MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 4 [ JIMMY DAN JALUR –JALUR YANG LANDAI ITU]


Break
View
Wanita - Wanita
View 2
trekking zhafar -gembel

Awan dan Langit

Seorang wanita dengan jaket consina biru tua yang kebesaran duduk tepekur di lereng sebuah savanna. Dari sana ia melamun, melihat ke bawah, kehamparan awan yang putih bergulung –gulung, menerka –nerka bagaimana Tuhan menciptakan awan itu begitu indah. Tinggi, tak tersentuh, suci, bersih, pasrah kemana angin membawa mereka pergi.

Seorang wanita dengan jaket consina berwarna ungu muda berdiri. Melamun sendiri. Mungkin memikirkan bagaimana hamparan desa –desa dibawah sana bisa terlihat begitu indah dari atas sini. Dari ketinggian ini. Apa orang –orang dibawah sana bisa melihatnya berdiri disini??

Yang satu sedang termenung, diam seribu bahasa. Hanya sesekali terdengar lafas –lafas Subhanallah keluar dari mulut mungilnya. Matanya yang bulat sebulat pipinya, mereka –reka pemandangan yang terhampar di depannya. Bingung harus berkata apa. Bingung harus mulai dari mana. Hanya sesekali tangannya mencengkeram kencang jaket tebalnya yang berwarna merah terang. Menggambarkan kegelisahannya  diserang hawa dingin lereng pegunungan. Tapi hatinya hangat.

Karin dan Awan

Yang satu sedang berjuang mencapai ketiganya. Berjalan tertatih –tatih, setapak demi setapak. Dengan jaket hitam -birunya yang pas di badannya yang memang lumayan besar untuk ukuran wanita seumurannya. Mencoba berjuang untuk melihat apa yang ketiga temannya lihat

Jadi….

Wanita – wanita itu hanya saling tengok dan bingung sendiri harus berkata apa. Kadang tertawa dan tersenyum..

Sungguh ya,

Diketinggian ini aku melihat kalian begitu cantik, Kawan…

Bagian ini didedikasikan untuk kamu wahai perempuan, anda, dia, kita.. sesosok makhluk yang katanya lemah tapi tertanya jauh lebih kuat dari apa yang bisa kita bayangkan sebelumnya..

 

***

Agung - Gembel

    Aku melihat dalam keremangan tenda, ada kamu, Kawan. Nafasku masih terasa sesak, belum sembuh benar. Terimakasih ya, Kawan, setelah lelah dan berjuang melawan asma yang tiba –tiba suka kambuh sendiri, aku masih bisa menemukan diriku disini bersama kalian yang setia. Memasak, menyuapiku makanan hangat, menggantikan bajuku yang basah, sungguh kalian kawan –kawan yang sangat aku kasihi.

     Masih disini, didalam tenda yang gelap. Aku mencoba terlelap, dengan sejuta kesan yang masih terekam jelas. Ya, tiba –tiba ingatanku kembali ke waktu lalu, hanya beberapa jam sebelum aku berada di hangatnya tenda ini.

***

2458 METER DIATAS PERMUKAAN LAUT

Sinta-Dini-Iti

     “10!!!!”

               hosh hosh hosh..nafasku memburu satu –satu. Haduh ga bisa terus begini, aku harus segera sampai ke pos 3, memasak air hangat, ganti baju kering, pakai kaus kaki, ahh tapi tak bisa aku tinggalkan orang –orang dibelakangku.

            “Ayo Karin hitung lagi!” Agung yang menjadi orang paling belakang dalam barisan trekking ini berteriak lantang. Mungkin mencoba menyemangati kami dan juga dirinya sendiri, aku tahu ia juga pasti lelah bukan kepalang.

Dan kami…

Masih terus menghitung

dalam keremangan kegelapan hutan lereng Merbabu.

         Dan dada kiriku makin lama semakin sakit. Kualihkan rasa sakitku itu dengan menghitung dan bernyanyi tentang lagu masa kecilku dalam hati.

Yah, naik –naik kepuncak gunung tinggi –tinggi sekali apa lagi kalau bukan lagu itu.

Naik –naik ke puncak gunung

Tinggi –tinggi sekali                  

Haduh kok ga sampai –sampai ya pos 3

        Mendadak irama dan lirik lagunya kurubah seenaknya. Aku mengkhianati soneta dan lirik. Tapi kemudian bantuan besar yang kutunggu –tunggu akhirnya datang. Jimmy menyusul rombongan terbelakang ini.

“Sinta maju sama Agung, biar Karin sama Japar, Jimmy yang handle

Yak!! Aku menunggu kata –kata itu sedari tadi!!

tiga

Lalu, aku melesat bersama Agung menyingkap alang –alang yang menghadang pandangan dan jalan. Dan 15 menit berjalan, akhirnya aku sampai di savanna besar yang luas. Bulan dan bintang terlihat jelas, tak ada kanopi –kanopi pohon yang menghalangi.

Aku sampai!!

Akhirnya aku sampai pos 3!!

Sementara Karin, Japar, dan Jimmy tiba beberapa menit setelah aku dan Agung sampai.

Kulihat langit, bulan dan bintangnya bersinar terang. Seperti membisikkan sesuatu ditelingaku :

“Selamat Datang di Kergo Pasar” katanya

       Angin dingin berhembus, rumput –rumput dan ilalang ikut bergoyang.Kami tertidur lelap satu –persatu di hangatnya tenda.

Disini…

2458 meter diatas permukaan laut, aku menemukan malam-Mu begitu sunyi Tuhan.

TENTANG PAGI DAN GUNTING KUKU

Pagi itu asap tungku mengebul hangat. Aku mencoba membayar kebaikan teman –temanku yang tadi malam sudah sempat merawatku yang penyakitan ini, dengan berniat akan memasak sarapan. Pagi –pagi sekali, saat matahari mengintip di punggungan, aku keluar.

View 3

Mencoba menikmati hangatnya matahari pagi. Tapi sepertinya tak berguna!! Kabut dingin dan sedikit semilir angin cukup untuk membuat sinar matahari tak terasa. Kurang ajar!! Aku memaki dalam hati. Bukan hangat yang kudapat, kulit bibirku semakin pecah –pecah kedinginan.

      Tak lama Dini keluar tenda sambil mengeluh punggungnya sakit karena sebatang kayu yang melintang di bawah tenda. Matras kami ternyata tak cukup tebal untuk melawan kerasnya batang kayu itu.

     Belakangan kami memaki karena ternyata batang kayu yang kami kira akar pohon yang menyembul itu, ternyata sisa kayu pembakaran dari pendaki lain yang mudah dipindahkan. Tinggal tendang, harusnya si batang kayu itu tak membuat tidur kami bermasalah. Sayangnya, hal itu kami tahu belakangan sekali…

Belakangan sekali….

Saat pendakian ini sudah akan berakhir…

Sekarang, pendakian kami baru saja akan dimulai…

Baru saja….

Dini

Aku dan Dini pagi itu sibuk dengan kuku kami yang semakin menghitam. Aku malah jijik melihat jari –jari tanganku yang seperti habis main di comberan itu, maka pagi itu aku sibukkan diriku mencari guntingan kuku yang entah dimana.

Aku Tanya Dini..dia menyuruhku bertanya pada Gembel,

Aku Tanya Gembel..dia menyuruhku bertanya pada Dini,

       Oke, fine..aKu mengambil sebatang kayu kecil, kucongkel –congkel kuku –kuku hitam itu. Berjuang agar minimal saat terlihat tak membuatku jadi jijik pada jari tangan sendiri. Saat sedang berjuang menjangkau kuku –kuku jari, ku dengar bunyi,

tik – tik –tik –tik –tik –tik,

       Iramanya mengingatkanku pada sebuah benda yang aku cari sedari tadi. Kulirik Dini yang sedang duduk anteng di sebatang kayu besar di depan bekas unggun api yang sudah padam. Ia ikut melirikku, lalu tersenyum nakal..

       Ditangannya terdapat sebuah gunting kuku. Tik –tik –tik –tik, bunyi tadi ternyata bunyi gunting kuku yang sedang digunakannya untuk memangkas kuku –kuku kecilnya yang juga hitam. Aku berteriak protes. Jikalau dibuat sebuah percakapan singkat, kurang lebih seperti ini.

Aku        : Katanya ga ada!! Gimana dah…

Dini        : [hanya tersenyum, sambil terus memotong kuku.. tik –tik –tik, bunyinya..]

Aku        : Kok tadi dicari ga ada?? Katanya ga ada di lu, Gembel juga ga megang..

Dini        : [Dini melirikku kemudian tersenyum dan menjawab datar] Ternyata ada di Agung..

Aku        : Grhhhhhhhhhhhhh asdafefhaghhihaihiehahhd -_-“ [silahkan terjemahkan sendiri]

BUKAN PERJALANAN MACAM BEGITU

Gembel

       Mungkin bagi sebagian orang, perihal gunting menggunting kuku bukan perkara penting, tapi bagi kami dan mungkin beberapa pendaki, gunting kuku menjadi benda berharga tak ternilai harganya jika kuku –kuku sudah tak layak disebut bersih.

       Hal itu adalah hal –hal kecil yang dialami pendaki seperti kami. Masih banyak hal kecil lain, seperti  kram saat berjalan dan krim pijatnya raib tak ketemu saat dicari dan dibutuhkan, kelimpungan mencari sendok saat memasak gara –gara lupa menaruhnya dimana, lupa bawa tissue basah saat sedang buang air kecil, atau pada kasus ekstrim, tak sengaja meminum spiritus yang ditaruh di botol air mineral karena dikira itu air putih [ percaya Kawan, susah membedakan mana spiritus dan air putih jika berada di wadah yang sama dan tak diberi tanda apapun]

       Jika ditanya apa kami pernah mengalami hal –hal macam begitu. Jawabannya, ya.. bahkan saat sedang trekking sekalipun, kejadian –kejadian kecil itu terjadi pada kami. Seperti sekarang, banyak kejadian yang akan aku ceritakan padamu, Kawan. Tentang perjalanan menuju ke puncak –puncak Merbabu. Perjalanan yang penuh dengan luapan emosi, jika aku boleh bilang seperti itu. Tak berlebihan kurasa. Karena ini bukan hanya sebatas perjalanan ego, antara berdiri puncak atau tidak, kuat atau lemah, sampai atau tidak sampai..

Tidak –tidak…

       Perjalanan kami bukan perjalanan macam begitu, jika perjalanan kami macam itu tak bisa kubuat catatan perjalanan macam ini.

ZHAFAR DAN SENANDUNGNYA DI KERGO PASAR

    Jika diibaratkan sahabat, Matahari pagi adalah sahabat terbaik, hangat, cerah, riang, seperti terus tersenyum. Pembawaannya menggembirakan hati dan pikiran. Sinarnya yang lembut tak terlalu panas mengingatkanku pada kawan –kawan seperti Kalian.

view 4

       Tapi sahabat pagiku itu terkhianati oleh kabut dan dinginnya angin di lereng –lereng Merbabu. Walaupun Mentari [panggilanku untuknya], si sahabat baikku pagi itu sudah sekuat tenaga membawakan sinarnya menuju kepadaku, kabut dan angin dingin seketika menyingkapnya, hingga tak lagi bisa kurasakan kebaikan hati dari si Mentari.

       Aku menggigil kedinginan sambil menyiapkan sarapan pagi itu, seporsi besar Spagheti sudah siap untuk makan pagi Kawan –kawan seperjalananku. Pagi yang menakjubkan. Gambaran pagi yang sempurna menurutku. Bangun dipagi hari dimana saat kalian memandang ke segala penjuru arah, hanya ada kalian dan hijaunya hutan hujan pegunungan, udara yang sejuk, awan –awan yang bergumpal dan jangan lupakan sahabat pagiku tadi, siapa lagi kalau bukan Mentari.

      Oke, aku mau sarapan dulu ya Mentari!! Kulirik sahabatku yang selalu bertengger diatas langit itu, berharap agar sepanjang hari itu ia tak hilang dari pandanganku, berharap ia tak menjauh dariku dan Kawan –kawan selama perjalanan menuju puncak berlangsung, berharap ia akan menyingkirkan awan –awan hitam bergumpal yang bisa menjadi hujan, berharap dia akan mengusir desiran kabut –kabut, berharap perjalanan Kami ke puncak –puncak Merbabu berjalan lancar tanpa hambatan.

     Mentari tersenyum dalam terangnya, seperti berjanji bahwa ia akan selalu berada di sampingku [dalam kasus kali ini, berada di atas kepalaku, di langit]. Aku sesekali meliriknya, tak mau ketauan sahabat –sahabatku. Biarlah, persahabatan aku dan Mentari hanya kami berdua yang tahu [ pelajaran moral nomor 3 dalam perjalanan ini, alam bebas membuat seseorang tiba –tiba punya dunia khayal tinggi].

       Setelah sibuk beres –beres peralatan sisa sarapan pagi, Kami, Sembilan orang dalam rombongan bersiap –siap untuk melakukan summit attack pagi itu. Jika ada soundtrack yang pas untuk kami pagi itu mungkin lagu –lagu penyemangat yang beat nya sedikit kencang.

Awan lagi dan Langit lagi

      Hmmm, biar coba kuingat –ingat, mungkin lagu –lagu macam kepunyaan Bon Jovi, Avenged Sevenfold, atau sekalian Metalica yang cocok menggambarkan pagi hari yang penuh semangat ini. Yak!! Aku membayangkan lagu –lagu itu diputar untuk jadi soundtrack perjalanan kami menempuh lereng –lereng menuju puncak –puncak Merbabu. Tapi entah kenapa tiba –tiba yang terdengar alunan lembut sebuah musik yang keluar dari speaker portable kepunyaan Zhafar menghancurkan bayangan music rock metal yang tadi kupikirkan. Lagunya mendayu –dayu merdu, penyanyinya seperti sudah dibohongi wanita jutaan kali hingga suaranya terdengar penuh duka lara dan luka sembilu. Aku melirik, Zhafar ikutan bernyanyi –nyanyi kecil, bayangan semangatnya pagi dengan soundtrack rock metal itu terhapus oleh sebuah lagu Mellow yang dinyanyikan penyanyinya dengan suara yang menyanyat –nyayat hati,

       Aku melirik Zhafar, masih bersenandung ia, senandungnya memenuhi ruang udara di Kergo Pasar pagi itu, bunyinya kurang lebih seperti ini,

Tetes air mata basahi pipiku

Di saat kita kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku
Takkan kulupakan dirimu
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang

Mungkinkan kita kan slalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
Tuk melepaskan semua kerinduanku

       Ada yang ingat itu lagu siapa?? Stttttt!! Jangan bilang siapa –siapa ya? Cuma kamu yang tahu, iya! Kamu, Kawan…

RIMBAAAAAA!!!!

      Aku dan kawan –kawan dalam rombongan sedang berjuang berjalan setapak demi setapak menuju ke ujung bukit. Aku menatap jalan setapak di depanku lalu menoleh ke arah belakang, dari sana aku masih bisa melihat tenda domerombonganku yang ditinggalkan di pos 3, Kergo Pasar.

Karin

      Tenda rombonganku yang berwarna kuning itu sangat kontras dengan hamparan bukit –bukit di sekitarnya yang hijau, membuat ia gampang dikenali dari jauh. Melihat dari ketinggian seperti ini, aku tiba –tiba teringat dengan kejadian yang baru kualami tadi.

Baru sekali…

Sesaat sebelum kami bergegas melakukan perjalanan menuju ke puncak Merbabu..

       Aku dan rombongan yang  sebagian besar sudah siap melakukan pendakian lanjutan itu saling bantu membereskan keperluan yang ada. Setelah selesai sarapan dengan sepanci besar Spagheti, kami berkumpul membentuk lingkaran kecil. Aku menatap diriku sendiri dari bawah hingga atas, mencoba menerka –nerka apa yang kurang.

     Sepatu trekking sudah terpasang rapih di kaki mungilku, jaket consina biru tua yang kebesaran [ karena minjem] sudah hangat dibadanku, senter, ada di kantung jaket, Yup! Lengkap. Aku melihat Kawan –kawanku satu persatu, jaket –jaket yang kami pakai sekilas mirip lollypop warna warni.

tendanya...jauh..

Dini dengan consina ungu mudanya, Karin dan Zhafar dengan Jaket hitamnya, merah meronanya jaket Iti, Agung, dan Jebag, dan Flanel kotak –kotak yang dipakai Gembel dan Jimmy membuat rombongan kami sekilas mirip gulali yang dijual di pasar. Meriah.

       Aku berada dalam lingkaran kecil itu. Sejenak kami menundukkan muka, berdoa agar Tuhan berkenan mendengarkan permohonan kami. Tak muluk –muluk, agar kami diberi kekuatan di setiap langkah kaki kami, dan agar Tuhan melindungi kami dimanapun kami berada, karena di ketinggian ini, segala hal bisa terjadi, bahkan yang terburuk sekalipun.

       Sebuah tangan terjulur ke tengah lingkaran. Yang lain menyambutnya, melakukan hal yang sama. Hingga tangan kami menumpuk menjadi satu di tengah lingkaran. Dan saat tangan –tangan itu terangkat ke udara berbarengan. Sebuah teriakan keluar dari mulut salah seorang rombongan.

“RIMBAAAAAAAA!!!!!”

Mendengar teriakan itu hatiku terbang setinggi langit….

JIMMY DAN JALUR –JALUR YANG LANDAI ITU

Iti - Sinta

      Ada sebuah kalimat yang selalu saja aku benci saat aku sedang trekking selama perjalanan ini. Entah berapa kali laki –laki ini menyebutkan kalimat ini sepanjang perjalanan, mulai dari saat pertama kali mulai trekking dari batas desa Cunthel, hingga sekarang saat kami sedang berjuang menuju ke puncak pertama dari pesona 7 puncak yang ada di Merbabu, puncak Pemancar, atau yang biasa orang lain sebut dengan pos IV [ Pos Pemancar ], 2883 meter diatas permukaan laut.

      Aku masih berdiri. Ku lihat Karina sedang berjuang mencapai tempat ku berdiri. Dini, Iti, Jebag dan Jimmy yang sudah dulu sampai puncak bukit ini sedang terdiam melihat ke sekitar, ke hamparan pemandangan menakjubkan. Ke lautan awan yang tercecer –cecer berjauhan, dengan hamparan pemandangan kotak –kotak berwarna hijau cokelat di kejauhan, yang saat kuperhatikan lebih seksama lagi, itu adalah hamparan pedesaan di tumit –tumit gagahnya Merbabu.

jebag

      Sementara rombongan lainnya, Zhafar, Agung, dan Gembel masih berada di belakang Karin. Karin tiba di puncak bukit. Aku tersenyum melihatnya yang penuh peluh. Kuperhatikan wanita –wanita dalam rombonganku. Mereka bahkan masih terlihat cantik dalam balutan tebal jaket –jaket pendakinya. Kekuatan dan kelembutan, hal  itu yang membuat mereka menjadi lain dari kebanyakan makhluk Tuhan. Apa ya? Yang Tuhan pikirkan saat dulu menciptakan makhluk seperti kami…. Wanita…

      Dan setelah semua mencapai puncak bukit, kami melanjutkan lagi perjalanan yang kali ini tujuan awalnya adalah Puncak Pemancar atau Pos 4, sebelum lanjut ke tujuan berikutnya yaitu Puncak Kawah Gunung Kukusan di 2928 mdpl, lalu menuju ke pertigaan antara puncak Syarif [3119 mdpl] dan Keteng Songo [3142 mdpl], yang sebelumnya akan melalui sebuah tempat bernama Jembatan Setan.

      Aku sedang mengambil nafas panjang, saat kalimat yang kubenci itu di keluarkan dari mulut salah seorang dari rombongan

“Ayooo, dikit lagi, didepan landai tuh” Jimmy berkata tanpa muka bersalah

      Aku menghitung dengan jari. Yak! Tak terhitung ia berkata menggunakan kata “Landai” yang diartikan secara KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah :

menurun sedikit demi sedikit; agak miring; tidak curam (tt tanah, tepi sungai, pintu, dsb): pantai utara Pulau Jawa –; 

Jimmy di Tepi Jalur

       Okeh! Sepertinya menyenangkan bukan artinya? Bagi pendaki “Landai” itu kata keramat yang artinya kurang lebih “ Ga nanjak”, “Ga capek”, “Ga ngos –ngosan”

   Aku menoleh kearah jari Jimmy menunjuk. Kulihat disana tidak ada semacam apa yang Kamus Besar Bahasa Indonesia Artikan dengan menurun sedikit demi sedikit, tidak curam, atau agak miring. Okeh! Aku tahu dari awal itu hanya akal –akalan Jimmy agar membuat trekkingkami menjadi lebih semangat.

       Aku dan Rombongan terus berjalan hingga tempat yang ditunjuk Jimmy sebagai tempat yang landai tadi. Lalu lanjut berjalan lagi, istirahat sebentar, lalu lanjut berjalan, Karin

tertinggal di belakang, Jimmy kembali berkata Landai, Karin jalan lagi, Jimmy berhasil menipu mentah –mentah Karin, rombongan berjalan lagi, disebuah tanjakkan terjal kami tertahan, keletihan, Jimmy yang sudah sampai ujung tanjakan menengok ke kami dan berkata,

“Ayooo di depan Landai tuh…landaiiii banget”

Aku tiba –tiba ingin sekali melempar sepatu trekking-ku ke mukanya -_-“

DI ATAS AWAN, DI BATAS HORIZON

zhafar - gembel

      Aku melihat dari ketinggian di Puncak Pemancar, Pos IV, tenda dome rombonganku yang kuning menyala itu masih terlihat, hanya sekarang sangat kecil. Beberapa menit yang lalu saat aku tiba disini, di Pos Pemancar di ketinggian 2883 mdpl, aku takjub akan pemandangan yang terhampar. Tak ada yang bisa aku ungkapkan di ketinggian ini.

      Tentang awan, lagi –lagi awan yang bergumpal –gumpal itu, langitnya yang biru lazuardi, hutannya yang hijau sehijau batu zamrud, angin dinginnya yang menyejukkan, hamparan desa –desa di bawah sana, di kaki kaki pegunungan itu. Aku disini sekarang. Merasa sangat dekat dengan Tuhan. Langitnya seakan tersentuh tangan, langitnya seakan bisa ku gapai, aku merasa di tempat setinggi ini, saat berdoa apapun Tuhan akan mendengar, karena dekat dengan langit.

     Aku melihat kawan –kawanku yang kelelahan. Mereka sepakat beristirahat sejenak disini sebelum melanjutkan perjalanan lagi, dan aku sangat setuju, aku sangat suka sekali ada disini.

Disini,

Di atas awan, dibatas horizon…

Langit seperti tidak tersekat ruang…

Aku makin jauh merenungi  kebesaran-Mu Tuhan…

NEXT : MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 5 [AIR MATA DI LERENG MERBABU]

Penulis : Sinta Muliyasari

Awal Cerita MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]

7 thoughts on “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 4 [ JIMMY DAN JALUR –JALUR YANG LANDAI ITU]

  1. Well… I got nothing to say…….

    To Shinta : Makin kemari tulisannya makin jelas menginspirasi bagi orang untuk kembali mendaki gunung hutan lagi, dan juga sangat memotivasi bagi mereka yang baru atau belum pernah sekalipun mendaki gunung hutan.. that its good things

    To Jim & Gem : Just Flanel No Jackets …. Brow

    To Zhafar & Karin : Yang sabar ya walau sering di tipu dg kata “Landai”

    To Jebag : klo di foto tuh senyum ngapa???

    To Agung : Coba pelajari, dan pahami ttg back up system pada tiap pendakian yg lo jalani,,gung lo punya bakat dan kemampuan tuk itu semua,,man

    For Womens : U all Just doing something great in a lifetime,,so keep it up & never say never to SURRENDER……

    *MWWS 8

  2. ..cerita yang bagus…tulisan yang bagus..pengalaman yang bagus..
    berbagi ilmu..berbagi wawasan dan berbagi pengalaman akan lebih berarti dan memuaskan hasilnya…untuk aku , kamu dan untuk kita semua….

    ..godbless U all….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s