MERBABU DAN KISAH DUA SAUDARA LAST PART [LUKISAN SENJA DI BATAS LANGIT MERBABU]


BUKAN EPILOG

Bagian ini khusus aku persembahkan untuk Kalian, sahabat –sahabat jauh yang tak pernah bertatap muka, berjabat tangan, dan berpeluk hangat, tapi masih mau meluangkan waktu, pikiran, hati, dan tenaga untuk membaca kisah kami.

Untuk kalian yang masih setia bertanya, pada kami lewat berbagai media terhubung, jejaring sosial, dan lain –lain, tentang bagaimana kelanjutan dari kumpulan coretan hati ini, yang masih bertanya tentang kelanjutan kisah ini

“Sinta, kemana lanjutan cerita Merbabunya?”

Atau

“Hey, tulisannya mana lagi? Penasaran nih”

Dan untuk kalian, hanya 2 kata yang bisa kami lontarkan dan teriakkan ke udara dan langit. Biar bulan, bintang, dan semesta jadi saksinya, 2 kata itu untuk kalian, Kawan..

T E R I M A  K A S I H !!!!!!

2 kata itu simbol persahabatan kita…

Walaupun banyak dari kita belum saling mengenal dan bertemu, percaya ya Kawan. Semangat kalian yang membuat kisah ini terus berlanjut.

***

Kalau ada yang bertanya, bagaimana kelanjutan kisah aero dan aera? kemana mereka pergi? Bagaimana nasib mereka?, atau tentang bagaimana kisah perjalanan kawan –kawan di lereng Merbabu?

Ini adalah akhirnya, Kawan…

Ini adalah akhirnya, tapi bukan yang terakhir…

Sunset
Sunset
Dimas at Sunset
Karina at Sunset

MERBABU DAN KISAH DUA SAUDARA LAST PART [LUKISAN SENJA DI BATAS LANGIT MERBABU]

Siap?

satu dua dan tiga…

<< CUNTEL  THEKELAN >>

Jangan bingung dan merasa kepala pening membaca tulisan untuk sub judul kali ini, Kawan. Memang seperti itu bentuknya, dan kalau bertanya bagaimana cara membacanya? Yah, hidup sudah teramat susah, tak usahlah memikirkan bagaimana cara membacanya yang benar. Cukup yakini apa yang kalian yakini. Kalau kalian ingin membacanya dengan cara seperti ini :

Panah Cuntel Thekelan Panah,

Hmmm bolehlah..atau mau membacanya jadi seperti ini :

Samping Cuntel Thekelan Samping

Yah suka –suka sajalah,

        Tak penting bagaimana cara membacanya, yang terpenting rombongan kami baru saja sampai kembali di pos IV atau pemancar. Kami kembali ke tempat favorit istirahat kami di pos pemancar ini, setelah memutuskan untuk turun kembali menuju ke camp atau pos III karena kondisi salah satu sahabat yang tak mungkin melanjutkan pendakian kami hingga puncak.

Berbeda dengan saat naik, saat turun kembali menuju ke basecamp di pos III, kami berpencar. Tak menjadi satu kelompok dalam satu baris, dan yang paling cepat jalan dia yang terdepan. Dan Jhebag menjadi orang yang beruntung berada jauh di depan. Hmmmm, atau mungkin kata ‘beruntung’ bisa diganti dengan hampir buntung. Kalau ditanya kenapa? Nanti pasti aku ceritakan, Kawan.

Aku dan rombongan wanita kala itu menjadi yang berada di tengah –tengah rombongan trekking. Kami memutuskan beristirahat sejenak di pos pemancar. Jimmy dan Gembel terlihat di berada di bawah bukit, tak jauh dari sana, tubuh mereka masih terlihat dari atas sini.

Sedangkan Zhafar dan Agung baru saja datang dari arah belakang. Okeh, batas istirahat kami sampai disini. Saat Agung dan Zhafar memutuskan untuk istirahat, kami, rombongan wanita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke basecamp di pos III.

Sebelum memulai perjalanan menuju pos III, kami dihadang sebuah plang petunjuk arah yang dipasang di pohon. Bunyi tulisan di plangnya kurang lebih seperti sub judul tadi :

<< CUNTEL  THEKELAN >>

Aku berteriak memanggil Agung, bertanya lantang,

“Gung, kita ke kiri atau kanan ya?”

Agung menjawab,

“Bukannya sama aja kiri kanan, jalurnya kan ketemu di depan”

Aku mengernyitkan dahi, tak yakin,

“Kalo jalurnya ketemu kok ada tanda ini?” menunjuk ke arah papan dengan ekspresi datar

“Kanan –kanan..” Jawab Agung, mungkin tiba –tiba teringat sewaktu kecil orang tuanya selalu bilang

“Ayo tangan bagusnya mana….”

        Lalu orang tuanya mengacungkan tangan kanan mereka, sehingga sampai sekarang ia menganggap yang kanan itu pasti selalu bagus.

Kami, rombongan wanita mengambil jalur kanan,seperti yang tadi Agung tunjukkan, berjalan menurun, dan Agung masih melepas lelah dengan Zhafar di pos IV, pos pemancar, saat kami turun dan mengetahui jalur yang kami ambil ternyata…

Salah….

LUKISAN SENJA DI BATAS LANGIT MERBABU

Aku sedang melihat Gembel, Jimmy dan Jhebag melambaikan tangan dari pos III. Disana mereka terlihat gembira, sedang duduk –duduk santai di dekat tenda berwarna kuning cerah yang terlihat dari atas sini. Rombonganku yang saat itu terdiri dari Karina, iti, Dini, Agung dan Zhafar masih berada di tepi jalur menuju kembali pos III, Kergo Pasar, saat sisanya sudah sampai terlebih dahulu. Tapi aku masih kesal jika ingat insiden salah jalur setelah pos pemancar tadi.

Setelah turun sekitar 15 menit dari pos pemancar, aku mendapati jalur yang kami lewati tidak seperti yang aku ingat sebelumnya. Licin, penuh lumpur, dan curam sangat. Sedangkan aku merasa sebelumnya saat aku akan menuju ke pos pemancar, jalur yang kami lewati kebanyakan jalur bebatuan. Maka aku memutuskan teriak dan memanggil  rombongan, dan terkejut bahwa suara yang kami dengar berasal dari arah samping jalur yang kami lewati.

Shadow

Oke! Aku sadar rombongan wanita yang salah satunya adalah aku itu salah jalur, maka kami harus memutar dan kembali naik ke atas. Ke pos pemancar lalu mengambil jalur kiri bukan ke kanan seperti yang tadi kami ambil.

Setelah insiden salah jalur itu kami meneruskan perjalanan hingga sampai kembali di pos III, Kergo Pasar. Lega rasanya kembali melihat di tenda kuning kami yang cerah. Kami tiba kembali di Kergo Pasar menjelang sore hari, dan sore itu, aku baru mengetahui kejadian insiden salah jalur itu tidak hanya dialami oleh kami tapi juga Jhebag. Sialnya, dia sendirian di jalur, dan baru mengetahui saat Jimmy yang merasa khawatir menyusul. Ternyata yang pertama tidak selalu yang beruntung ya Kawan.

Sore itu, kami bersantai di Kergo Pasar, pos III. Menikmati senja hari di batas horizon. Sinar matahari yang terik kontras dengan hawa dan angin pegunungan Merbabu yang dingin.

Aneh rasanya. Saat berada di kota, jika aku ingin melihat langit dan putihnya awan, maka aku harus menengok dan menegakkan kepalaku ke atas. Tapi disini,  di ketinggian ini. Saat aku ingin melihat langit, maka yang harus kulakukan adalah memandang lurus ke depan, di ketinggian ini aku sejajar dengan langit dan awan. Sungguh beruntungnya aku.

Merenung disana mengundangku untuk sekedar berkhayal. Melihat gumpalan awan putih itu, pikiranku mendadak dipenuhi khayalan tentang suatu waktu, suatu massa, dimana  khayalanku berujung pada cerita kanak –kanak tentang 2 saudara yang terpisah jauh dan kembali bersatu.

Senja itu kami sejenak melepas penat. Berfoto bersama, mengobrol, berdiskusi tentang hidup dan segala hal sepele, atau sekedar mengagumi langit biru, rumput hijau, dan kokohnya rangkaian pegunungan di depan mata, atau malah memperhatikan rangkaian desa –desa di bawah sana, menebak- nebak bagaimana orang –orang disana mengisi kehidupannya di dunia yang maha luas jika dilihat dari atas sini.

Beruntung sekali rasanya, masih bisa melihat yang orang lain belum tentu sadari…

        Sore itu saat angin dingin makin menusuk tulang, kami memutuskan berdamai dengan diri sendiri. Walaupun matahari tenggelam itu tetap menggoda untuk dilihat, satu persatu kami masuk ke dalam tenda kuning untuk beristirahat dan berteman dengan malam.

 

INI CERITA TENTANG AERO DAN AERA

Agung

Suatu waktu ada 2 saudara yang terpisah jauh. Keduanya adalah titik –titik air yang terpisah karena matahari menguapkan mereka dan angin membawa keduanya ke tempat yang berbeda. Yang satu bergumul dalam tanah di lereng –lereng pegunungan Merbabu dan terbawa menjadi sekumpulan mata air. Yang satu meresap dalam tanah di pekarangan rumah dan berakhir di rebus di ketel menjadi air minum dalam wadah air dan dibawa pergi dalam tas seorang wanita. Aero namanya, yang berada dalam wadah air minum itu, kini mengetahui kemana ia dibawa pergi. Setelah dimasukan dalam tas dan berteman dengan kegelapan di dalamnya, terguncang –guncang di atas rak bagasi kereta kelas ekonomi Tawang Jaya, ia sampai di tempat yang lembahnya sehijau zamrud.

Saat rombongan yang membawanya berjalan berarak di antara rimbunnya hutan hujan pegunungan Merbabu, salah seorang wanita dalam rombongan berkata,

“Eh mau minumnya dong Karin”

“Nih..” menyodorkan botol minum sambil membuka tutupnya

“Eh Awas!

Gusrak

“Yah tumpah!!”

        Aero tercecer bersama yang lain. Merembes melalui celah –celah tanah di antara rimbunnya humus di tanah Merbabu. Bersama ratusan titik –titik air yang lain menyusuri tiap celah hingga sampai dimana saudaranya Aera menunggu, mata air pegunungan Merbabu.

Di lereng sehijau zamrud dan langit sebiru lazuardi. Mereka bertemu kembali.

        Meresap ke kedalaman tanah merah yang basah, dan tak disadari manusia manapun, tau –tau pepohonan hijau itu merekah tinggi kukuh dengan akarnya menjulang kuat –kuat ke bumi.

KISAHNYA TIDAK BERAKHIR SAMPAI SINI

Perjalanan kami di Merbabu berakhir saat kami akhirnya kembali berada disini. Di kereta ekonomi yang sayangnya tak pernah bersahabat dengan rombongan kami.

Setelah kemalaman tiba kembali di Semarang, dan kembali membeli tiket kereta dengan cap merah berbunyi : tanpa tempat duduk, kami kembali menaiki kereta ekonomi untuk kembali ke Jakarta. Tanpa tempat duduk untuk sebagian rombongan kami. Kembali bercengkrama dengan lantai kereta. Duduk disana, dilangkahi banyak pedagang kaki lima sepanjang malam, lelah sangat sisa pendakian yang belum sirna di tambah dengan malam ini akan menjadi malam yang panjang sebelum akhirnya subuh tiba.

Dan subuh itu, stasiun Senen kembali melihat rombongan kami setelah lima hari kemarin kami ada disini. Dan kisah kami sementara harus berakhir disini.

Tapi ini bukan yang terakhir…

NEXT.. : [KISAH MERBABU DAN 2 SAUDARA : THIS IS NOT THE END – YANG INI JUGA BUKAN EPILOG]

Penulis : Sinta Muliyasari

Awal Cerita MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s