MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 5 [AIR MATA DI LERENG MERBABU]


Nama saya Sinta Muliyasari. Orang biasa memanggil saya Sinta. Sebagian sahabat punya nama kecil untuk saya, nama kecil itu Nta. Entah siapa yang pertama memanggil saya seperti itu, tapi nama itu sudah melekat dan rasanya jadi identitas diri sendiri untuk saya sebagai wanita.

Hari ini….Hmmmmm coba kita tengok kebelakang apa saja yang saya lakukan di hari yang kelabu ini. Yang jelas hari ini hari tersendu saya sebagai seorang wanita. Jangan Tanya kenapa dan bagaimana.   Jangan tanya itu. Karena bagaimanapun juga hati wanita lebih dalam dari lautan untuk menyimpan sebuah rahasia, apalagi sebuah luka. Yang jelas, pagi ini dimulai dengan membuka situs jejaring sosial dan menemukan fakta yang sangat menyakitkan untuk seorang wanita macam saya ini. Dengan predikat wanita tegar pun tidak mampu membuat saya tak jatuh dalam masalah sedalam ini. Dan dengan segala kepenatan yang ada dan sahabat yang sedang tak bisa berada di samping saya, penat itu kemudian berubah menjadi rangkaian kata yang meluncur menuju wall post sebuah grup di jejaring sosial tersebut. Sebuah grup yang tak pernah pandang dari mana orang itu berasal, dan punya tag line seperti ini – Mari Bersahabat, Mari berbagi.

Dan rangkaian kata yang tersusun sebagai kalimat yang berada di wall post grup itu kurang lebih seperti ini :

“kawan2!!..saya sedang “Feel Blue” nih [bukan film biru ya!!] lagi sedih sekali, tolong semangatkan saya dong!!!🙂 :)”

Dan wall post ini kemudian menggugah beberapa orang berkomentar. Ada yang benar – benar menyemangati, ada yang hanya berteriak ‘semangat’ dan berlalu, ada yang berpetuah panjang lebar. Semua tak mempan, hingga satu kalimat dari salah seorang kawan di grup itu membuka pikiran saya untuk sekedar bersyukur dan berbagi kisah.

Sebut dia Mas Eross, dengan kerendahan hati dan kepeduliannya terhadap orang lain yang bahkan tak dikenalnya membuat saya berfikir 2 kali untuk sekedar menyalahkan orang lain. Berbeda dengan kawan –kawan di grub yang mengomentari langsung di wall post yang saya kirim. Mas Eross berkomentar di sebuah foto profile yang sudah lama tak saya pajang di situs jejaring sosial milik saya.

Foto itu menampilkan sebuah gambar dua anak manusia yang sedang tersenyum lebar. Dua wanita dengan segala latar belakang kehidupan berbeda. Salah satunya saya dan wanita lainnya adalah sahabat seperjuangan. Saya dengan jaket biru tua yang kebesaran tersenyum sumringah dengan tangan berbentuk V merangkul wanita disamping saya yang juga tersenyum lebar, dengan latar belakang awan –awan di ketinggian dan desa –desa yang membentuk kotak –kotak cokelat tua di kaki gunung dibawah sana, di kaki gunung yang saat itu telah saya daki.

Tepat dibawah gambar manusia –manusia dengan senyum sumringah itu Mas Eross berkomentar :

”kenapa harus sedih, sis? Inget dan bayangin lagi deh perasaan waktu ada di tempat yang ada di gambar ini? ga semua orang bisa dan dapet kesempatan berdiri di atas sana. klo kata temen saya, banyak –banyak bersyukur aja🙂. mari bersahabat.. mari berbagi untuk indonesia..jangan sedih lagi ya sis..”

Dan saya….

Tercenung …Menyesal…

Membaca komentar  itu, mengingatkan saya tentang sebuah perjalanan hati bersama sahabat –sahabat terbaik. Membaca komentar itu membuat saya rindu tentang perjalanan dengan proses. Mas Eross dengan segala kerendahan hatinya, menghibur saya dengan cara yang juga sederhana.

Dan saya tiba –tiba ingin menulis tentang bagaimana rasanya berdiri di atas sana. Dengan awan –awan dan sahabat terbaik, juga dengan langit yang seakan tergapai, tentang perasaan berada di atas tempat tinggi yang seperti menyentuh langit, menyentuh tubuh Sang Pencipta yang tiada duanya. Dan tulisan ini selain untuk kalian kawan, kupersembahkan untuk Mas Eross, sahabat jauh yang tak pernah berjabat tangan, tapi mampu membuat saya tersenyum dan bersyukur untuk kesempatan menundukkan kepala dan berdoa, dan atas segala kesempatan untuk saling mendengarkan dan berkata.

***


KAWAH PUTIH PUNCAK KUKUSAN

“Its not just about a winning, its about the process to get there”

          Ini kisah yang sama dengan kutipan kalimat diatas. Bukan masalah kemenangan, tapi bagaimana proses menuju kemenangan itu. Kisah ini tentang kisah kemenangan yang lain. Yang didapat dengan cara yang tak biasa, dengan proses luar biasa, dengan perjalanan sebuah hati.

Aku dan beberapa kawan telah menjalaninya. Di tepi jalur –jalur, dan jalan setapak yang kian meninggi ini. Disana, dibatas birunya langit, pancang –pancang bumi yang tegap dengan titik triangulasi [titik tertinggi sebuah tempat / puncak] nya seakan memanggil kami untuk bisa berada diatas sana.

Aku salah satu yang menginginkan itu. Salah satu orang dalam rombongan ini yang menginginkan berada di atas sana. Di tempat paling tinggi yang ada di barisan bukit di Merbabu ini. Pertama melakukan perjalanan ini, titik –titik tertinggi itu menjadi semacam tolak ukur kemenangan dalam diriku. Titik –titik tertinggi itu menawarkan rasa bangga akan sebuah pencapaian. Maka aku jadi sangat terobsesi dengan puncak –puncak gunung itu, dan dalam perjalanan ini, kutemukan obsesi itu salah besar.

          Setelah meninggalkan puncak menara, atau yang biasa orang sebut dengan Pos Pemancar, rombongan melanjutkan perjalanan. Melewati tempat bernama Kawah Putih. Sebuah tempat dengan pemandangan lain yang ditawarkan alam Merbabu padaku dan sahabat –sahabat terbaikku.

Apa ya? Yang bisa kuceritakan tentang Kawah Putih. Tempat ini begitu sunyi, tenang, dan berhawa dingin. Aromanya begitu lain dari kebanyakan tempat yang ada di lereng –lereng jalur Merbabu. Dari pos IV atau pos pemancar, kita akan melewati jalan setapak selebar 1 sampai 2 kaki yang menurun. Disamping sebelah kiri jalur, ada lembah dalam yang berada di bawah dengan hamparan kawah dan batu –batu seputih kapas, berjejalan. Dari kejauhan rombongan melihat di dasar kawah yang datar banyak sekali batu –batu yang tersusun rapih yang membentuk kata –kata yang sengaja dibiarkan oleh para pendaki yang sengaja menyusun batu –batuan tersebut untuk membentuk kalimat –kalimat. Aku menilik satu –persatu tiap kata yang ada di dasar kawah yang tersusun dari batuan kawah itu. ada yang menyusun batu menjadi nama organisasi mereka, nama orang, kata mutiara, di beberapa bagian ada yang menyusun batuan menjadi angka –angka yang berjejer beraturan. Kutatap dari kejauhan sebuah tulisan yang berbentuk angka –angka tersusun di dasar kawah, kuduga itu tanggal jadian sepasang kekasih. Pelajaran moral nomor 4 dalam pendakian kali ini : romantis dan kurang kerjaan adalah dua hal yang berbeda tipis -_-“

YANG HILANG BERKERUDUNG AWAN

Setelah melewati Kawah Gunung Kukusan, rombongan berjalan melewati pinggiran bukit dengan hamparan edelweiss di kanan kiri track pendakian. Sepanjang jalur aku merasakan rangkaian tangkai bunga abadi itu menggugahku dan membuatku tersenyum. Entah untuk apa. Tapi memang alam pegunungan Merbabu menjadikanku sedikit gila, sedikit –sedikit tersenyum, entah untuk siapa dan apa. Kawanku bilang,

“Saking indahnya, ga bisa berhenti senyum…”

          Ya Kawan, jawabannya hanya itu, dan aku tak sabar menunggu bagaimana  indahnya puncak –puncaknya. Rangkaian titik triangulasi itu menjadikanku orang yang tiba –tiba tak gampang menyerah. Saat kaki terasa terbakar, tumit dan sepatu trekking cokelatku terasa menyerah, aku sendiri tak mau. Panas dan tanjakan tinggi yang menyapa tak membuatku menghilangkan niat untuk menjejakkan kakiku diatas tanah tinggi itu. Walaupun dengan langkah terseret –seret kelelahan, aku tetap berjalan pelan –pelan.

Disatu tempat, setelah melewati jembatan setan, kami beristirahat. Tempatnya di landai yang tak begitu besar. Dikanannya lembah –lembah menganga dan bersatu di ujung bukit yang tinggi. Dari kejauhan terlihat titik –titik warna cerah di tempat dimana lembah –lembah itu bersatu menjadi sebuah lereng yang sangat tinggi. Kucermati titik –titik cerah itu, dan mendapati itu adalah anak –anak manusia. Tiba –tiba Jimi berkata,

“Ayo, itu puncaknya..dikit lagi tuh”

          Oke, mungkin agak tidak real  mengatakan itu sedikit lagi. Kami mendapati lereng itu sangat jauh, masih harus melewati jalur di pinggir bukit – bukit, entah bukit ke berapa. Lalu terlihat jalur tanah yang menanjak curam, setelah itupun Jimmy masih berkata harus melewati beberapa bukit lagi. Oke, mungkin tidak dekat, tapi setidaknya kami tahu itu ujungnya. Terlihat dari sini, dan tempat yang masih bisa terlihat berarti masih bisa dijangkau kan?! Pikirku.

Tapi saat kulihat beberapa kawan dalam rombongan ini, aku merasa puncak itu sedikit hilang tertutup awan.

Entah mengapa..

AIR MATA DI LERENG MERBABU

Aku menggenggam jaket avtech biru tuaku. Kadang –kadang menunduk, menyembunyikan wajahku diantara kedua lututku. Matahari memang sangat panas siang itu, tapi bukan karena panasnya matahari aku menyembunyikan wajah dalam –dalam saat itu.

         Aku menatap Karin yang menangis sesenggukan. Makin lama helaan nafasnya semakin pendek –pendek. Dadanya naik turun semakin cepat, memburu satu –satu. Aku?? Aku hanya bisa mencoba menenangkannya, memberinya air dalam botol mineral ukuran satu setengah liter yang terisi tinggal sepertiganya.

Aku melihatnya, melihat semua kawan –kawanku yang terduduk di tepi jalur. Di gundukan –gundukan tanah berdebu di tengah udara panas ini. Tampang dan wajah –wajah mereka tak bisa kulupakan satu –satu. Dini dengan semangat membaranya sepanjang perjalanan ini, Iti dengan rasa ingin tahunya tentang segala hal baru, Jimi dengan tanggung jawab besar yang ditanggungnya, Gembel dengan segala candanya yang meringankan beban, Agung orang yang selalu meng-cover tiap keadaan kami, Jhebag dengan kerendahan hati dan kesederhanaan tujuan, Karin dengan segala emosi dan perasaannya, dan tentunya Zhafar dengan segala tujuan dan mimpi yang menjadikan kami para sahabatnya ingin sekali mewujudkan itu. Sadar atau tidak, kami disini karena puncak –puncak triangulasi itu adalah impian Zhafar, sekarang itu juga menjadi mimpi kami, mimpiku, mimpi kalian, kawan –kawan yang sekarang sedang ada di hadapanku.

Tapi mimpi itu harus terhapus sebentar….

Terhapus air mata salah satu Sahabat yang jatuh di lereng ini…

Dan aku??

Aku merundukkan muka lebih dalam dari sebelumnya…

          Mengingat segala ego dan emosi yang membuncah membiarkanku PERNAH MENYALAHKAN kalian, kawan….

INI CERITA TENTANG ZHAFAR

Jauh sebelum aku ingin sekali menangis di tepi jalur di lereng Merbabu itu, ceritanya berawal dari sosok kawan bernama Zhafar. Ia pernah bermimpi melihat apa yang telah kawan –kawan lain lihat di atas puncak sebuah gunung, pernah bermimpi ingin juga merasakan perasaan kawan –kawannya saat tak ada lagi tanah tertinggi selain yang mereka pijak. Ya, Zhafar pernah bermimpi itu.

Dan kami, entah mengapa ingin sekali mewujudkan itu. Maka, dibuatlah perjalanan Merbabu ini. Semata –mata bukan hanya untuk mengisi liburan, atau sekedar bersenang –senang. Hanya ingin mimpi dari salah satu sahabat terbaikku itu terwujud. Ingin melihat ia tegak berdiri, bisa bangga dengan sebuah pencapaiannya sendiri dan berkata di tempat paling tinggi itu,

“Gua bisa sampai puncak juga!!”

Tapi Tuhan…

Berkisah lain…

***

          Kawan –kawan Zhafar yang lain sudah lebih dulu berada di depan. Kawah putih puncak Kukusan telah ia lewati, tapi tetap tak mampu mendahului kawan lainnya yang sudah dulu berada di depan. Zhafar melihat perempuan yang berjalan beriringan dengannya, Karin hampir menyerah saat akhirnya bisa ia bujuk untuk terus berjalan. Tapi kenapa, raganya seperti menolak juga untuk melangkah, bayangan menyerah juga selalu muncul di depan mata.

Lelah itu terus mengikuti pikirannya…

Kakinya terasa berat…

          Hanya Jimi yang masih ngotot menarik tangannya dan Karin jika mereka berdua tiba –tiba berhenti berjalan. Lelaki itu seperti tak ingin Sahabatnya berhenti disana. Ia ngotot, tak ingin menyerah membuat mereka bertahan. Kawan lainnya? Kadang berteriak dari kejauhan memanggil nama mereka, mencoba menyemangati dari ketinggian.

“ZHAFAR AYOOO SINIIII SEDIKIT LAGIIIIIIIIIIIIIII”

Atau

“AYOOOOOOOO KARIN BISA…”

Atau mungkin berteriak menggunakan tipu muslihat milik Jimmy,

“KARINNNNN!!!!!!! ZHAFAR!!!! DISINI LANDAI NIHHHH”

          Zhafar tidak bergeming dengan semua itu. Apa mungkin ia tak dengar? Tidak, tidak! Ia mendengar teriakan semangat itu, ia mendengar semua kata –kata kawan –kawannya, tapi ia berfikir memang hanya sampai sini saja, untuk itu langkahnya terhenti di landai sempit setelah bukit yang menurun di puncak Kukusan. Ia terdiam, ingin menyerah saja rasanya. Masih memikirkan kawan yang sekarang berada di hadapannya yang masih berusaha melawan semua ketidak berdayaan dirinya dengan dorongan semangat.

JEPRET!!

          Jimmy memotret Zhafar yang sedang menunduk. Berharap dengan itu mentalnya sedikit terangkat. Tapi yang keluar malah sebuah pernyataan menyedihkan hati, dengan suara lirih,

“ Cukup Jim, Gua sampai disini…”

Jimmy masih diam

“ Cukup. Lu lanjutin jalan lu sama anak –anak. Gua tunggu disini”

          Jimmy tidak berkata apa –apa. Hanya menarik tangan Zhafar, mencoba berkata dalam diam. Mencoba untuk berkata ‘Jangan berhenti sampai disini’, mencoba berujar ‘Gua ga mau lu Cuma sampai sini, gua mau bawa lu sampe atas sana’.

Zhafar dan Karin masih berjalan setapak demi setapak dengan Jimmy. Masih mencoba melewati rangkaian tanjakan di jalur berdebu itu. Hingga mereka melihat kawan –kawannya terduduk dijalur tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Karin terduduk, Jimmy terduduk, dan Zhafar…

Rebah, tak sadarkan diri…

KUHARAP PERASAAN ITU SALAH

Aku sedang berada di atas gundukan tanah di tepi jalur dengan Iti. Terduduk diam melihat ke jalan setapak curam yang ada dibawah kami. Saat kutengok ke atas, Agung, Gembel, Dini, dan Jhebag sudah ada kira –kira beberapa meter di atas jalur yang lebih tinggi. Mendahuluiku dan Iti. Aku tersenyum melihat mereka melambai –lambaikan tangan ke segala penjuru, terutama Gembel. Ia berteriak lantang memanggil namaku dan Iti, saat kami menengok, dilambaikan tangannya ke udara. Entah mencoba untuk menyemangati, atau membuat mental kami jatuh karena jarak jauhnya dan tanjakannya terlihat cukup curam, pasti capek pikirku.

Gembel masih berteriak,

“Hoy!! Tinggi nih!!”

Oke, jawabannya menegaskan bahwa ia ingin membuat mental kami jatuh.

          Aku dan Iti hanya bisa tertawa sambil mengutuk diri sendiri mengapa harus melihat ke arah Gembel memanggil kami, ke arah tanjakan curam yang ujungnya masih tak terlihat dimana itu. Setelah protes kepada makhluk irasional macam Gembel, kami masih duduk membelakangi jalur. melihat ke arah jalur setapak dibawah yang menurun curam, dengan sediki landai sempit, yang tertutup pepohonan. Berharap Jimmy, Zhafar, dan Karin cepat –cepat muncul dibalik pepohonan itu dan tersenyum atau melemparkan candaan pada kami yang ada di atas sini.

Satu menit, dua menit, berlalu tanpa ada tanda –tanda selain gerungan angin yang berhembus kencang di lereng yang panas ini. Mentari!! Ah! Aku jadi teringat sahabat baikku itu. kulirik ia diatas sana. Baik sekali engkau Mentari!! Kau berhasil menyingkirkan awan –awan gelap yang kadang mengganggu perjalanan kami karena bisa menjadi hujan. Sepanjang hari tak kulihat awan –awan hitam itu berani mendekat. Kau menepati janjimu padaku pagi tadi rupanya!! Gumamku dalam hati.

Tapi Mentari!! Ini terlalu panas!! Aku protes pada sahabatku itu.

          Mentari tak bergeming. Tetap melancarkan cahayanya di setiap penjuru lereng Merbabu.

Aduh Mentari! Ini panas sekali!! Tak bisakah Engkau meredupkan panasnya sedikit saja?? Aku bertanya padanya. Ia tetap diam.

Aku menatapnya sedikit, tak bisa terlalu banyak karena silau sekali. Aku tetap memohon. Ia tetap menolak. Aku menatapnya dengan muka memelas, ia tetap acuh. Dan saat itu aku tahu bahwa persahabatanku dengan Mentari harus sampai disini!!! [Ancur sekali kamu Sinta, matahari diajak ngobrol sendiri]

Setelah beberapa menit menunggu sambil menundukkan muka karena rasa kantuk dan lelah yang menyerang. Aku melihat sosok itu muncul. Pertama Karin, Jimmy, dan Zhafar. Karin terduduk di tanah di antara landai sempit itu. Tak jauh dibelakangnya jimmy  juga terduduk dengan Zhafar merebahkan diri disampingnya. Dan perasaanku tiba –tiba tak karuan. Aku tak ingat bagaimana awalnya, tapi yang kutahu tak lama setelah itu, Jhebag, Gembel, Agung, cepat berlari turun menuju tempat ketiga kawanku di bawah tadi berada.

Aku melihat gelagat tak enak dari Jimmy..

Apa mungkin…???!

Kuharap perasaanku salah.

DAN KAMIPUN MENYERAH MEMBUATMU BERTAHAN, KAWAN

Aku ingin menangis!! Tapi tak satupun air mata keluar dari konjungtivaku. Ego dan perasaanku bermain –main. Mencoba memikirkan dan menebak kesalahan siapa ini. Aku melirik ke atas bukit. Ke atas titik triangulasi yang entah berapa langkah lagi harus tiba disana. Runtuh sudah kemenangan yang aku dambakan. Aku menundukkan kepala makin dalam, menyesal, marah, tak ingin ini berakhir begitu saja. Sesekali melihat Karin menangis didepanku, membuatku semakin dirundung duka.

          Tapi saat aku tengok sosok yang tak sadarkan diri itu ada di pangkuan Jimmy. Kemarahanku runtuh, tembok egoku seperti tertabrak dan hancur. Jimmy masih berusaha menyadarkan Zhafar yang pingsan karena kelelahan dan tubuhnya yang memang kurang terlalu sehat saat itu. Dengan Karin yang masih menangis sesenggukan, kelelahan sangat dan panik. Aku dan kawan –kawan wanita dalam rombongan mencoba menenangkannya. Memberinya sedikit air, berharap kesejukan air itu ikut menyejukkan pikirannya dari hal –hal negatif dan rasa khawatir yang sering bercokol disana.

Saat sosok itu sadar dan raut muka itu terlihat, aku ingin menangis. Zhafar dengan segala impiannya yang bisa mengumpulkan kami disini untuk bersama –sama menggapai puncak itu, titik triangulasi itu, kenapa menjadi orang pertama yang lebih dulu menyerah. Aku tak bisa terima itu. Aku tak ingin dia menyerah. Aku tak ingin ia berhenti.

Tapi melihat air mata itu jatuh, dan sebuah kalimat lirih itu keluar dari mulut kawan baikku itu tembok besar bernama keegoisan dan kemarahan itu hancur.

“Gua minta maaf…”

Jimmy membalas bisikan lirih itu dengan sebuah kalimat,

“Ga usah dipikirin, kita naik sama –sama, ke puncak sama –sama, turun juga sama –sama”

          Aku ingin menangis, menyesal dengan ketidakberdayaanku membuat mereka bisa.

Aku menyerah untuk membuatmu bertahan dalam perjalanan menuju puncak itu Kawan.

Tapi aku tak bisa membiarkanmu menyerah untuk suatu saat bermimpi lagi menginjakkan kaki kita disana. Maka sekarang, izinkan aku juga bermimpi itu untuk kalian.

Zhafar sadarkan diri, Karin tak lagi menangis, aku dan kawan –kawan memutuskan berdamai dengan hati masing –masing dan turun kembali. Meninggalkan rangkaian puncak –puncak yang tinggi itu. Hanya ingin agar Kawan kami, Saudara kami, Sahabat kami, Zhafar, tahu… dia tidak menanggung semuanya sendiri.

Telah letih langkahku dan terasa berat
cukup banyak kesalahan kubuat
dimimpiku ku dengar bunyi suaramu
yang memanggil ku pulang ke dalam hatimu
karena hanyalah hatimu
rumah terindah

SHERA – PULANG KE HATIMU

 

NEXT : MERBABU DAN KISAH DUA SAUDARA [ LUKISAN SENJA DI BATAS LANGIT MERBABU]

Penulis : Sinta Muliyasari

Awal Cerita MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]

7 thoughts on “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 5 [AIR MATA DI LERENG MERBABU]

  1. ditulis dengan indah, perasaan ikut hanyut dalam alur, seakan melihat dan ikut dalam perjalanan kalian. i am sad and suddenly i want to say, come, hold hands together and we can do it. i know i might not can do it in real, to have the strength to continue and move on, but i am glad with friends who stay. you guys are so awesome. perhaps one day you can come there again and beat the process and have smile on the peak. it’s not a loose to go down. cheer up. don’t give up ya! thanks a lot for a great lesson🙂

  2. Baru baru dapat n baca artikelNyn…. tulisanya benar2 bagus n keren banget.. terharu bacanya, seola masuk dalam cerita..
    ta’ doakan semoga selalu berkarya yang lebih hebat lagi..! dan semoga semua gunung2 didunia ini dapat ditaklukan…….SEmaNgAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s