KISAH MERBABU DAN 2 SAUDARA : THIS IS NOT THE END – YANG INI JUGA BUKAN EPILOG


YANG INI JUGA BUKAN EPILOG

        Kalau ditanya kenapa menulis lagi?? Karena kisah ini tak akan habis di ceritakan hanya dengan 13000 kata. Belum cukup menggambarkan bahwa rindu ini membuncah untuk melakukan perjalanan macam itu lagi.

Dan bagian ini,

        Khusus kupersembahkan untuk beberapa sahabat dalam rombongan yang sangat menginspirasiku dalam perjalanan ini. Juga orang –orang dan saudara se-pribumi yang kami temui selama perjalanan ini berlangsung. Sungguh dari wajah –wajah manusia itu ada sejuta kisah yang indah.

Shadow 2
Sinta
Smile
Horeee

ANGIN DAN MATAHARI YANG SAMA

        Aku kala itu masih tepekur. Duduk di lantai kereta ekonomi Tawang Jaya yang saat itu sedang berlari kencang meninggalkan Semarang menuju ke Jakarta. Awalnya hati rasanya kurang bisa terima kalau perjalanan ini akan berakhir. Masih tak percaya, karena kurang dari 12 jam lalu, kaki ini masih menapak bebas di pos 3, Kergo Pasar. Masih melihat hamparan hijau kanopi –kanopi pohon yang tinggi menjulang seolah mencakar langit, masih mengagumi langit yang sejajar dengan tempatku berdiri, masih bisa merasakan dinginnya

angin lembah yang menerbangkan rambut –rambut kecil yang menyembul dari balik kerudungku, bahkan kulit wajahku masih merasakan panasnya mentari sore saat kami bercengkrama dan bicara tentang hidup sesaat setelah turun dari kawah Kukusan.

Masih tentang angin…

Dan matahari yang masih terus bersinar..

Dan masih tentang kalian dan kita..

Anginnya sama, Mataharinya pun sama sinarnya..

Panas..

Menyengat..

Tapi entah mengapa rasanya beda sekali sekarang..

Terdiam

MANUSIA –MANUSIA BERNAMA INDONESIA

Selama perjalanan ini berlangsung, kami tidak sendirian. Tak hanya 9 orang yang hadir dalam kisah perjalanan ini. Ada beberapa manusia yang mewarnai perjalanan kami. Mulai dari yang datang cukup lama dan pergi dengan kenangan tak biasa, hingga yang hanya sekilas hadir. Atau yang sama –sama dari kota, hingga orang –orang desa yang bersahaja. Ada juga sosok orang tua bijak, atau anak – anak muda sebaya dengan gejolak jiwa dan gelora petualangan yang sama. Mereka datang silih berganti dalam perjalanan ini. Mereka ada dari latar belakang yang tak sama. Satu hal yang menyamakan mereka adalah mereka manusia –manusia bernama Indonesia. Yang walaupun punya logat berbeda, latar belakang tak sama, masih mampu untuk sekedar menengok dan tersenyum. Indonesia sekali kan!!! Mari kuperkenal satu –satu….

Yang pertama adalah :

Keluarga gerbong 6

         Hmmm apa yang bisa kuceritakan dari mereka ya, selain fakta bahwa mereka benar –benar baik. Mereka sepasang suami istri dengan 2 anak lelaki. Yang satu masih menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, dan sangat takjub saat mengetahui rombongan kami akan mendaki ke Merbabu.

        “Besok kalau udah besar kamu kaya mereka ya.. petualang banget kan” ucapan si Ibu. Mata si anak lelaki berbinar. Dan hidungku kembang kempis, bangga.

Yang satu lagi masih anak –anak sekali. Kuduga umurnya 5 atau 6 tahun. Tak banyak yang bisa kuceritakan dari anak itu, karena hanya 2 hal yang dilakukannya sepanjang perjalanan : tidur telentang dengan kepala di paha sang ayah dan kaki yang tegak lurus di jendela, dan makan saat bangun. Mereka yang pertama kali menegurku saat kami berdiri di depan kompartemen mereka sesaat sebelum kereta berangkat ke Semarang.

Girl
Girl at Sunset

“Duduk aja dek, lurusin kakinya ke kolong sini..

ga pa pa kok” ucap si ibu sambil menunjuk kolong tempat duduknya yang kosong melompong.

       Aku dan teman –temanku terdiam sampai akhirnya mengambil posisi duduk dilantai sambil menyelonjorkan kakiku ke bawah tempat duduk. Tak lupa aku dan kawan –kawan ucapkan terimakasih.

Belum setengah jam kereta meninggalkan stasiun Senen, si Ibu dan Bapak yang duduk itu menepuk pundakku dan menyodorkan bungkusan plastik berwarna hijau metalik dan berkata,

“Makan dek, ambil aja, ini ada buah juga… ambil aja gapapa.. bagiin ke temen –temennya”

          Yang terjadi kemudian adalah aku dengan sangat tak tahu malu dan kurang ajar mengambil makanan –makanan yang mereka sodorkan kepadaku. Tentunya dengan jurus khas Indonesia saat ditawari makanan oleh orang lain, pura –pura tak mau.

“Ga usah bu, makasih..” ucapku palsu, berharap si Ibu memaksa aku mengambil makanan yang ia sodorkan.

“ga papa ambil aja.. hayo ambil” ucapnya, aku masih pura –pura diam, tak lupa memasang tampang agak –agak bingung, dan berfikir pasti langsung dikasih ke tangan gua ni!!

“hayooo nih ga usah malu” katanya sambil mengamit tanganku dan meletakkan kue –kue itu ke telapak tanganku yang kecil

Haaaaa… apa ku bilang!!!

          Dan sepanjang perjalanan kami bertukar kisah, sampai akhirnya berpisah di Semarang. Tapi jodoh memang di tangan Tuhan. Turun dari Merbabu, saat kami menunggu kereta Tawang Jaya untuk kembali pulang ke Jakarta, rombongan keluarga itu terlihat dan menyapa kami di stasiun

“ehh kalian lagi, di gerbong berapa?” tanya si bapak

“ Ga dapet tempat duduk lagi Pak”

“Yudah di tempat kita aja lagi, kita di gerbong 6”

“iya Pak, makasih”

          Si rombongan meninggalkan kami, dan saat kereta kami datang, kami yang tak punya tempat duduk naik ke gerbong yang tepat berhenti di depan mata kami. Saat kami masuk ke dalam, sebuah suara memanggil sambil tersenyum

“Dek, dek….sini…”

         Aku menoleh dan menemukan keluarga itu lagi. Aku dan rombongan berjalan ke arah mereka sambil tersenyum. Bersiap memasang jurus khas Indonesiaku nanti.

Pak Tono si penjaga tumit Merbabu

        Kami menoleh ke dalam basecamp Cunthel lewat kaca yang berembun karena udara dingin sehabis hujan. Badan kami basah, bibir pecah –pecah. Beberapa diantara kami mulai melakukan gerakan –gerakan ajaib. Ada yang loncat –loncat, menggosok kedua tangan sambil mengeluarkan suara geraman aneh

grrrrrrrrrrrrrrrrrhhhh grrrrhhhhhhhhhhh, kurang lebih begitulah bunyinya..

        Ada juga yang mela

kukan gerakan senam SKJ 86, lari –lari ditempat, atau mungkin malah terdiam menatap langit.

Bukan –bukan….

View 2

         Bukan karena kami kurang waras, tapi itu semua bentuk untuk menahan hawa dingin sehabis hujan yang mengguyur desa Cunthel saat kami baru tiba di basecamp, sebelum mendaki Merbabu. Dan saat ini, kami menunggu orang yang paling kami tunggu. Pahlawan yang mungkin bisa menghangatkan kami karena kunci basecamp

tempat kami akan mendaftar pendakian dan sed

ikit menghangatkan badan, ada ditangan beliau. Pak Tono namanya. Dan setelah menunggu sekitar 20 menit, Pak Tono si penjaga tumit gagahnya Merbabu datang sambil tertawa renyah,

“Dinginnnn ya?”

hahahahha menurut bapak???!!, pikirku

“Maaf ya lama nunggu”

dimaafin pak, Sekarang ayo buka pintunya!!, Mulai ga sabar

“Haduh, dimana ya kuncinya?”

Mana saya tau Pak T.T…..

        Pak Tono mencari –cari kunci di celana panjangnya yang berwarna hitam. Tangannya merogoh ke saku sebelah kiri.

“Nggg, kok ga ada ya”

huhuhuhuhu dingiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnn, Pakkkk

Pak Tono merogoh saku celana sebelah kanan

“Bukan disini ternyata…….”

Ha….Haaaa…Haattcihhhhhhhhhhhh!!!

Pak Tono melirik ke saku bajunya,

“Nah disini ternyata!!hahahahaha” tawa renyahnya memenuhi udara Desa Cunthel yang sejuk.

Aku..

Membeku…

Si pendaki yang semangatnya mengalahkan segalanya

Gembel at Sunset

        Rombongan pendaki ini kami temukan saat kami beristirahat di pos 2. Rombongan mereka tiga ora

ng. 2 laki –laki dan seorang perempuan berkerudung yang cantik sekali, ahhh jadi ingat diriku sendiri hehehehehehe😀

        Sesaat sebelum mereka turun, mereka berbasa –basi sedikit pada rombongan kami. Bercerita bahwa tak bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak karena hujan es di pos pemancar. Salah satu dari 2 laki –laki dalam rombongan tersebut masih terus berceloteh, si wanita berkerudung hanya diam tersenyum, cantik…

Ahhhh jadi ingat diri sendiri hehehehhee…

        Yang lelaki satu lagi menimpali cerita temannya. Sambil sesekali bergurau dengan rombongan kami.

Si wanita berkerudung, tertawa, cantik….

Ahhhhhhhhhhh kembali ingat diri sendiri hehehehehhehe…..

       Lalu mereka pamit. Kembali akan melanjutkan perjalanan turun menuju basecamp sedangkan kami naik menuju camp 3. Mereka melakukan salam perpisahan. Yang lelaki kemudian berteriak lantang.

“Semangat ya!! Semangat mengalahkan segalanya!!” teriaknya sambil mengepalkan tangan

Si perempuan berkerudung, ikut mengepalkan tan

gan, cantikkkkkkkkk…..

Ihhhhhhhhh ingat diri sendiriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……hohohohoho

***

Dimas

        Masih banyak orang –orang yang kami temui dalam perjalanan ini yang tak bisa kuceritakan detail satu persatu. Satu yang yang membuat mereka semua tak terlupakan adalah, karena mereka Indonesia, yang mampu menyodorkan dan saling menolong walau tak saling mengenal, yang masih mampu mengajak kami tertawa bersama walau kami tak pernah bertemu sebelumnya, yang mampu memberi dorongan semangat walau kami tak pernah berjuang bersama sebelumnya.

          Haaaaaaaaaaaaaah…

          Indonesia Kawan..indah sekali..

***

        Aku terlelap di angkot saat menuju ke Cunthel dari kota Salatiga. Kemudian tersentak bangun karena terguncang kendaraan. Aku menoleh ke kanan kekiri, bingung karena kaget. Dan menemukan kondektur angkutan umum itu tersenyum ke arahku ramah…

        Ahhh.. lega rasanya melihat orang tak ku k

enal masih bisa tersenyum ke arahku..itu tanda bahwa aku masih di Indonesiaaaaaaa…

MIE INSTAN BASECAMP CUNTHEL

View

        Aku menyetop angkutan umum di perempatan lampu merah di sebuah tempat di bilangan Jakarta selatan, bernama Pejaten. Di sebelah kiri, tak jauh dari tempatku dan Zhafar berdiri, bangunan tinggi dengan aksen kotak –kotak besar berwarna kelabu tegak menantang langit Jakarta. Ada pintu besar yang menganga lebar tempat banyak orang lalu lalang keluar masuk. 500 meter di depan pintu besar itu, balok –balok berbentuk huruf juga tegak berdiri. Ukurannya lebih besar dari pada manusia –manusia yang lalu lalang di sekitarnya. Balok –balok tersusun itu membentuk sebuah tulisan berbunyi : PEJATEN VILLAGE

Ahh…mall rupanya..

        “Selesai istirahat abis dari Merbabu ini kita nonton yuk” ajakan keluar dari mulut sahabat disampingku, sambil menunjuk bangunan megah itu.

          Aku tersenyum kemudian mengangguk. Meng-iya-kan ajakan sahabat baikku.

        Angkot merah menyala itu datang, dan menepi saat aku mengulurkan tanganku. Aku dan kawan baikku itu kemudian bersama –sama menaikinya. Aku turun di bilangan Ampera, dan ia melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Jalan Benda Kemang.

         Beberapa minggu bahkan beberapa bulan kemudian, tak terhitung beberapa kali, kami kerap bertemu dan benar –benar menonton beberapa judul film terkemuka disana. Dari mulai yang bergenre drama romantis ( karena sebagian besar dari kami memang hatinya agak –agak melayu), action, action comedy, tapi tidak dengan horror, atau setidaknya saat menonton horror pasti aku akan absen dan lebih memilih baca buku di toko buku saja, tidak berniat ikut –ikutan teriak –teriak sambil menutup muka di dalam sana. Tapi anehnya, berdasarkan laporan dari sahabat –sahabat lainnya, baru kutahu bahwa sebagian besar sahabat baikku malah tertawa terbahak –bahak saat menonton film horror (-_-)

Kerokan

        Setelah menonton, layaknya anak muda Jakarta lainnya, pasti kami disibukkan dengan urusan mengisi perut. Walaupun sebenarnya belum terlalu lapar, atau malah sedikit kenyang, kami tak peduli. Bagi kami, itu cara menghabiskan waktu bersama. Kadang, sewaktu kantong kami melorot tajam, seperti kurva ekonomi Indonesia saat sedang terkena krisis moneter, kami pasti memilih tempat –tempat yang ramah di kantong saku. Walaupun harus berkeringat sedikit karena panas, atau diganggu suara sember pengamen –pengamen, tak apalah. Warung tenda memang tetap pilihan utama, jika dompet kembang kempis dan didiagnosa kena penyakit kanker alias kantong kering.

         Lain hal jika kami sedang kebanjiran rejeki dari kerja sambilan, atau tabungan uang saku masih bersisa lumayan. Kami sedikit memanjakan diri sendiri, memilih tempat ber-AC yang masih sesuai kantong mahasiswa kami.

        Suatu hari saat kami selesai menonton sebuah film, kami memutuskan mengisi perut di sebuah rumah makan yang masih ada dalam lingkungan pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta. Hal iseng itu kemudian membawa sesal yang tak terduga.

“Mesen apa ya?” aku bergumam sendiri sambil melihat –lihat daftar menu yang ada

Ayam penyet Rp 24.000,-

Ayam Bakar Rp 26.000,-

Sayur asam Rp 17.000,-

Bakso campur Rp 20.000,-

Soto mie Rp 22.000,-

        Aku membaca daftar menu makanan dan harganya, kemudian mendapati kepalaku tiba –tiba penat dan pandanganku kabur dengan jumlah angka nol, dibelakang tulisan Rp. Kubolak –balik daftar menu rumah makan yang berlogokan bunga, tak tahu mawar, tak tahu melati itu. Kututup daftar menu yang diberikan pelayan kurus tinggi semampai dengan blush on merah medok di pipinya, lalu kubuka lagi perlahan. Berharap ada yang berubah dari deretan angka itu, atau nol nya menggelinding satu. Nihil. Tetap sama.

Menunggu Indomie

         Aku menghela nafas, kemudian memesan satu yang harganya paling murah. Perutku tiba –tiba melilit.

        Aku menyodorkan selembar 50.000-an kepada pemuda di depanku. Ia tersenyum sopan, kemudian mengembalikan uang itu kepadaku.

          Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Kulihat uang berwarna biru itu. menerka –nerka apa yang salah dari lembar bergambar pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai.

           Apa yang salah?? Pikirku.

        Warnanya masih biru, masih ada gambar I Gusti Ngurah Rai yang termenung dengan kumis tipisnya, masih ada lambang Burung Garuda.Atau jangan –jangan gubernurnya lupa tanda tangan??

           Kutengok,

        Ahhh, ternyata tanda tangan pak gubernur dan deputi gubernur juga masih ada. Nomor serinya juga lengkap, LHN891206. Nah! Bahkan angka nol-nya masih lengkap. Tentu saja!! Kalau tidak namanya bukan limapuluhribu, tapi limaribu, You Idiot!!!

           Aku memaki diriku sendiri dalam hati.

          “Mas kok uangnya di balikin ya? Ini bukan uang palsu kok” aku menegaskan,

         “Ohh, siapa bilang itu uang palsu mbak..kita Cuma ga punya kembaliannya, kalo bisa uang pas atau ga duapuluhribuan aja, Mbak”

          “Emang semuanya berapa, Mas?!!” aku bertanya.

       “Mbak kan mesennya 9 ya jadi semuanya Rp 13.500,-“ Mas basecamp Cunthel begitu aku memanggilnya, berkata sambil tersenyum kearahku.

          “Berapa?!” aku menegaskan sedikit berteriak

          “13.500, Mbak” Mas-nya menjawab sedikit kaget

        Masih dengan takjub akhirnya aku merogoh kantung celana trekkingku yang masih lusuh dan kotor karena sempat terjatuh saat trekking turun tadi, kemudian menyerahkan lembaran duapuluhribu rupiah.

        Mas basecamp Cunthel kemudian merogoh –rogoh laci mejanya, lalu menyerahkan uang kembalian padaku dan berkata,

       “Maaf, Mbak limaratus-annya ga ada. Jadi tigabelasribu aja bayarnya. Nih, Mbak, kembaliannya jadi tujuhribu ya”

           What the…

            Harusnya aku yang minta maaf.

Pulang

          Aku berjalan dan mengembalikan uang limapuluhribu itu kepada sahabatku. Mereka bertanya dan tak percaya saat aku mengatakan bahwa mereka masing –masing hanya membayar seribulimaratus rupiah untuk tiap mangkok mie instan lengkap dengan telur yang mereka santap, saat baru saja tiba di basecamp setelah turun dari camp 3 Merbabu.

           Saat aku tiba –tiba ingin tambah semangkok lagi karena harganya murah sekali, suara sember Helryan a.k.a Gembel membuyarkan lamunanku,

           “Mas, pesen lagi 2 dijadiin satu mangkok yak!”

           “Semuanya jadi Rp 157.000,-“

          Pelayan wanita dengan blush on pipi merah medok itu menyodorkan bill kepada kami. Aku merasakan makanan yang baru kumakan tadi itu mendesak perut ingin keluar.

Kami mengumpulkan uang sesuai dengan jumlah masing –masing yang harus kami bayar.

Setelah menyerahkan bill itu kepada si pelayan medok. Kami berlalu dari sana.

“What the Hell!” umpat kami

Zhafar terkekeh,

“Besok –besok makan mie di basecamp Cunthel aja. Seratuslimapuluh ribu, bisa sampe muntah…hahahahhaha”

***

Penulis : Sinta Muliyasari

Awal Cerita MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s