MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 3 [ SEMANGAT MENGALAHKAN SEGALANYA]


Basecamp Cunthel
Break
Dalan Tengah
Dalan Tengah 2
Its Real Beauty

Ada anak kecil yang suka bernyanyi, salah satu lagu kesayangannya adalah ‘Naik Gunung’. Dulu saat ia masih kecil, yang ia tahu judulnya bukan ‘Naik Gunung’ tapi ‘Naik –naik ke puncak gunung tinggi –tinggi sekali’. Orang tuanya tidak setuju, mereka bilang bahwa judul lagunya salah,

“Lagu anak –anak macam apa yang punya judul panjang begitu?!” kata orang tuanya

Si anak tetep keras kepala. Bagi dia judul lagunya  tetaplah ‘Naik –Naik ke Puncak Gunung Tinggi –Tinggi Sekali’. Dia menyanyikan lagu tersebut dengan riang dimana saja, kapan saja, terutama saat ia sedang jalan –jalan dengan kedua orang tuanya dan melihat pemandangan gunung yang terhampar di depannya. Dia terus bernyanyi lagu yang tak pernah ia tahu siapa gerangan penciptanya. Liriknya kurang lebih seperti ini :

Naik – naik, ke puncak gunung
tinggi – tinggi sekali
Naik – naik, ke puncak gunung
tinggi – tinggi sekali

Kiri – kanan kulihat saja
banyak pohon cemara
Kiri – kanan kulihat saja
banyak pohon cemara

BASECAMP CUNTHEL : MEREGUK KEHANGATAN DI TENGAH DINGIN

          Aku tersenyum simpul mengingat tingkahku saat kecil dulu. Teringat sebuah lagu kesayangan yang judulnya baru kutahu adalah ‘Naik Gunung’. Dulu aku menyanyikannya dan menyatakan judul lagu itu adalah ‘Naik –Naik ke Puncak Gunung Tinggi –Tinggi Sekali’. Setelah aku dewasa, ternyata judul lagu yang kutahu sebelumnya adalah salah. Dan itu sedikit membuatku frustasi juga.

“Mana ada lagu anak –anak yang punya judul panjang begitu?!” pikirku

          Sambil melamun memikirkan lagu zaman kanak –kanak dulu, aku mengikat tali sepatu trekkingku. Kawan –kawan seperjalananku yang

lain juga melakukan hal yang sama. Kami sedang bersiap –siap untuk mendaki. Untuk naik –naik ke puncak gunung, tinggi –tinggi sekali.

          Saat ini siang hari, dan kami masih berada di Basecamp pendakian Gunung Merbabu, di desa Cunthel. Sesaat  tadi kami dilanda hujan deras yang membuat rombongan kala itu basah kuyup, ditambah udara di Cunthel, desa terakhir di kaki Gunung Merbabu sangat dingin membuat banyak dari kami menggigil.

          Setelah beberapa saat menunggu penjaga basecamp yang bernama Pak Tono, sambil mencoba terus bergerak melakukan apa saja untuk menahan dingin, akhirnya Pak Tono tiba menyambut rombongan yang sedikit lagi membeku itu. Tak lama setelah pintu basecamp dibukakan, rombongan yang kedinginan tingkat akut itu segera masuk ke dalam, walaupun Pak Tono belum mempersilahkan. Pelajaran moral pertama dalam perjalanan pendakian kali ini : Kedinginan membuat orang tiba –tiba tidak tahu malu.

          Tapi ternyata dinding –dinding bata basecamp Cunthel seperti tidak berpengaruh, udara dingin tetap tak tertahankan. Masuk ke dalam, ke tiap celah –celah  ruangan yang ada disana. Anehnya saat pak Tono, sang penjaga basecamp beramah tamah kepada kami, udara dingin itu sekejap hilang. Keramahannya sedikit membawa kehangatan di tengah terpaan udara dingin selepas hujan tadi. Ditambah rombongan yang kala itu berjumlah lebih dari setengah lusin manusia, tak henti –hentinya bercanda dan saling cela satu sama lain.

Dingin disini malah semakin menghangatkan hati kami.

LAFAS DOA DI KAKI MERBABU

          Setelah disibukkan dengan persiapan pendakian. Mulai dari pakai sepatu trekking, nitip barang ke carrier Jebag, ngetawain Agung yang sibuk packing ulang daypack Zhafar, Ngeledekin Iti yang baru pertama kali pakai sepatu trekking, padahal biasanya perempuan ini Cuma bisa pakai sepatu ballet atau higheels, sampai menerka –nerka berapa lama kami akan sampai di pos III, pos dimana kami akan bermalam malam ini.

          Setelah sibuk dengan segala macam hal, rombongan memulai perjalanan pendakian kali ini dengan berdoa di depan Basecamp Cuntel. Lafas –lafas harapan akan keselamatan dan tujuan juga mimpi menyeruak di tiap helaan kata dan doa –doa.

         Doaku kali ini, tak muluk – muluk. Bukan puncak, atau apapun itu yang berbau pencapaian dan nafsu penaklukan. Doaku tak muluk –muluk, hanya sebuah harapan agar perjalanan kali ini bisa membuat kami lebih mengenal tentang makna sebuah perjuangan.

          Dan jika ada diantara kami yang akan menyerah, maka aku berdoa bahwa semua dari kami bisa bangkit dan tak menyerah untuk membuat kawan –kawan kami bisa percaya bahwa mereka mampu. Dan jika diantara kami sudah lelah, maka aku berdoa bahwa tiap –tiap dari kami akan saling menguatkan satu sama lain.

          Lafas itu telah aku panjatkan untuk Tuhan yang mungkin sekarang sedang memperhatikan kami. Di sini, di Kaki –kaki gagahnya Merbabu, sebuah tempat yang Ia ciptakan dengan penuh kesempurnaan.

Trekking Karin

RANSEL –RANSEL DAN SEPEDA MOTOR

          Suara gerungan knalpot yang aneh. Aneh karena kami mendengarnya saat kami tidak berada di area balap atau sirkuit, tapi karena kami sedang berada di tengah –tengah hutan hujan yang rapat, yang becek, penuh lumpur dan tanah gempur, bukan jalanan beraspal.

          Tapi gerungan knalpot itu makin lama makin jelas terdengar saat kami berada di pos bayangan 2 di jalur pendakian Gunung Merbabu, dan benar saja tak lama setelah kami memutuskan berhenti menghimpun nafas di sela –sela perjalanan menuju pos 3. Motor –motor trail dengan ban setinggi pinggangku itu bergerung –gerung melewati jalur tanah basah yang gembur. Berkelok –kelok melewati jalur pendakian yang tadi sempat kami lewati.

Gumuk

          Penunggang –penunggang motor trail itu sempat menoleh sedikit padaku dan kawan –kawan lain, dan aku sangat yakin bahwa mereka tersenyum ramah. Kalau saja tak dihalangi helm – helm safety yang mereka kenakan dikepala, setidaknya aku bisa tahu sedikit tampang mereka saat tersenyum itu. Penunggang –penunggang ramah itu sebelumnya telah kami temui di pos bayangan 1 atau biasa disebut dengan Dalan Tengah, di ketinggian 1858 mdpl* saat kami sedang beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Pengendara yang saat juga sedang beristirahat, kuhitung berjumlah tiga orang dan semuanya terdiri dari kaum laki –laki. Mereka  sepertinya mengambil jalur trekking memutar ke atas kemudian turun kembali dan mempertemukan kami kembali di pos bayangan 2 atau biasa disebut Gumuk di ketinggian 2035 mdpl.

          Saat beristirahat di Dalan Tengah,sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat beramah –tamah terlebih dahulu dengan para pengendara itu. Sekedar mengucap basa –basi dan saling menyemangati, kemudian masing –masing dari kami melanjutkan perjalanan. Mereka lalu meng-gas motor trail dengan ban setinggi pinggang itu, meninggalkan suara knalpot yang berderu –deru kencang di tengah kesunyian hutan.

Dan kami..

          Tetap berjalan dengan ransel –ransel dipundak pundak kami, meninggalkan jejak –jejak  kaki basah di atas tanah –tanah gembur di lereng –lereng hutan Merbabu.

Motor Trail

AIR SARINGAN [TAHU]!!

          Zhafar dan Karin orang terakhir yang berada dalam rombongan kami belum terlihat batang hidungnya juga. Kami saat ini sedang beristirahat sejenak di pos bayangan 2 atau Gumuk di ketinggian 2035 mdpl. Dan orang terakhir yang belum sampai disini adalah Zhafar dan Karin. Tapi kami yakin mereka akan segera tampak, karena tadi tak tertinggal terlalu jauh di belakang.

Thirsty

         Di pos Gumuk terdapat sebuah sumber air yang unik. Air yang mengalir dari sebuah mata air yang tak tahu dimana sumbernya itu di tampung di dalam sebuah wadah peluran seperti bak mandi. Terdapat 2 bagian terpisah dalam wadah itu. Bagian pertama berisi air kotor yang penuh daun –daun dan tanah dan belum di saring. Sementara b

agian lain yang terpisah berisi air yang bisa dibilang lumayan jernih.

“ Yang sebelah kanan airnya bisa diminum kok” Jimi berkata

          Aku menilik ke dalam wadah itu. Terdapat sebuah tutup dari seng yang di permukaannya bertuliskan sebuah kalimat yang membuatku mengernyitkan dahi. Tulisannya kurang lebih :

                 INI AIR SARINGAN TAHU!

          Aku diam antara bingung campur takjub dengan tulisan itu. Mencoba menerka –nerka arti kata terakhir yang ada di kalimat tersebut. Mencoba menerka nerka apakah ‘tahu’ yang dimaksud dalam kalimat ‘INI AIR SARINGAN TAHU’ itu adalah kata benda atau kata kerja. Bingung?? Sama, penulis juga bingung.

          Tapi tak lama Zhafar dan Karin tiba. Sebuah pemandangan manis terhampar di depan mata, Zhafar dan Karin gandengan!! Haduhhhhhhh..sebuah pemandangan yang bikin iri hati dengki sesaat. Hehehe.

          Tak lama setelah tiba di Gumuk. Zhafar langsung menenggak air dalam wadah yang bertuliskan ‘INI AIR SARINGAN TAHU’ tadi. Terjawab sudah, berarti kata ‘Tahu’ dalam kalimat itu merupakan kata kerja. -_-“

Side by side

SEMANGAT MENGALAHKAN SEGALANYA

          Perjalanan berlanjut. Tetap berjalan. Sekali –sekali aku menengok kearah teman baikku yang baru memulai pendakian ini seumur hidupnya. Fitri atau biasa aku panggil Iti. Dia yang tepat berjalan dibelakangku itu menoleh. Aku mencoba menerka raut wajahnya, apakah menunjukkan raut sedih dan lelah, atau raut senang.  Yang kudapat malah wajah tanpa raut emosi apapun, tanpa tarikan nafas kelelahan, dan kucuran keringat. Dan karena kejadian itu rombongan kami yang wanita saat itu setuju untuk memanggil iti dengan julukan ‘ Manusia tanpa paru –paru’, karena wanita ini ternyata lebih kuat dari dugaanku. Ia mengaku menikmati tiap perjalanan yang dilaluinya, pecah sudah kekhawatiranku. Tak ada alasan untuk mengkhawatirkan manusia yang berjalan tepat di belakangku itu, karena dia sedang menikmati tiap hal baru yang ia lihat di ketinggian dan di sunyinya hutan ini. Perasaannya selalu ia gumamkan oleh kalimat –kalimat yang bisa membuatku tersenyum dan bernafas lega,

“IHH TA, LIAT DEHH INDAH BANGET YAAAA…”

***

          Setelah beberapa jam berjalan. Kami tiba di sebuah landai yang tidak besar. Landai itu berada di jalur yang menikung ke kanan, tepat itu dikenal dengan pos 1 atau Watu Putut yang berada di ketinggian 2145 mdpl. Terdapat batu –batu besar yang bisa kami gunakan untuk duduk dan beristirahat. Tepat di sebelah kiri, jurang –jurang dengan hamparan lembah dalam yang hijau menyapa dari jauh. Kami takjub dan terpukau dengan apa yang kami lihat disana.

Shoes

          Setelah sempat rebutan gula jawa untuk penambah tenaga, kami melanjutkan perjalanan. Menikung ke arah kanan dan mendaki bukit lagi. Jalur yang kami lewati dirasa kian lama kian tinggi dan terjal. Tapi rombongan yang kala itu semangatnya masih terbakar masih bisa melewatinya. Setelah kurang lebih 1 jam, kami tiba dipos 2 atau biasa di sebut Kedokan. Di ketinggian 2300 mdpl itu kami bertemu dengan 3 orang pendaki yang mengaku baru saja turun dari pos 4. Rombongan itu berjumlah 3 orang, 2 laki –laki dan 1 wanita berkerudung sama sepertiku. Mereka sempat beramah tamah dan bercanda sedikit dengan rombongan kami yang kala itu memutuskan beristirahat sejenak di pos 2. Sempat bertanya sedikit tentang jalur menuju pos 3.

“Mas, Pos 3 masih jauh ya?”

“Ga kok itu di depan dikit lagi, ga jauh, jangan camp disini diatas saja lebih bagus pemandangannya” salah satu dari mereka yang pembawaan wajahnya paling gembira dan humoris berujar menjelaskan.

          Maka sore menjelang malam itu kami memutuskan untuk tetap mendaki dengan alasan bahwa camp craft di pos 3 akan lebih bagus dan memudahkan akses menuju puncak ketimbang disini dengan pemandangan masih berupa hutan hujan yang gelap.

          Beberapa saat sebelum rombongan kami dan rombongan yang kami temui itu berpisah, mereka sempat menggumamkan kalimat yang kami putuskan akan menjadi kalimat yang akan selalu kami ucapkan disaat raga kian lemah.

“AYOO!! SEMANGAT MENGALAHKAN SEGALANYA!!” ucap mereka bertiga sambil mengepalkan tangan.

Forest

MARI BERHITUNG!!

          Senja beranjak naik saat kami terus berjalan. Jimi sudah terlebih dulu lari ke depan, menuju pos 3 yang tak jauh lagi, bertugas mendirikan tenda agar saat rombongan tiba tenda sudah berdiri. Benar kan, Kawan, di awal sudah kubilang laki –laki ini selalu punya tanggung jawab besar di tiap perjalanan kami.

          TREKK,senterku berbunyi. sebuah sinar kecil menerangi jalan setapak di depanku. Hari beranjak senja dan jalur trek yang kami lewati menjadi gelap. Rombongan tetap berjalan. Konstan. Tak ingin berlama –lama di gelapnya jalur trek ini. Dan baru saja, landai besar jelas –jelas menipu kami semua. Landai yang kami kira pos 3 itu harus di telan mentah –mentah sebagai sebuah penipuan.

       Dari jauh, Jimi bersuara nyaring. Dia dan jhebag sudah tiba di atas, di pos 3, tempat kami akan bermalam. Dan rombongan, masih tertinggal di belakang. Sayup –sayup terdengar suara adzan dari kejauhan. Hanya sayup –sayup samar, karena jarak desa sudah jauh berada di bawah sana. Dan setelah memutuskan berhenti sejenak untuk menghormati panggilan Tuhan, kami melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi.

Forest 2

          Senter yang kubawa menerangi tiap jalur di depan. Sinarnya kuning redup. Tubuhku mulai lelah melihat di dalam gelap, dan kantuk paling gampang hinggap jika sudah berjalan di malam hari seperti ini. Jhebag yang menyusul rombongan sudah berjalan di depan terlebih dahulu. Aku berusaha mempertahankan jarak agar tak terlalu jauh dengan Karin yang tepat berada di belakangku. Dan tiba –tiba…

             STUCK..

          Karin ga mau bergerak di tempatnya, diam, terduduk di sebuah dahan pohon melintang yang ada di tengah –tengah jalur, sambil menangis, kelelahan sangat.

          Aku bingung, harus apa. Dari urutan posisi trekking kawan –kawanku, aku adalah satu –satunya manusia yang harus menyusulnya karena ia tepat berada di belakangku, dan itu berarti aku harus kembali turun. Oke, dengan sedikit berat hati karena juga sudah lelah, aku turun menjemputnya yang sekarang mulai sesenggukan. Pelajaran moral nomor 2 dalam perjalanan ini : menangis membuat fisik dan pikiran dipenuhi hal –hal negatif. Jadi aku mencoba membujuknya untuk tidak menangis.

Dan, kawan –kawan lain menawarkan bantuan yang tadinya aku tak setujui.

          Meninggalkanku, Karin, Zhafar, dan Agung yang saat itu menjadi rombongan terbelakang, dengan tujuan memanggil jimi terlebih dahulu untuk meng-cover keadaan Karin disini. Aku menoleh lemah pada Dini berusaha untuk memperlihatkan raut muka yang kurang lebih artinya : “Jangan Tinggalin gua disini, gua mau ikut keatas hiks hiks”, tapi rupanya, wanita berkerudung hitam itu tak mengerti raut mukaku. Ia malah menukar senter kecilku dengan headlamp-nya.

“Pake ini Ta, lebih terang! biar gua pake senter lu, gua duluan ntar jimi kesini” dan pergilah rombongan itu, Dini, Iti, Gembel dan Jhebag.

Zhafar Karin

          Tinggallah aku disini, aku mencoba membujuk Karin. Minimal agar ia mau berdiri saja dahulu. Dan akhirnya segala rayuan dan untaian kata semangat itu membuatnya sedikit bangkit. Kami berjalan sedikit demi sedikit, berusaha mengimbangi fisiknya yang mungkin memang sudah terlalu lelah. Mataku berkunang –kunang sesaat, aku menengok ke atas, mencoba mencari –cari senter kawan –kawanku yang terlebih dulu berjalan di depan. Itu dia, terlihat!

“Ayoo Karin, Dikit lagi tuh…” Aku, Zhafar, dan Agung mencoba menyemangati.

Agung berkata,

“Ayo hitung yuk langkahnya, sampe 10”

         Aku tersenyum simpul, sempat –sempatnya pake cara itu. Aku mengikuti saja, toh cara itu pernah berhasil dilakukan seseorang saat membawaku naik pendakian Semeru dahulu.  Aku bersuara, melangkahkan kakiku sambil menghitung dan menunggu Jimi menjemput kami.

1…2…3…4…5…6…

Terus, sampai sepuluh, tetap sambil berjalan.

          Aku tiba tiba ingat lagu masa kecilku, ‘Naik –naik ke puncak gunung tinggi –tinggi sekali’, sambil menghitung aku bernyanyi dalam hati, berusaha menghilangkan kegundahan hatiku.

Naik – naik, ke puncak gunung
tinggi – tinggi sekali

         Terdengar teriakan Agung menghitung langkah, aku menoleh, Karin tetap berjalan, kami tetap menghitung, 1,2,3,4, aku kembali bernyanyi dalam hati.

Kiri – kanan kulihat saja
banyak pohon cemara
Kiri – kanan kulihat saja
banyak pohon cemara

          Aku menengok  ke kiri dan ke kanan, tidak ada pohon cemara! lagunya berbohong! Aku merasa dibohongi! Sepanjang jalan tak kulihat satupun pohon cemara!!

Aku menoleh lagi, Karin tetap berjalan, kami tetap menghitung….

1…2…3…4…5…6…7…

Aku berharap Jimi cepat datang…

Trekking Agung

NEXT : KISAH MERBABU DAN DUA SAUDARA [ JIMMY DAN JALUR –JALUR YANG LANDAI ITU ]

Penulis : Sinta Muliyasari

11 thoughts on “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 3 [ SEMANGAT MENGALAHKAN SEGALANYA]

    1. hahahha bahan percobaan….gmna dengan sedikit perubahan postingan..? better..? atau ada masukkan lagi agar lebih enak di baca nya dan di lihat..?

  1. sejauh ini cukup menarik tambahan materi yg di usulkan bikin tulisan dan tampilan jadi lebih eye catchcy….
    Teruskanlaa mendaki dan menulis kisah kisah pendakian kalian….
    Jika sdh banyak literaturnya maka sdh cukup bahan tuk menerbitkan sebuah buku…..

    Good Job/Adventure Guys…..Keep Moving ON

  2. Good Job Guys…
    Usulan yg kemarin ternyata di pakai,tampilannya jadi lebih eye catchy
    Dari sisi penulisan cukup baik malah makin membaik karena istilah dlm ilmu mountaineering ditampilkan juga,, tetap pertahankan gaya ini ya ta…

    Good Adventure Guys…
    Foto foto Panorama perlu di perbanyak,,,sdh saatnya meng upgrade skill fotografi kalian…

    Well Friendship Relations Guys…
    Teman seperjalanan adalah Rekan kalian dalam mencapai tujuan…
    tetap di jaga dan diberi support abisszzz dengan segala cara yg kalian punya..walaupun lelah namun jangan lengah ataupun menjadi tidak peduli…itu sangat fatal apabila terjadi….
    Tuk leaderman….well u are very important in every trip u all guys doing so keep it that way man…upgrading the skill that u have and make it happen so it will be perfect some days…Just fight u’re limits Jim…

    1. mungkin vakum posting 1 bulan dulu dari sekarang kalo ada waktu di posting. mohon maaf sebelumnya..admin yang mengurus Web sedang dalam program KKN [Kuliah Kerja Nyata].

      jadi sangat minim akses Internet untuk mengupdate blog. jika memungkinkan Sub Admin akan mengupdate cerita terbaru kami.

      Mohon Maaf Seblumnya

      Salam Rimba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s