KISAH MERBABU DAN 2 SAUDARA : THIS IS NOT THE END – YANG INI JUGA BUKAN EPILOG

YANG INI JUGA BUKAN EPILOG

        Kalau ditanya kenapa menulis lagi?? Karena kisah ini tak akan habis di ceritakan hanya dengan 13000 kata. Belum cukup menggambarkan bahwa rindu ini membuncah untuk melakukan perjalanan macam itu lagi.

Dan bagian ini,

        Khusus kupersembahkan untuk beberapa sahabat dalam rombongan yang sangat menginspirasiku dalam perjalanan ini. Juga orang –orang dan saudara se-pribumi yang kami temui selama perjalanan ini berlangsung. Sungguh dari wajah –wajah manusia itu ada sejuta kisah yang indah.

Shadow 2
Sinta
Smile
Horeee

Continue reading “KISAH MERBABU DAN 2 SAUDARA : THIS IS NOT THE END – YANG INI JUGA BUKAN EPILOG”

MERBABU DAN KISAH DUA SAUDARA LAST PART [LUKISAN SENJA DI BATAS LANGIT MERBABU]

BUKAN EPILOG

Bagian ini khusus aku persembahkan untuk Kalian, sahabat –sahabat jauh yang tak pernah bertatap muka, berjabat tangan, dan berpeluk hangat, tapi masih mau meluangkan waktu, pikiran, hati, dan tenaga untuk membaca kisah kami.

Untuk kalian yang masih setia bertanya, pada kami lewat berbagai media terhubung, jejaring sosial, dan lain –lain, tentang bagaimana kelanjutan dari kumpulan coretan hati ini, yang masih bertanya tentang kelanjutan kisah ini

“Sinta, kemana lanjutan cerita Merbabunya?”

Atau

“Hey, tulisannya mana lagi? Penasaran nih”

Dan untuk kalian, hanya 2 kata yang bisa kami lontarkan dan teriakkan ke udara dan langit. Biar bulan, bintang, dan semesta jadi saksinya, 2 kata itu untuk kalian, Kawan..

T E R I M A  K A S I H !!!!!!

2 kata itu simbol persahabatan kita…

Walaupun banyak dari kita belum saling mengenal dan bertemu, percaya ya Kawan. Semangat kalian yang membuat kisah ini terus berlanjut.

***

Kalau ada yang bertanya, bagaimana kelanjutan kisah aero dan aera? kemana mereka pergi? Bagaimana nasib mereka?, atau tentang bagaimana kisah perjalanan kawan –kawan di lereng Merbabu?

Ini adalah akhirnya, Kawan…

Ini adalah akhirnya, tapi bukan yang terakhir…

Sunset
Sunset
Dimas at Sunset
Karina at Sunset

Continue reading “MERBABU DAN KISAH DUA SAUDARA LAST PART [LUKISAN SENJA DI BATAS LANGIT MERBABU]”

MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 5 [AIR MATA DI LERENG MERBABU]

Nama saya Sinta Muliyasari. Orang biasa memanggil saya Sinta. Sebagian sahabat punya nama kecil untuk saya, nama kecil itu Nta. Entah siapa yang pertama memanggil saya seperti itu, tapi nama itu sudah melekat dan rasanya jadi identitas diri sendiri untuk saya sebagai wanita.

Hari ini….Hmmmmm coba kita tengok kebelakang apa saja yang saya lakukan di hari yang kelabu ini. Yang jelas hari ini hari tersendu saya sebagai seorang wanita. Jangan Tanya kenapa dan bagaimana.   Jangan tanya itu. Karena bagaimanapun juga hati wanita lebih dalam dari lautan untuk menyimpan sebuah rahasia, apalagi sebuah luka. Yang jelas, pagi ini dimulai dengan membuka situs jejaring sosial dan menemukan fakta yang sangat menyakitkan untuk seorang wanita macam saya ini. Dengan predikat wanita tegar pun tidak mampu membuat saya tak jatuh dalam masalah sedalam ini. Dan dengan segala kepenatan yang ada dan sahabat yang sedang tak bisa berada di samping saya, penat itu kemudian berubah menjadi rangkaian kata yang meluncur menuju wall post sebuah grup di jejaring sosial tersebut. Sebuah grup yang tak pernah pandang dari mana orang itu berasal, dan punya tag line seperti ini – Mari Bersahabat, Mari berbagi.

Dan rangkaian kata yang tersusun sebagai kalimat yang berada di wall post grup itu kurang lebih seperti ini :

“kawan2!!..saya sedang “Feel Blue” nih [bukan film biru ya!!] lagi sedih sekali, tolong semangatkan saya dong!!! 🙂 :)”

Dan wall post ini kemudian menggugah beberapa orang berkomentar. Ada yang benar – benar menyemangati, ada yang hanya berteriak ‘semangat’ dan berlalu, ada yang berpetuah panjang lebar. Semua tak mempan, hingga satu kalimat dari salah seorang kawan di grup itu membuka pikiran saya untuk sekedar bersyukur dan berbagi kisah.

Sebut dia Mas Eross, dengan kerendahan hati dan kepeduliannya terhadap orang lain yang bahkan tak dikenalnya membuat saya berfikir 2 kali untuk sekedar menyalahkan orang lain. Berbeda dengan kawan –kawan di grub yang mengomentari langsung di wall post yang saya kirim. Mas Eross berkomentar di sebuah foto profile yang sudah lama tak saya pajang di situs jejaring sosial milik saya.

Foto itu menampilkan sebuah gambar dua anak manusia yang sedang tersenyum lebar. Dua wanita dengan segala latar belakang kehidupan berbeda. Salah satunya saya dan wanita lainnya adalah sahabat seperjuangan. Saya dengan jaket biru tua yang kebesaran tersenyum sumringah dengan tangan berbentuk V merangkul wanita disamping saya yang juga tersenyum lebar, dengan latar belakang awan –awan di ketinggian dan desa –desa yang membentuk kotak –kotak cokelat tua di kaki gunung dibawah sana, di kaki gunung yang saat itu telah saya daki.

Tepat dibawah gambar manusia –manusia dengan senyum sumringah itu Mas Eross berkomentar :

”kenapa harus sedih, sis? Inget dan bayangin lagi deh perasaan waktu ada di tempat yang ada di gambar ini? ga semua orang bisa dan dapet kesempatan berdiri di atas sana. klo kata temen saya, banyak –banyak bersyukur aja :-). mari bersahabat.. mari berbagi untuk indonesia..jangan sedih lagi ya sis..”

Dan saya….

Tercenung …Menyesal…

Membaca komentar  itu, mengingatkan saya tentang sebuah perjalanan hati bersama sahabat –sahabat terbaik. Membaca komentar itu membuat saya rindu tentang perjalanan dengan proses. Mas Eross dengan segala kerendahan hatinya, menghibur saya dengan cara yang juga sederhana.

Dan saya tiba –tiba ingin menulis tentang bagaimana rasanya berdiri di atas sana. Dengan awan –awan dan sahabat terbaik, juga dengan langit yang seakan tergapai, tentang perasaan berada di atas tempat tinggi yang seperti menyentuh langit, menyentuh tubuh Sang Pencipta yang tiada duanya. Dan tulisan ini selain untuk kalian kawan, kupersembahkan untuk Mas Eross, sahabat jauh yang tak pernah berjabat tangan, tapi mampu membuat saya tersenyum dan bersyukur untuk kesempatan menundukkan kepala dan berdoa, dan atas segala kesempatan untuk saling mendengarkan dan berkata.

***

Continue reading “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 5 [AIR MATA DI LERENG MERBABU]”

MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 4 [ JIMMY DAN JALUR –JALUR YANG LANDAI ITU]

Break
View
Wanita - Wanita
View 2
trekking zhafar -gembel

Awan dan Langit

Seorang wanita dengan jaket consina biru tua yang kebesaran duduk tepekur di lereng sebuah savanna. Dari sana ia melamun, melihat ke bawah, kehamparan awan yang putih bergulung –gulung, menerka –nerka bagaimana Tuhan menciptakan awan itu begitu indah. Tinggi, tak tersentuh, suci, bersih, pasrah kemana angin membawa mereka pergi.

Seorang wanita dengan jaket consina berwarna ungu muda berdiri. Melamun sendiri. Mungkin memikirkan bagaimana hamparan desa –desa dibawah sana bisa terlihat begitu indah dari atas sini. Dari ketinggian ini. Apa orang –orang dibawah sana bisa melihatnya berdiri disini??

Continue reading “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 4 [ JIMMY DAN JALUR –JALUR YANG LANDAI ITU]”

MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 3 [ SEMANGAT MENGALAHKAN SEGALANYA]

Basecamp Cunthel
Break
Dalan Tengah
Dalan Tengah 2
Its Real Beauty

Ada anak kecil yang suka bernyanyi, salah satu lagu kesayangannya adalah ‘Naik Gunung’. Dulu saat ia masih kecil, yang ia tahu judulnya bukan ‘Naik Gunung’ tapi ‘Naik –naik ke puncak gunung tinggi –tinggi sekali’. Orang tuanya tidak setuju, mereka bilang bahwa judul lagunya salah,

“Lagu anak –anak macam apa yang punya judul panjang begitu?!” kata orang tuanya

Si anak tetep keras kepala. Bagi dia judul lagunya  tetaplah ‘Naik –Naik ke Puncak Gunung Tinggi –Tinggi Sekali’. Dia menyanyikan lagu tersebut dengan riang dimana saja, kapan saja, terutama saat ia sedang jalan –jalan dengan kedua orang tuanya dan melihat pemandangan gunung yang terhampar di depannya. Dia terus bernyanyi lagu yang tak pernah ia tahu siapa gerangan penciptanya. Liriknya kurang lebih seperti ini :

Naik – naik, ke puncak gunung
tinggi – tinggi sekali
Naik – naik, ke puncak gunung
tinggi – tinggi sekali

Kiri – kanan kulihat saja
banyak pohon cemara
Kiri – kanan kulihat saja
banyak pohon cemara

Continue reading “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 3 [ SEMANGAT MENGALAHKAN SEGALANYA]”

MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 2 [ ORANG –ORANG DIBALIK MIMPINYA]

 

Gapura Cunthel

Rombongan

AGN

Berjalan

Orang – orang – rasio

Hutan Damar

 

ZFR

          Aero terguncang –guncang didalam botol minum yang ada di sebuah tas. Didalam gelap. Yang ia tahu, orang yang sedang membawa tas itu sedang berjalan. Tak henti berjalan. Sesekali guncangannya keras. Dan Aero hanya berusaha pasrah. Karena begitulah ia harus memenuhi takdirnya sendiri.

ORANG –ORANG DIBALIK MIMPINYA

         Tidak lengkap rasanya kalau kita bicara soal catatan perjalanan tetapi tidak tahu siapa saja orang –orang yang ada dibalik perjalanan itu. Maka, kalau buku ‘5 cm’ punya voltus gank, di perjalanan Merbabu ini kita punya 9 manusia,  yang membuat perjalanan ini tidak pernah sepi dari hingar bingar, celaan, dan aib masing –masing.

And here we go, I proudy present

The people’s who make this jouney soooooo colourfull,

Continue reading “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA PART 2 [ ORANG –ORANG DIBALIK MIMPINYA]”

MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]

BUKAN PROLOG

Teringat dengan salah satu kalimat seorang kawan baik, di akhir sebuah perjalanan :

Pernah ga, lu berhenti berjalan sejenak? Bukan karena capek, tapi karena saking terpesonanya sama pemandangan yang ada di depan mata..

…Gua pernah..

Ficko Figama Irwan

 

Kalimat itu diambil dari salah seorang sahabat seperjuangan. Kalimat itu seperti berusaha menandakan dan memperlihatkan kemegahan yang Tuhan berikan di tiap sisi hutan –hutan pegunungan Merbabu. Salah satu tempat yang kembali membuat kami berani bermimpi untuk satu tujuan.

Dan mimpi itu kembali tertuang dalam catatan perjalanan ini,

Kami namakan ini “Merbabu dan Kisah 2 Saudara

Dan catatan ini untukmu, Kawan..

***

Di langit ada awan tenang yang tak bisa dipisahkan dari birunya horizon. Mereka indah berarak –arak riang. Bergerombol. Kadang saat mereka sedang gembira, mereka tak segan –segan memamerkan sekujur tubuhnya yang teramat putih, halus, dan tak tersentuh. Menaungi teduh, apapun yang ada di bawahnya.

Namun saat mereka marah dan tak enak hati, awan –awan yang semula cantik berseri –seri tadi tak lagi bersih. Mereka dengan bersama –sama serentak membuat langit menjadi hitam, kemarahannya tak sampai disitu, kadang mereka lontarkan kilat –kilat cahaya yang disusul auman petir yang menggelegar.

Lain halnya jika mereka sedih. Segenap alam semesta akan dibuatnya menangis. Hingga titik –titik air membanjiri mayapada. Air mata bidadari langit itu akan turun ke bumi menjadi hujan. Pasrah terhempas ke apapun yang ada di bawah sana. Jika beruntung titik –titik air itu meluncur menuju rerimbunan hutan, meresap ke dalam tanah, mengendap dan terdiam, menunggu untuk akar –akar tumbuhan menemukannya dan meresaplah ia kesana, si tumbuhan tau –tau akan jadi hijau segar dengan ranting yang kokoh.

Titik –titik air yang menjadi hujan lainnya jatuh di tempat yang berbeda. Yang malang akan langsung jatuh di saluran –saluran ibukota. Kotor, sampah berserakan, mampet dan bau. Yang lain bisa jatuh di banyak tempat, kali Ciliwung, atap mobil yang kemudian di gilas wiper yang kerjanya seumur hidup hanya bergerak ke kiri dan kanan, atau bisa juga jatuh di atap rumah, merembes ke langit –langit rumah karena bocor dan berakhir di ember atau panci yang dijadikan tatakan.

Bicara tentang titik –titik hujan. Di langit ada sebuah kisah tentang dua saudara. Mereka adalah titik –titik air bersaudara. Yang satu bernama Aero yang lain bernama Aera. Mereka naik kelangit bersama –sama karena sang matahari menyinari sebuah kubangan air bekas hujan yang menggenang di depan pos ronda di sebuah desa. Mereka menguap terkena cahaya sang matahari pagi itu. Setelah terbang ke langit dan mengendap menjadi awan. Angin kini menentukan nasib mereka. Angin yang berhembus melayang –layang itu memisahkan Aero dan Aera.

Tak tau ampun, Aero yang kini mengendap di awan terarak –arak menuju ke sebuah tempat bernama ibukota. Beruntung iya tak berakhir di kali ciliwung yang kotor atau selokan mampet. Hujan menghempaskannya ke pelataran rumput, rumah sebuah keluarga. Ia merembes menjadi air tanah, tersaring mesin pompa rumahan, direbus didandang, dan masuk ke botol minuman seorang perempuan muda, bersama titik air lainnya.

Lain hal dengan Aera, ia melayang terarak mengikuti arah angin membawanya pergi. Jauh meninggalkan tempat dimana ia bersama –sama Aero menguap. Ia terombang –ambing di langit. Melewati kota –kota dan desa –desa, hingga sampai di sebuah hutan hujan yang hijau. Lembah –lembahnya mempesona, langitnya biru lazuardi. Lalu diguyurlah hujan hujan itu dengan air yang tumpah dari langit. Turunlah Aera berserta ribuan titik –titik air lainnya ke muka bumi. Menyentuh tanah ibu pertiwi yang masih subur. Mengalir ke dalam tanah, berkumpul, beriak –riak menjadi sungai. Indah bukan buatan.

Lalu apa hubungannya cerita 2 saudara tadi dengan kisah yang akan dituturkan nanti? Berhubungan sekali, Kawan. Kisah Aero dan Aera tak lepas hubungannya dari Kisah 9 orang anak manusia yang lagi –lagi tergerak dari sebuah mimpi. Walaupun mereka tak menyadari, perjalanan mereka sedikit demi sedikit menentukan nasib 2 saudara tadi.

Stasiun Senen

Zhafar

Bus

Tidur

Smile, Sleep, and Happy

Continue reading “MERBABU DAN KISAH 2 SAUDARA [HIDUP HARUSNYA SEPERTI INI, KAWAN]”