaju, kadang berlari –lari kecil, tak lagi merasakan jalan aspal yang masih menanjak.

          Dan tengah hari yang basah saat itu, kami tiba di pos pendaftaran pendakian gunung Merbabu Desa Cunthel. Disana kami akan beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan kami. Kali ini benar –benar mendaki, mendaki sebenarnya. Kali ini kami akan masuk ke sana, ke lorong –lorong jalur tracking Merbabu. Direngkuh oleh hutan –hutannya yang masih hijau, terjaga di antara malam –malamnya yang teramat sunyi, bermimpi diantara puncak –puncaknya yang sangat tinggi.

Dari sini semua dimulai dengan “berjalan”

***

 

Salam dari Desa

Ada anak kota pergi ke desa

Disana ia bertanya “apa yang ada di balik kerudung awan –awan yang tinggi itu?”

Ada orang desa bertemu anak kota

Ia menjawab

“Disana ada puncak –puncak mimpi yang didaki oleh orang yang berhati”

NEXT : KISAH MERBABU DAN DUA SAUDARA [ SEMANGAT MENGALAHKAN SEGALANYA]

Penulis : Sinta Muliyasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s