ARGOPURO : NEGERI SANG DEWI -[Chapter 1]-


Persiapan
Persiapan

“Kalau ada yang bilang Indonesia itu Indah, percayalah kawan, itu benar adanya”

          Pesona masyarakat Jawa atau yang terkenal dengan sebutan Java tak pernah lekang oleh waktu. Masyarakat Jawa memiliki budaya, tradisi, legenda, dan kepercayaan yang sangat kental. Mulai dari Sabang sampai Merauke tak pernah lewat dari yang namanya pesona budaya.  Salah satu pesona dari legenda yang beredar di masyarakat Jawa, khususnya Jawa Timur “mereka”  temukan di sini, di  kedalaman belukar dan rimba Gunung Argopuro.

St. Senen dan Keretanya
St. Senen dan Keretanya

Alkisah Dewi Rengganis putri Prabu Brawijaya, dipercaya masyarakat kaki Gunung Argopuro merupakan Putri yang Istananya berada di tanah tertinggi puncak Argopuro. Istana yang didaulat masyarakat sekitar merupakan istana tertinggi saat itu menyisakan bekas reruntuhan yang dipercaya dahulunya merupakan tempat tinggal Sang Dewi beserta dayang –dayangnya. Tak hanya itu, yang membuat “mereka” terbius untuk melupakan dan meninggalkan getir –getir kaki yang lelah, dan terus tetap melangkah ditiap jengkal tanah jalur pendakian terpanjang di pulau Jawa itu bukan hanya pesona legenda Sang Dewi, tapi apa yang Argopuro tawarkan sebagai sebuah tempat, bisa diibaratkan paket lengkap. pengalaman, budaya, masyarakat, dan yang paling penting alamnya yang luar biasa indah. Siapa yang bisa menolak?

Tidak, tidak!! “mereka” tidak pernah bisa menolak pesonanya. Baik legenda dan alam Argopuro tak pernah berhenti membuat mereka rindu. Rindu bisa menapakkan kaki lagi disana, dirimbunnya rerumputan dan semak belukar hutan pegunungan, di malam gulita dibawah berjuta bintang, dirimba raya dengan alam dan senandung yang disampaikannya lewat suara –suara binatang liar. Siapa yang bisa menolak kedamaian seperti itu.

“Mereka” ?? Jelas tak mampu.

Rindu?? Jelas “mereka” rindu.

Ada yang pernah berkata,

“Mau lihat Surga?? Tengok Argopuro”

          Peron Stasiun Senen telah banyak menggoreskan alkisah dan kasih manusia sepanjang bangunan itu didaulat sebagai stasiun kereta. Disana tempat bertemu, berpisah, berkeluh, berkisah, melarikan diri,  dan memulai satu hal yang sangat mereka sukai…

Perjalanan….

          Masih takjub dengan bagaimana mereka bisa ada di dalam peron ini. Minggu lalu sebab akibat mereka ada disini dimulai ketika salah satu dari sahabat mereka berulang tahun. Pesta dimulai. Tak akan ada yang dapat menampik ajakan makan gratis dan ngobrol hingga larut malam. Jiwa muda ditambah kantong tipis dan perut lapar akan membuat semua orang datang. Begitupun mereka. jadi mereka lewatkan malam itu dengan makan gratis dan diskusi. Sepanjang malam. Menggali tiap sudut pikiran untuk menemukan ide macam apa lagi, hal apa lagi yang akan dilakukan, siapa lagi yang akan terlibat, dan kemana lagi akan melangkahkan kaki mereka.

Perpaduan antara malam hari yang penuh inspirasi dan anak muda, ditambah diskusi bersama melahirkan ide tentang perjalanan yang mereka yakini akan sangat menakjubkan. Maka tak bisa dibendung lagi hasrat untuk segera melangkahkan kaki memulai perjalanan menuju ke Negeri  Sang Dewi.

***

Kumandang suara adzan jumat itu hanya dilalui saja oleh mereka. Bukan tak terbersit rasa penyesalan karena melewatkan kumandang adzan dan juga kewajiban shalat Jumat, sebagai pribadi yang mengaku laki –laki, perasaan bersalah tak mungkin bisa dihindari.

Gerbong
Gerbong

Perjalanan dari rumah sahabat yang bernama Hanandi menjadi lebih dramatis dari yang terbayang sebelumnya.  Mobil Landrover yang mengantar mereka melaju tak terlalu kencang, malah terkadang berhenti sama sekali. Macet Jakarta memang makanan sehari –hari warga ibukota. Hanya ingin meninggalkan Ibukota yang sumpek saja butuh perjuangan ternyata.

Dan saat kaki –kaki kekar mereka menginjak peron stasiun senen, tak pernah dipungkiri bahwa untuk beberapa diantara mereka, tempat ini begitu dalam menyimpan bermacam memory dan jerejak kisah yang tak akan pernah mereka lupakan. Peronnya, jam besar yang menggantung, lengkingan kereta api yang datang, orang –orang lalu lalang dengan berbagai tujuan, ibu dan anak –anaknya, penjual permen, petugas stasiun dengan baju seragamnya, bahkan preman –premannya, semua jadi satu, dan untukku pribadi yang menulis ini dan pernah merasakan berdiri disana saat hendak melarikan diri sejenak dari jenuhnya Jakarta, semua yang jadi satu tadi, entah kenapa indah bukan buatan.

Dan sepertinya, untuk mereka semua, para pemuda yang mengatasnamakan perjalanan sebagai salah satu bagian hidup dan pelajaran kehidupan, peron stasiun senen selalu menjadi awal yang dramatis untuk berkisah tentang bagaimana menakjubkannya ceritera yang mereka bawa saat mereka kembali nanti….

Dan aku, sebagai pendengar nantinya, juga tak sabar berkisah kepada kalian, Kawan….

Ceritera mereka yang akan kukisahkan, dimulai saat lengkingan kereta yang akan mengantar mereka ke Surabaya, kota yang jadi awal perjalanan mereka merangkak datang. Bagai gadis yang elok, berderit –derit langkahnya, meliuk –liuk tubuhnya diatas jerejak rel besi. Dan saat kereta itu berhenti, dan saat kaki –kaki kekar pemuda –pemuda yang akan menjadi pemain –pemain utama dalam ceriteraku ini melangkah masuk, perjalanan menuju negeri sang dewi dimulai……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s